Oleh : Abrari Alzael | Budayawan
Orang buta itu menyalakan obor, di malam hari. Ia berjalan menyusuri gelap. Dengan obor di tangan, sebenarnya ia tidak bisa membedakan antara pekat dan terang. Sama saja sebentuk gulita. Ia hanya melihat dengan rasa, dengan sanubari, menatap dengan hati.
Suatu ketika, seseorang melabelinya dengan sebutan dungu kepada si buta pembawa obor itu. Dalam perspektif orang yang tidak buta, orang buta membawa obor, di malam hari pula, tak ada gunanya, tak ada manfaatnya, muspro!
“Dengan obor itu, apakah saudara bisa melihat cahaya?,” katanya.
“Tidak. Namun setidaknya, orang yang tidak buta seperti Anda, dengan obor di tangan ini, tidak menabrak saya.”
Begitulah hidup pada akhirnya, tergantung cara pandang, terletak pada caranya memandang; perspektif. Anggapan setidakberharga apapun seseorang dalam pandangan orang lain, tetaplah ia memiliki makna. Bahwa seseorang tidak bisa menyingkap tabir untuk mengeja makna dan memahami tanda-tanda, di posisi itulah harus sadar diri bahwa setiap siapa pun memiliki keterbatasan.
Oleh sebab keterbatasan inilah, maka satu dengan yang lain butuh saling melengkapi. Bukan untuk meraih sempurna sebagai manusia, karena kesempurnaan manusia itu justru karena kekurangannya. Tetapi, untuk saling memahami bahwa tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri, dalam sepi, sunyi, yang perihnya lebih pedih daripada tertikam belati.
Ada banyak pihak yang lupa melihat orang lain karena terlalu asik memandangi dirinya sendiri. Akibatnya, ia alpa dalam memberikan apresiasi terhadap orang lain. Misalnya, orang bisa lupa terhadap orang lain karena merasa diri sebagai yang mahakaya. Ia juga bisa lupa karena merasa berkuasa, punya jabatan, punya kekuatan, merasa pandai, paling hebat, paling rupawan, dan merasa paling dari sisi apapun. Termasuk, seseorang dianggap sombong juga ketika menganggap dirinya paling miskin.
Realitas yang merasa paling ini, prilakunya kini bukan menjadi rahasia lagi. Aparat (oknum) karena merasa perkasa dan dengan begitu mudah menjungkalkan pengendara motor di jalan raya. Serdadu (oknum) yang gagah, dengan begitu mudah menendang warga sipil. Penegak hukum (oknum) dengan begitu mudah menjual pasal kepada yang bersedia membelinya. Penguasa (oknum) dengan begitu mudah menabrak kelaziman bahkan perundang-undangan yang dibuatnya sendiri.
Intinya, siapa saja (oknum) yang merasa dirinya paling, dapat melakukan apa saja di negeri ini. Rasa-rasanya, apa saja bisa dibeli di nusantara ini. Masalahnya, punya daya beli apa tidak? Tentu saja, kesimpulan ini hanya perspektif. Walaupun, yang terjadi hanya melibatkan oknum, bukan keseluruhan SDM dari satu atau beberapa buah institusi. Pertanyaannya, bagaimana jika oknum-oknum itu banyak habitatnya?
Apa sebenarnya yang diperlukan oleh nusantara ini? Jujur, profesional, proporsional, atau? Negara ini butuh semua yang diperlukan dalam kemajuan berbangsa. Jujur ya, profesional pasti, proporsional tentu saja. Tetapi, jangan lupa, negara juga butuh pada sesuatu yang tidak diperlukan; pengacau, destroyer. Hanya, populasi destroyer ini populasinya tidak boleh lebih dominan dibanding SDM yang berpikir konstruktif. Lalu bagaimana komposisi hari ini jika sandingkan antara kelompok konstruktif dengan kaum destruktif? Coba tanya ke Luhut, ia pasti memiliki big data. Atau tanya ke Rocky Gerung, terlihat sangat pintar dan karena itu selalu bilang dungu. Atau tidak usah tanya, sebab diantara kita sudah tahu apa yang diperlukan dan apa yang tidak seharusnya dilakukan, pada diri sendiri, pada orang lain, pada bangsa ini. (*)