Oleh: Abrari Alzael | Budayawan
Nenek bilang, ada tiga golongan yang tidak bisa dilawan; orang kaya, yang memiliki kuasa, dan orang gila. Sempat sejenak merenung, di mana nenek mendapatkan teori itu? Meski sudah lama sekali meninggal, tetapi teori itu memiliki kontekstualitas makna, bahkan, sampai hari ini.
Seorang ekonom India, mantan jurnalis, dan kolumnis, Prem Shankar Jha, mengulas dalam Mafia Hukum Kuasai India (01 Maret 2020). Pria yang pernah bertugas di Program Pembangunan PBB, Bank Dunia, dan penasihat informasi untuk perdana menteri India itu, menganggap persekutuan akan melahirkan kekuatan dan kekuasaan, untuk melakukan apa saja; sekanibal apapun.
Dituliskan, suatu ketika, kesedihan tak berujung. Kehidupan yang genting, semakin dirusak wabah; kerusuhan, pembakaran, dan pembunuhan komunal terburuk yang dialami Delhi sejak kerusuhan anti-Sikh yang mengikuti pembunuhan Perdana Menteri Indira Gandhi. Kerusuhan dimulai sebab keterkejutan, curahan dan kemarahan spontan atas pembunuhan seorang perdana menteri. Di luar kejadian itu, di timur laut Delhi, tidak ada yang spontan tentang kebakaran besar. Apa yang dialami kota ini sebentuk serangan gencar yang direncanakan terhadap rakyat yang menentang Undang-Undang Amendemen Kewarganegaraan (CAA) dan undang-undang saudara kandung yang menakutkan, National Register of Citizens (NRC).
Unjuk rasa terus berlangsung, menentang undang-undang itu. Sekelompok pemuda yang mengancam, membawa batu, tongkat besi dan tongkat besi, berkumpul di salah satu lokasi di sebuah daerah bernama Maujpur, dan mulai melempari para demonstran dengan batu. Menjelang sore, lima orang tewas dan 78 lainnya cedera dalam bentrokan yang terjadi. Polisi khas India, datang di tempat kejadian perkara, berusaha mencegah kekerasan.
Di hari berikutnya, aksi demonstrasi, tandingan, turun jalan. Di hari itu juga, polisi membiarkan demonstran ini menjarah toko warga yang berunjuk rasa sehari sebelumnya. Para polisi itu tidak melakukan apa-apa karena pasar yang sedang berkembang telah menjadi abu. Kios-kios di pinggir jalan, kereta troli, dan becak sepeda, yang memungkinkan para korban untuk mulai mencari nafkah lagi, telah dihancurkan berkeping-keping.
Di India, polisi tidak sepenuhnya netral. Beberapa video menunjukkan mereka mengambil batu untuk dilemparkan ke kerumunan di depan mereka, dan menghancurkan kamera video sudut jalan yang dibuat pemerintah Delhi untuk mengekang kejahatan, terutama terhadap perempuan, dirusak, dan dibiarkan pula. Apa yang membuat polisi mengabaikan tugas mereka untuk menegakkan hukum dan mulai melanggar hukum? Orang-orang telah mendapat pesan: Peradilan India juga telah menyerah pada kekuatan brutal pemerintah dan tidak lagi menjadi pilar ketiga demokrasi. Bersyukur sekali, di negeri ini, aparat yang baik, tetaplah menjadi baik. Yang tidak baik, mereka hanya oknum. Aparat yang sudah purna sekalipun, yang baik, mereka tetaplah baik. Bahwa ada diantara yang purna tugas seakan-akan merasa dirinya masih aktif dan berkuasa; ia tetap merasa berkuasa. Bahkan perasaan berkuasa itu dianggap melampaui presiden sekalipun. Padahal, ia paham, bahwa negeri ini bukan sebentuk batalyon. Tetapi kuasa atas diri yang ditopang para penyanggah yang tak bisa dilawan sebagaimana kata nenek di alenia pertama, membuatnya semakin merajalela dan menembus rasa malu sebagai orangtua. (*)