Oleh: Abrari Alzael | Budayawan
Listrik mati. Lalu hidup. Tetap saja tidak bisa melihat, gelap. Sebab lelaki itu memejamkan mata. Candaan di ruang tamu itu cukup renyah. Mereka sama-sama tertawa, satu sama lain, saling bertatapan.
Dari perspektif awam, realitas ini sesungguhnya sangat sederhana. Tetapi cara pandang yang membuat segalanya berubah. Soal sikap ini, lantas memunculkan keiridengkian, curiga; menganggap yang lain lebih dari dirinya. Oleh sebab terlalu banyak mengurusi orang lain, banyak yang lupa berpikir tentang dirinya sendiri, dan ikut arus. Mereka merangsek, masuk ke dalam pusaran dengan menganggap dirinya harus larut, di situ. Akibat dari ini, ia mendefinisikan dirinya sebagai serigala, dan harus melolong, supaya ada yang mendengar; sebagai penjelas, bahwa ia ada, sebagai pemangsa.
Kenyataan ini, menggiring sebagian (besar) pihak sebagai pemain sandiwara. Ia ibarat tampil, di panggung, mengenakan topeng yang karakternya berbeda dengan dirinya. Begitu lekatnya topeng itu, seakan menempel, rekat dan dekap. Ia yang pada mulanya baik, menjadi revolusioner, bertingkah terbalik dari karakter awal, sebagai yang baik. Terus-menerus begitu dan tak terhentikan sampai jatuh sakit kemudian menenggak sakaratul maut.
Apakah ada yang memahami bila pelan tapi pasti, wajah-wajah beringas itu terjadi di sekitar kita. Yang merasa punya massa, dan dengan massa itu ia merasa gagah perkasa menyalahkan pihak lain. Yang berkuasa, ada yang dengan kekuasaannya itu memeras pihak lain yang tak berdaya. Yang kaya, merasa dirinya bisa membeli apa saja. Dus, hidup seakan-akan bisa dipola tergantung yang berjaya. Padahal, situasi ini menyakitkan, perih, memedih, dan melahirkan nestapa.
Inilah kisah dari sebuah peradaban, dimana banyak orang mencari hati dengan memberi upeti, keributan menjadi tradisi dan dewa keadilan menjadi etalase. Topeng-topeng itu direbut siapa saja. Topeng pengendali, untuk melindungi. Topeng kaku, sebagai sikap diri yang (seolah) perfeksionis. Topeng ketergantungan, tidak percaya diri tanpa (mengenakan) topeng itu. Topeng pelarian, lebih suka menyendiri dan menolak menjadi pusat perhatian. Topeng, penuh bopeng, membuat pemakainya seperti kuda nil, tidak bisa buang angin lewat duburnya, tetapi melalui bibirnya.
Inikah hidup itu sebagai manifestasi dari apa yang disebut sebagai persatuan? Rasa-rasanya persatuan itu lebih populer sebagai gabungan dari berbagai frase, diksi, yang bukan kehilangan makna, tetapi sudah nisbi manifestasi. Penggemarnya melarikan diri dari persatuan ke pertigaan atau bahkan perempatan. Konsistensi pada substansi simbol, larung dalam realisasi topeng kehidupan. Keberkahan ilahi, semburat di lorong-lorong gelap yang penuh lolong. Tak ada lagi tolong sebab lontong yang teriris tak lagi dibagi, kecuali ditimbun untuk senangi diri sendiri. Saat kecamuk mendedah itulah, seorang kawan berdeklamasi; Aku tak lagi melihat negeri, di sini, di bumi pertiwi.
Hujan turun. Lebat sekali. Angin kencang, bertiup keras, mencabut akar pepohonan, merobohkan rumah, tiang telpon, listrik, dan bahkan penyanggah kehidupan. Seperti itulah narasi, tentang topeng yang memberangus peradaban kontemporer. (*)