Oleh: Abrari Alzael | Budayawan
Semua akan pergi, untuk sementara, atau tidak kembali lagi. Tak satu pun yang dibawa, atau diikutsertakan. Barang yang berharga atau tahta bermahkota, tetapi untuk siapa, untuk apa? Apakah masih ada gunanya? Mungkin saja.
Di daratan itu, orang-orang berjibaku, meraih yang ingin direngkuh; dengan angkuh, cemooh, riuh, dan baku bunuh. Ada juga yang landai, dengan keadaan berdamai, dengan langkah gontai. Bermacam cara dilakukan untuk asa, terkatakan atau terdiamkan. Yang santai, yang berjisingkat, semua akan tiba pada waktunya, untuk bahagia atau sengsara. Neraka atau nirwana, sebentuk simbol dari sebuah tuju; nestapa atau bahagia, dengan cara yang tidak biasa. Sebab semua tangan akan bicara sendiri, kaki juga akan berkata-kata pada jutaan argumentasi yang terkunci, saat itu.
Sekaya-kayanya siapa saja, seberjaya-jayanya siapapun itu, akan tiba, pada markanya, pada tempat titik berhentinya senja, pada waktunya. Ada yang menyesal, sesesal-sesalnya, tetapi untuk apa? Ada yang kegirangan tak terkira, merasa menaklukkan belantara, menundukkan raja rimba, atau menjungkalkan siapa saja yang dianggapnya rintangan, hambatan, ancaman, hambatan, atau tantangan siapa saja. Dus, semua bebas berekspresi, sebagai warga, sebagai pemeluk agama, atau sebagai apa saja.
Pada sebuah tayangan televisi, pada tanggal 5 Oktober 2011, Steve Jobs, meninggal dunia. CEO Apple Tim Cook kemudian mengirimkan surat elektronik pada para karyawannya. “Aku punya berita yang sangat menyedihkan yang akan disampaikan pada kalian semua. Steve Jobs meninggal dunia hari ini,” tulisnya. Apple telah kehilangan seorang jenius yang visioner dan kreatif, dan dunia telah kehilangan seorang manusia yang luar biasa.
Pihak keluarga menyebut, Steve Jobs meninggal dengan tenang, dikelilingi anggota keluarga. Belakangan, eulogi menyentuh yang disampaikan sang adik, Mona Simpson menguak detik-detik terakhir kehidupan sang pendiri Apple.
Simpson menceritakan di saat-saat terakhirnya, Jobs mengucapkan serangkaian kata yang terdengar misterius. Di penghujung napasnya, Jobs menatap istri dan anak-anaknya, lalu pandangannya tertuju ke sebuah titik nun jauh di sana. Ia lalu mengucapkan, “Oh, wow. Oh, wow. Oh, wow…”
Kata-kata terakhir Steve merupakan kata yang diulang tiga kali. Seperti dikutip dari Daily Mail, tak jelas siapa atau apa yang ditatap Jobs sebelum menghembuskan nafas terakhir itu. Sebelumnya, ia menatap adiknya, Patty, kemudian untuk waktu yang cukup lama pada anak-anaknya, kemudian menatap pasangan hidupnya, Laurene. Tatapannya mengarah ke atas bahu mereka, ke sebuah titik, sebelum mengucapkan kata terakhir itu.
Saat meregang nyawa, Jobs terlihat seperti sedang mendaki. Nafasnya menunjukkan ia sedang menempuh perjalanan berat, berliku, tinggi, terjal dan curam. Laurene Powell Jobs, istrinya, yang terus berada di sisi tempat tidurnya, beberapa kali tersentak ketika terjadi jeda panjang di antara napas Jobs, sesaat sebelum suaminya tak bisa bernafas lagi, walau dibantu dengan alat, secanggih apapun.
Begitu pula, Sultan Oman, Qaboos bin Said meninggal pada Jumat, 10 Januari 2020 dalam usia 79 tahun. Ia pemimpin terlama Oman, hampir 50 tahun. Reuters.com mengabarkan, Sultan naik jabatan setelah melakukan kudeta berdarah (1970) atas bantuan dari Inggris. Tetapi sakit yang menjadi penyebab kematiannya, tidak pernah terjelaskan sakit apa, tetapi hanya disebut sakit menahun(?). Tetapi, awal Desember 2019, sempat diterbangkan ke Belgia untuk menjalani perawatan. Jobs pergi, Qaboos tidak kembali, nanti siapa lagi, pasti ada, dari sebangsa kita dengan cerita yang sama atau dengan ekspresi yang sama sekali, berbeda. (*)