Oleh: Abrari Alzael | Budayawan
Sebagian anak-anak kecil dulu, memiliki antipati terhadap sejumlah profesi seperti dokter, polisi, dan tentara. Saat anak menangis, orangtua mereka mengancam; ada dokter dan akan menyuntik (yang menangis), ada juga polisi akan menembak, dan begitu pula tentara yang membawa senjata. Mendengar nama dokter, polisi dan tentara disebut, anak yang menangis seketika terdiam, sambil melihat sekelilingnya.
Ketika di sekitar mereka tidak menemukan dokter, polisi dan tentara, anak kecil itu ngegas, menyaringkan tangisannya. Sedangkan orangtua, tidak mau kalah. Ia meminta koleganya untuk mengiyakan bahwa memang ada tentara, polisi, dan dokter. Sekadar meneruskan niat agar anak kecil berhenti menangis. Tetapi, orangtua lupa bahwa satu kebohongan memerlukan kebohongan yang lain. Tesis ini terbukti, dalam kasus ini, orangtua melakukan berkali-kali kebohongan.
Pertama, soal dokter yang gemar sekali menyuntik, polisi yang suka menembak, dan tentara yang seringkali membawa pistol. Kedua, tidak adanya dokter, polisi dan tentara di sekitar anak yang menangis. Ketiga, orangtua masih meminta tolong kolega untuk mengiyakan kebohongannya. Lipatan kebohongan orangtua ini hanya berhadapan dengan anak kecil yang menangis. Bisa dibayangkan jika orangtua berhadapan dengan orangtua, jurus apa yang hendak digunakan.
Tokoh sekelas Franklin pernah berbohong mengenai dirinya yang berhasil memahami petir dengan hanya bereksperimen menggunakan layang-layang. Menurut sejumah ilmuwan, Franklin merupakan sebuah keniscayaan dari segi ilmu pengetahuan. Duta besar pertama AS untuk Prancis itu ternyata juga andal menciptakan kebohongan dalam bidang jurnalisme. Pada 1782, ia memproduksi sebuah koran palsu dengan berita yang berisi tentang penemuan kulit kepala di permukiman Indian-Amerika. Tujuan Franklin membuat koran palsu itu hanya untuk kelakar pribadi semata dan menyebar ketakutan bagi kalangan penduduk Indian. Tak dinyana, sang bapak bangsa AS itu berhasil.
Tokoh lainnya yang pernah berbohong sebagai orangtua, Henry VIII, Sang Raja Inggris juga diriwayatkan melakukan sejumlah kebohongan untuk menutupi hubungannya dengan perempuan lain. Bahkan, untuk menutupi kebohongan tersebut, Henry VIII dilaporkan tega memenggal perempuan tersebut. Henry VIII tega membunuh istri pertamanya karena tak mampu memberikan keturunan untuk sang raja. Karena perceraian merupakan hal yang tabu dan dilarang gereja, Henry VIII tega memenggal istri pertama agar ia bisa menikahi perempuan lain yang memiliki potensi besar untuk memberikan keturunan. Ternyata, perempuan kedua yang ia nikahi juga tak mampu memberikan keturunan. Maka apa yang dilakukan Henry VIII?
Ia memfabrikasi kisah isapan jempol dengan menyebut istri keduanya sebagai seorang penyihir. Alhasil, perempuan malang itu pun dieksekusi. Kebohongan itu mampu bertahan hingga beberapa abad kemudian karena status Henry VIII sebagai penguasa Britania Raya. Namun, kini kebohongan tersebut sudah terbongkar lewat keterangan sejumlah sejarawan. Pria yang terkenal sebagai pelopor serial televisi Ripley’s Believe It or Not itu sangat menghayati kebohongan hingga ke urat nadinya.
Kelihaiannya dalam memfabrikasi kisah isapan jempol membuatnya mampu mengkreasikan tayangan televisi yang cukup populer di Amerika Serikat tersebut. Ripley mengklaim dirinya sebagai penemu dan penjelajah seluk beluk dunia unik. Selama perjalanannya menjelajahi beberapa sudut Bumi, ia kerap mengklaim menemukan sejumlah hal atau fenomena absurd yang sulit diterima akal sehat.
Namun, menurut Vanity Fair, sejumlah temuan Ripley hanyalah kisah palsu yang difabrikasi atau hoaks. Beberapa kisah atau fenomena seperti, manusia bertanduk, atlet golf tanpa tangan, perempuan berlidah garpu, dan lain-lain, merupakan sebuah kisah isapan jempol semata. Meski begitu, serial televisi hingga wahana wisata berbasis pengalaman Ripley menemukan hal absurd, tetap laris manis di Negeri Paman Sam. Ia dijuluki sebagai Bapak Sejarah. Namun, menurut List Verse, ia juga layak dijuluki sebagai Bapak Kebohongan. Membandingkan cara orangtua berbohong di republik ini dengan orangtua di negeri yang lain, kelasnya beda, sebagaimana film. Film mainan di negeri lain, digarap secara serius. Sedangkan film serius di negeri ini, dibuat main-main. Maka, jika harus menjadi pembohong, disarankan menjadi pembohong yang baik. (*)