Oleh: MH. Said Abdullah (*)
Lebaran Idulfitri tahun ini kembali diwarnai aktivitas mudik dan balik yang diharapkan berjalan seperti tahun sebelum pandemi. Ada kegairahan dan kegembiraan luar biasa setelah dua kali Idulfitri, masyarakat yang ingin mudik bertemu sanak saudara tertahan pandemi Covid-19, yang terjadi sejak awal tahun 2020.
Sebelum pemerintah mengizinkan mudik sempat beredar berbagai kekhawatiran bahkan kecurigaan seakan pemerintah mempersulit pelaksanaan mudik. Termasuk misalnya, persyaratan keharusan masyarakat yang akan mudik melengkapi vaksin ketiga dituding sebagai akal-akalan pemerintah untuk melarang mudik. Padahal semua ‘rambu-rambu’ sepenuhnya demi kepentingan seluruh masyarakat sendiri agar selamat dari pandemi, yang belum sepenuhnya berakhir.
Kadang harus diakui merebak kecenderungan menyederhanakan persoalan pandemi. Padahal, dampak pandemi Covid-19, yang terjadi sejak awal tahun 2020 sungguh sangat dasyat. Hampir tak ada negara di dunia, yang tak tersentuh dampak pandemi terhadap seluruh kehidupan. Korban nyawapun di seluruh dunia sungguh sangat memilukan. Tak kurang sekitar 6,22 juta orang meninggal dunia. Angka inipun masih terus bertambah walau sudah sangat jauh berkurang.
Di Indonesia sendiri, sekalipun tergolong salah satu negara yang sukses dalam penanganan pandemi, angka kematian akibat terinfeksi Covid, tidak dapat dilihat sebelah mata. Lebih dari 6 juta masyarakat terinfeksi dan sekitar 156 ribu meninggal dunia. Belum lagi dampak terhadap kehidupan seperti ekonomi, pendidikan dan aktivitas kemasyarakatan lainnya.
Dari sini siapapun seharusnya menyadari bahwa kehati-hatian pemerintah ketika mengizinkan aktivitas mudik dengan berbagai persyaratan ketat serta tiada jemu himbauan mengingatkan agar mentaati Prokes tidak lain bertujuan agar pandemi, yang masih belum sepenuhnya berakhir, tidak lagi kembali meningkat. Terlalu besar resiko dan dampak dasyat bila pandemi kembali merebak seperti pertengahan tahun 2021.
Tudingan pemerintah mempersulit mudik jelas jauh dari pemikiran rasional. Justru pemerintah berkepentingan dengan aktivitas mudik masyarakat Indonesia. Melalui mudik, yang merupakan aktivitas budaya sekaligus ekonomi terutama di Pulau Jawa berkontribusi 58% PDB nasional dan memberi pengaruh signifikan terhadap perkembangan ekonomi daerah. Mobilitas orang dari pusat kota sebagai pusat ekonomi ke desa atau kampung halaman saat mudik dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Selain itu, secara ekonomi mudik mendorong tingkat konsumsi rumah tangga lantaran akan banyak sektor ikutan terdampak.
Selama pandemi rumah tangga menengah atas menahan tingkat konsumsi, mudik menjadi peluang tingkat konsumsi semua golongan rumah tangga. Bahkan konsumsi rumah tangga berkontribusi 57% PDB. Misalnya; transportasi, hotel, restoran, retail, hingga pedagang eceran. Apalagi, selama pandemi 2020, sektor-sektor ini sangat terpukul.Transportasi terkontraksi -15,4%, hotel (penyedia jasa akomodasi) -24,4%, restoran (penyedia jasa makanan) -6,68%. Jadi, sangat jelas bahwa pemerintah justru berkepentingan dilaksanakan aktivitas mudik. Karena itulah seluruh pihak terkait dikerahkan untuk mempermudah pelaksanaan mudik dan balik lebaran Idulfitri.
Namun di luar kebijakan pemerintah tetap sangat diperlukan partisipasi masyarakat mentaati ketentuan persyaratan mudik serta secara personal menerapkan Prokes. Jangkauan tangan-tangan pemerintah maupun pemerintah daerah untuk bertindak tegas mengontrol masyarakat sangat terbatas. Karena itu, diharapkan pemahaman dan kesadaran sendiri untuk terus menjaga kondisi yang sudah semakin membaik ini.
Seperti disampaikan Presiden Jokowi, silahkan masyarakat mudik pada Idulfitri tahun ini dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan bertemu sanak keluarga. Namun, jangan lupa memenuhi persyaratan mudik seperti telah vaksin lengkap serta saat berada di kampung halaman mentaati menerapkan Prokes. Jangan sampai akvitas mudik dan balik, setelah kembali ke aktivitas kesehariaan kegembiraan dan kebahagiaan berobah menjadi duka nestapa karena pandemi merebak kembali.
Kita dipersilahkan bergembira dan berbahagia bertemu sanak keluarga di kampung halaman. Namun tetap menjaga keselamatan diri, keluarga dan masyarakat keseluruhan. Mudik sehat dan selamat, demi Indonesia lebih baik. Selamat Idulfitri 1443 hijriah, semoga amal ibadah kita selama ramadan diterima Allah subhanahu wa taala sehingga menjadi energi spiritual untuk mewujudkan Indonesia hebat. (*)
*Ketua Banggar DPR RI.