SAMPANG, koranmadura.com – Daerah Pulau Mandangin, Kecamatan Sampang kota, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, lagi-lagi dibanjiri sampah, bahkan tampak seperti pulau sarang sampah.
Keberadaan sampah di Pulau Mandangin sejatinya diresahkan sejumlah warga karena hampir di sudut pulau tersebut dipenuhi sampah yang berserakan dan terkesan tanpa ada penanganan serius oleh pemerintah desa maupun daerah.
Parmadi, warga pulau Mandangin mengaku kondisi sampah di Pulau Mandangin sangat memprihatinkan, lantaran keberadaan sampah setiap tahunnya semakin menumpuk seiring bertambahnya kepadatan penduduk pulau mandangin yang jumlahnya sudah mencapai belasan ribu jiwa. Sehingga dengan kondisi tata letaknya yang berada di kepulauan menjadikan tidak berimbang antara kepadatan penduduk dengan lahan yang ada.
“Yang jelas bertambahnya penduduk menjadikan lahan di Pulau Mandangin menjadi sempit. Begitu pula hasil sampah di Mandangin juga menjadi menumpuk dan berserakan. Nah, kondisi itu pula diperparah dengan tidak adanya tempat pembuangan sampah yang terpusat beserta pengelolaan sampahnya,” paparnya kepada koranmadura.com, Kamis, 12 Mei 2022.
Dengan kondisi demikian, Mas Aar sapaan akrab Parmadi mengungkapkan bahwa ada kebiasan masyarakat setempat membuang sampah di bagian utara pulau Mandangin, karena terdapat lahan kosong dan juga seringkali membuangnya langsung ke laut.
“Tapi, sampah di Mandangin bukan hanya dari masyarakat sana, melainkan pula sampah-sampah kiriman dari luar pulau. Dan biasanya sampah luar pulau yang dibuang ke laut akan terdampar atau hanyut ke Mandangin ketika tiba musim angin disertai arus laut yang deras,” jelasnya
Pemuda asli Pulau Mandangin ini berharap kepada pemerintah desa, kabupaten hingga pemerintah pusat yakni adanya terobosan penanganan sampah hingga ke pengelolaan sampah. Sebab menurutnya, hingga saat ini penanganan sampah di Pulau Mandangin dinilainya kurang maksimal lantaran masih belum ada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang terpusat serta optimalisasi pengelolaan sampah untuk dijadikan barang-barang bernilai ekonomis.
Ia pun menyampaikan sejatinya di Pulau Mandangin terdapat sejumlah personel kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH), namun hasil pungutan sampahnya hanya dibuang begitu saja tanpa adanya tindakan pengeleolaan yang serius. Sehingga ketika musim angin tiba, sampah yang dibuang di lahan kosong tersebut kembali beterbangan ke pemukiman.
“Kita ingin adanya TPA terpusat agar keberadaan sampah tidak berserakan. Karena ketika musim angin tiba, sampah di Mandangin beterbangan dan bau busuk menyengat juga tercium ke pemukiman. Memang sudah ada petugas kebersihan dari DLH, tapi masih kurang maksimal karena tidak ada pengelolaan sampah yang serius. Sebab tidak mungkin warga Mandangin akan membuang sampah ke luar pulau, sehingga perlu adanya edukasi oleh pihak pemerintah,” ungkapnya.

Sementara Kabid Kebersihan dan Persampahan DLH Kabupaten Sampang, Akh. Syarifuddin saat dikonfirmasi mengaku sudah berupaya semaksimal mungkin untuk penanganan sampah di Pulau Mandangin. Pihaknya sudah memiliki 13 personel kebersihan di Pulau Mandangin, 11 personel bagian pasukan kuning dan 2 personel bagian pengelolaan sampah di Tempat pengelolaan Sampah Reuse-Reduce-Recycle (TPS3R)
“Petugas kami sudah berupaya bekerja semaksimal mungkin. Bahkan petugas kebersihan mendatangi rumah-rumah warga untuk mengambil sampah warga. Cuma memang kami kesulitan lahan untuk TPA di Mandangin karena di sana sudah padat penduduk. Sedangkan kami hanya memiliki satu lokasi TPS3R,” jelasnya.
Pihaknya tidak memungkiri, banyaknya sampah di Pulau Mandangin selain dihasilkan dari padat penduduk setempat, juga berasal dari luar Pulau Mandangin. Pihaknya juga mengaku sudah melakukan pengelolaan sampah di TPS3R dengan cara dilakukan pemilahan sampah agar bisa dikelola kembali menjadi barang bernilai ekonomis. Sedangkan sampah yang tidak bisa dikelola nantinya akan dibuang di lokasi bekas galian.
“Kalau sampah beterbangan dan baunya ke ke pemukiman, kami rasa tidak, karena sampah di sana sudah dilakukan pengelolaan. Kami juga berharap masyarakat juga sadar lingkungan, agar sampah yang dihasilkan tidak dibuang ke laut. Karena sampah di sana, selain dari penduduk setempat juga berasal dari kiriman luar pulau,” paparnya.
Lanjut Syarifuddin mengaku, untuk pengelolaan sampah secara keseluruhan juga terkendala anggaran yang dirasanya masih minim. Pihaknya membeberkan, untuk jumlah sampah yang dihasilkan di Kabupaten Sampang yang terhitung masuk ke lokasi TPA yaitu diperkirakan mencapai kurang lebih hingga 30 ton setiap harinya, dengan rincian 25 ton sampah untuk wilayah daratan Sampang, dan 5 ton sampah terhitung berasal dari wilayah Pulau Mandangin dan wilayah Pantura Sampang.
“Untuk Volume sampah yang dihasilkan di Kabupaten Sampang mencapai 25 sampai 30 ton per harinya,” pungkasnya. (MUHLIS/DIK)