KORANMADURA.com – Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, selain dikenal sebagai sentra penghasil garam terbesar di Madura, juga menjadi pusat produksi tembakau. Di wilayah tersebut, setiap tahun setidaknya proyeksi tanam tanaman itu mencapai 48 ribu hektar dengan total jumlah target produksi mencapai 18 ribu ton tembakau rajangan.
Tidak heran, jika hampir semua perusahaan rokok besar di Indonesia, memiliki kuasa pembelian tembakau di Pamekasan. Misalnya PT. Gudang Garam, PT. Sampoerna, PT. Nojorono, PT. Wismilak, PT. Sukun Malang, PT. Djarum, PT. Bentoel dan beberapa pabrik rokok lainnya. Itu belum termasuk pabrik rokok lokal di Pamekasan.
Sementara ini, pemasaran tembakau Madura, khususnya Pamekasan, masih mengandalkan pabrik rokok. Sebab, jenis tembakau yang dikembangkan di wilayah tersebut dinilai cocok sebagai bahan baku utama rokok, terutama rokok kretek.
Varietas Prancak 95 dan Varietas Cangkring, merupakan varietas tembakau semi aromatik yang aromanya harum dan cocok untuk bahan utama kretek. Dua varieras itu yang dibudidaya petani Madura, varietas Prancak 95 untuk lahan dataran tinggi, sementara varietas Cangkring untuk lahan dataran rendah.
Di Jawa Timur, terdapat beberapa daerah penghasil tembakau aromatik. Diantaranya Paiton (Probolinggo), Besuki dan Kayumanis (Situbondo), Tambeng (Bondowoso) dan Jenggawah (Jember).
Namun, tembakau dari beberapa daerah tersebut hanya akan menjadi campuran racikan rokok, sementara bahan utamanya tetap menggunakan tembakau Madura.
“Keunggulan tembakau Madura karena kadar airnya yang tidak terlalu tinggi sehingga aromanya lebih kuat dibanding tembakau sejenis dari luar Madura,” kata Ketua Asosiasi Petani Tembakau Rakyat (APTR) Jawa Timur, Musahnan, di Pamekasan, Selasa (29 Juni 2022).
Kondisi tanah di Madura yang sebagian besar merupakan lahan tadah hujan, kata dia, sangat mendukung budidaya tembakau aromatik, yang lebih menonjolkan aroma disamping rasa. Apalagi sebagian besar areal tanam menggunakan tanah perbukitan berbatu yang hasil produksinya dikenal dengan istilah tembakau gunung.
Hal tersebut yang menyebabkan harga tembakau Madura cukup tinggi dibanding dengan tembakau sejenis dari daerah lain di Jawa Timur. Tahun lalu, harga tembakau rajangan di Pamekasan untuk semua varietas berkisar antara Rp. 40 ribu hingga Rp. 65 ribu perkilogram.
“Harga tersebut di atas harga rajangan tembakau Jawa yang rata-rata Rp. 35 ribu perkilogram,” kata Musahnan.
Itu sebabnya, sebagian besar petani di Madura, masih mengandalkan tembakau sebagai tanaman utama saat menjelang musim kemarau. Mereka akan menggunakan sisa endapan air hujan di embung arau sumur resapan untuk menyiram tembakau.
Meski ada tananan lain yang cocok untuk ditanam di akhir musim penghujan, seperti melon, semamgka atau blewah, namun mereka tetap memilih menanam tembakau karena dianggap lebih menjanjikan.
Apalagi, pada musim panen, tidak jarang tanaman mereka sudah dibeli para tengkulak sebelum dipanen meski dengan harga yang lebih murah dibanding dijual dalam bentuk tembakau rajangan.
“Kami juga enggan beralih ke jenis tembakau lainnya, seperti jenis oven yang menjadi bahan utama rokok cerutu,” kata Ahmad Khoiri, salah seorang petani tembakau asal Pamekasan.
Menurutnya, keuntungan menanam tembakau jenis Prancak dan Cangkring, karena dua jenis tembakau tersebut apabila disimpan dalam bentuk rajangan kering, semakin lama disimpan aromanya akan semakin kuat, dan harganya semakin mahal.
Sehingga, meski hasil rajangan tidak laku ke pabrik rokok, masih bisa dijual untuk bahan rokok linting, atau dijual ke tengkulak yang memiliki gudang penyimpanan untuk dijual kembali di tahun depan.
Beberapa tahun lalu, jelas Khoiri, salah satu perusahaan rokok berencana melakukan budidaya tembakau non aromatik di Kabupaten Pamekasan dan mengajak kerjasama kelompok tani setempat.
Meskipun fasilitas yang ditawarkan cukup bagus, namun rencana tersebut batal dilaksanakan karena tidak ada tanggapan positif dari petani.
Itu disebabkan, jelas Khoiri, karena jenis tembakau yang biasa digunakan sebagai pembungkus cerutu tersebut jika tidak terbeli perusahaan rokok, akan sulit dipasarkan di pasaran lokal.
Selain itu, lahan yang digunakan harus memiliki kandungan air yang cukup, sementara di sebagian besar lahan pertanian di Madura merupakan lahan tadah hujan dengan kandungan air sedang.
“Sementara petani tembakau di sini masih mengandalkan pabrik rokok, dan jika tembakau mereka tidak terbeli oleh pabrik mereka berharap bisa dijual di pasaran lokal untuk bahan rokok lintingan,” katanya.
Bagi petani tembakau Madura, varietas Prancak dan Cangkring yang merupakan jenis tembakau semi aromatik masih menjadi andalan dalam budidaya tembakau. Bahkan, tanaman tersebut, dijuluki si daun emas, karena setelah panen mereka bisa membeli emas untuk tabungan.
Tembakau Campalok
Di Madura, terdapat satu jenis tembakau yang terkenal sangat langka dan harganya sangat mahal, tembakau Campalok, atau biasa juga disebut tembakau Bakeong.
Tembakau yang dikenal dengan kekhasan aromanya itu, hanya ditemukan di Desa Bakeong, Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep.
Tembakau tersebut hanya dijual ke kalangan tertentu. Selain karena harganya yang mahal, produksi tembakau tersebut sangat terbatas. Hanya 20 sampai 30 kilogram pertahun dengan harga Rp. 3,5 juta perkilogram.
Sekilas, tidak ada perbedaan antara Tembakau Campalok dengan tembakau lainnya. Apalagi tembakau tersebut berasal dari varietas Prancak, varietas tembakau aromatik yang biasa dibudidaya petani Madura pada umumnya.
Namun saat mencium tembakau tersebut dan membandingkan dengan tembakau lain dengan varietas yang sama, aromanya terasa lebih kuat dan lebih harum.
Pemilik lahan tembakau Campalok, Sajae, mengatakan tembakau di lahannya dikenal sebagai tembakau terbaik di Madura, sejak ia masih usia kanak-kanak. Terlepas dari mitos bahwa lokasi budidaya tembakau Campalok itu merupakan bekas tempat istirahat Potre Koneng, tokoh dalam legenda Kerajaan Sumenep, kata dia, yang pasti tembakau di lahannya itu memang dibeli dengan harga sangat mahal.
“Saya sendiri tidak tahu awalnya bagaimana. Yang pasti, sejak masa orangtua saya, tembakau di tanah kami sudah dibeli dengan harga yang mahal dan pemesannya orang tertentu,” katanya.
Sampai saat ini, tembakau produksi di lahan yang luasnya tidak sampai 1 hektar itu hanya dijual ke beberapa orang, enam orang merupakan pelanggan tetap dan beberapa orang lainnya pembeli umum yang semuanya merupakan orang berkelas di Jawa Timur.
Salah satu pelanggan Tembakau Campalok, Fatoni, mengatakan tembakau tersebut berbeda dari tembakau varietas Prancak yang ditanam di lahan lain, karena aeomanya sangat kuat.
“Bahkan, saat menjelang panen aroma dari daun tembakau sudah tercium saat melewati pematang,” katanya.
Biasanya, jelas dia, para pelanggan membeli tembakau Campalok untuk dicampur dengan tembakau sejenis setelah selesai dirajang atau untuk digunakan sendiri sebagai bahan rokok lintingan.
Ketua Asosiasi Perani Tembakau Rakyat (ATPR) Jawa Timur, Musahnan, mengatakan kualitas tembakau yang berada di Dusun Jambangan, Desa Bakeong tersebut mahal karena kondisi tanahnya yang sangat sesuai dengan tanaman tembakau varietas Peancak 95. Sebab, varietas yang ditanam merupakan varietas yang sama dengan tembakau lain yang ditanam petani di lahan sekitarnya.
Ia mencontohkan tembakau Tambeng di Kabupaten Bondowoso dan Kayumanis di Situbondo yang memiliki kekhasan aroma sehingga harganya sangat mahal.
“Ini sepertinya sama dengan tembakau Tambeng dan Kayumanis yang hanya ada di satu lahan tertentu dan harganya juga mahal. Menurut saya karena faktor tanahnya,” kata Musahnan. (g. mujtaba/ROS/VEM)