Oleh : Miqdad Husein
Kunjungan Presiden Jokowi ke Amerika Serikat untuk hadir dalam ASEAN-US Special Summit di Washington D.C pada 12-13 Mei 2022 sangat menarik dicermati. Bukan soal terkait langsung dari kunjungan itu, melainkan perbincangan di media sosial, yang sungguh sangat mencengangkan. Timbul tanda tanya, apa sebenarnya yang terjadi pada sebagian masyarakat negeri ini.
Mungkin kata itu belum cukup menggambarkan realitas yang terjadi di media sosial seperti twitter, facebook, istagram dan lainnya. Respon nitizen memperlihatkan suasana perdebatan mengarah pada persaingan sehingga seakan terkesan sedang terjadi pertarungan pemilihan presiden. Ya, aroma Pilpres sangat terasa.
Mereka, terutama yang anti Presiden Jokowi, dengan segala cara menggambarkan bahwa kunjungan ke Amerika Serikat ternyata kurang mendapat respon memadai. Presiden Jokowi disebut-sebut kurang dihormati oleh Presiden Amerika Serikat Joe Biden. Lalu, foto-foto dipajang, tentu saja, yang menimbulkan kesan kurang penghormatan.
Bisa dibayangkan jika sekaliber intelektual Shamsi Ali, M. Said Didu, yang secara sosial tergolong elite memposting foto-foto yang mengesankan kurangnya penghormatan kepada Presiden Jokowi.
Sebuah foto misalnya memperlihatkan Presiden Jokowi, berada di tengah-tengah Presiden Joe Biden, yang sedang berbicara dengan pemimpin Brunai Darussalam, sebelahnya kepala negara lain. Presiden Jokowi, digambarkan ‘dicuekin.’
Tidak jelas dari mana foto itu diambil.
Sangat mungkin dari adegan video, pada salah satu momen ketika para kepala negara bersiap-siap foto bersama atau apalah. Lalu, diambil melalui screnshot, pada bagian situasi itu yang sejalan kepentingannya. Jadi artinya, foto yang dipajang jauh dari konteks keseluruhan proses acara.
Mengherankan. Tapi itu belum cukup. Bertebaran pula hoax, disertai foto bahwa Presiden Jokowi saat sampai di Amerika Serikat hanya disambut oleh Duta Besar Indonesia sedang Perdana Menteri Singapura disambut langsung oleh Joe Biden.
Luar biasa bukan. Aroma Pilpres benar-benar masih sangat terasa. Mereka ekspresikan ketaksukaan seakan persaingan Pilpres masih berlangsung. Bisa dibayangkan jika kalangan elit saja seperti Shamsi Ali, M. Said Didu dan beberapa tokoh lainnya, masih memperlihatkan sikap belum move on. Apalagi masyarakat akar rumput, yang kurang mengetahui masalah secara keseluruhan.
Respon para pendukung dan pembela Presiden Jokowipun akhirnya tumpah ruah. Mereka merasa sosok yang didukung dan dihormati dilecehkan. Lalu, sebagai reaksi merekapun mencoba memberikan gambaran riil tentang situasi yang sebenarnya baik melalui video maupun foto-foto. Ditambahkan pula pertemuan Presiden Jokowi dengan Elon Musk, salah satu penggagas dan penentu tren teknologi dunia.
Sebenarnya bukan hal luar biasa mengkritisi kunjungan seorang Presiden ke negara lain. Apakah menyangkut aspek politiknya, misalnya, terkait kepentingan diplomasi Indonesia dan hal lainnya. Wajar saja. Menjadi tidak wajar ketika yang menjadi pusat perhatian hal-hal bersifat elementer, apalagi kemudian dibumbui berbagai retorika bernada melecehkan.
Sebuah gambaran masih belum siap menerima fakta bahwa Jokowi adalah Presiden Indonesia. Mereka masih hidup dalam alam persaingan sehingga dengan segala cara mencoba merendahkan dan melecehkan Jokowi melalui foto-foto jauh dari konteks dan bahkan hoax.
Jika kondisi normal, jika ingin mengkritisi misalnya, mempertanyakan hasil dari kunjungan. Apa ole-ole investasi dari kunjungan Presiden Jokowi yang diharapkan memberikan suntikan perbaikan ekonomi setelah masa pandemi. Atau, yang bernuansa politik, apa konsepsi yang ditawarkan Presiden Jokowi, ketika menghadiri acara pertemuan. Apakah memberikan pengaruh luar biasa terhadap konstelasi politik dunia atau kurang mendapat respon. Silahkan dikritisi jika memang ada yang dianggap kurang optimal dari kunjungan Presiden Jokowi.
Ironis memang, ketika dunia demikian terpesona terhadap sikap tegas dan lugas Presiden Jokowi, yang tetap mengundang Presiden Rusia dan Presiden Ukrania pada acara KTT G20 di Bali, di negeri ini sebagian masyarakat masih sibuk hal-hal, yang memperlihatkan kondisi sosial belum move on. Ketika banyak kalangan dunia terperangah penuh kekaguman terhadap keteguhan Presiden Jokowi dalam menerapkan dan menjunjung tinggi kebijakan politik bebas aktif, masih saja hal yang merebak perdebatan berarorama Pilpres.
Berbagai kalangan tokoh dunia kini sedang mempertimbangkan mengusulkan Presiden Jokowi mendapatkan hadiah Nobel Perdamaian, jika sukses mendamaikan Rusia dan Ukraina. Sebab, konsistensi sikap Presiden Jokowi itu sungguh sangat luar biasa, karena bertolak belakang dengan sikap dan kebijakan negara adi kuasa Amerika Serikat serta beberapa negara Eropa. Tetapi Presiden Jokowi kukuh bersikap istiqomah.
Mungkin, masyarakat yang masih belum move on, atau yang masih saja menebar berbagai kebencian kepada Presiden Jokowi, perlu belajar dari pengalaman demokrasi di Amerika Serikat dan beberapa negara lainnya. Di sana persaingan Pilpres sangat dasyat. Namun, begitu Pemilu usai semua kembali bersatu.
Satu lagi, ketika seorang Presiden sedang bekerja keras untuk kepentingan negara, mereka tidak lagi bicara perbedaan politik, apalagi yang ecek-ecek. Mereka bersatu memberikan dukungan. Jika untuk kepentingan negara, baju perbedaan partai disingkirkan. Demikian seharusnya sikap seluruh rakyat Indonesia, ketika Presiden Jokowi konsisten menerapkan kebijakan politik luar negeri bebas aktif.
Dukungan itu penting, karena tak sedikit yang berusaha menghalangi ketegasan sikap Presiden Jokowi.