Oleh: Abrari Alzael | Budayawan
Proklamator RI, Soekarno, mengatakan, perlawanan terbesar dalam sejarah, bukan karena berhadapan dengan penjajahan, kolonialisme. Tetapi, musibah terbesar bagi sebuah negeri, manakala berhadapan dengan bangsanya sendiri.
Memang, Bung Karno, menyampaikan itu saat masih hidup. Tetapi, keyakinan Bapak Bangsa tersebut, benar adanya, setidaknya, sampai hari ini. Indonesia, bumi yang dipijaki 270 juta penduduknya, memasuki era dimana warga republiken merasa sudah tidak mendapat perlakuan yang adil secara ekosistem hukum dan kedaulatan. Hukum, seakan ada bagi mereka yang tidak bisa membeli perkara.
Dalam usia kemerdekaan yang ke 77 di tahun 2022, negeri ini memiliki kemajuan secara fisik pada satu sisi, di titik tertentu. Tetapi dalam pembangunan karakter berbangsa dan bermanusia, ibarat jauh panggang dari api. Ini wajar karena memang tidak satu pun yang sempurna. Hanya, proses dan pembusukan apalagi yang harus ditunggu untuk membuat bangsa ini lebih baik? Dua puluh lima tahun pertama, kedua, ketiga, dan kini memasuki 25 tahun keempat, tanda-tanda bangun jiwa-raga sebagaimana syair di dalam lagu Indonesia Raya, belum terlihat dengan jelas; proses, terus proses, dan menanti datangnya Godot?
Manuskrip teks En Attendant Godot versi bahasa Prancis diselesaikan oleh Beckett dalam kurun waktu empat bulan (9 Oktober 1948 – 29 Januari 1949). Lakon Beckett ini terkenal sebagai masterpiece dari penulisnya mendapat Nobel Sastra (1969). Ini berkisah tentang penantian dimana yang ditunggu tak kunjung datang, absurd. Tokoh Vladimir dan Estragon dalam lakon ini, menunggu kedatangan Godot yang tidak kunjung hadir hingga cerita ini selesai. Sepintas, menunggu bangun jiwa-raga bermanusia pada sebagian besar anak bangsa, bahkan sejak lagu Indonesia Raya dinyanyikan, tak kunjung datang, sampai hari ini.
Penantian yang berulang kali, seakan menjadi ciri khas bangsa ini (absurditas), yang hanya membuat warga republiken berharap sebagaimana David Campton menulis Resting Place, atau bak film yang digarap Christopher Nolan, Tenet (2020). Maka, melihat kondisi Indonesia saat ini, membayangkan bahwa Godot adalah sebuah Satria Piningit. Sebagai negara yang mendekati absurd, yang menurut Benedict Anderson Negara, ibarat sebuah imajinasi komunitas politik. Ini lantaran semua anggota dari negara tidak pernah mengenal dan memahami seluruh anggota dari negara itu. Mungkin saja ada yang mengenal, tetapi hanya seperti Godot mengenal Didi dan Gogo. Sehingga, ia dengan seenaknya mempermainkan perasaan Didi dan Gogo untuk terus menunggunya.
Dalam kondisi saat ini, katakanlah Didi dan Gogo adalah rakyat; mereka menanti campur tangan negara untuk mengurus hal yang paling pelik bagaimana warga bermanusia Indonesia, yang tidak seperti dialog, yang menunjukkan bagaimana kekejaman Pozzo kepada Lucky; yang menyiksa dan Pozzo enggan disebut tidak manusiawi. Awalnya Didi dan Gogo mengira bahwa Pozzo adalah Godot. Kekeliruan ini membuktikan bahwa Didi dan Gogo sendiri tidak mengenal siapa itu Godot (yang tidak hadir pada kekejaman ini).
Apabila dilihat dalam perspektif rakyat, yang sering memohon keringanan biaya, atau kebijakan yang mendukung rakyat kepada pemerintah, selalu saja harus tertabrak meja birokrasi. Di sini, rakyat melihat ketidak-adilan itu, dan tidak bisa melakukan apa-apa selain terus menanti bagaimana negara mengurusi apa yang telah diembannya. Idealnya, negara (sesekali) datang menemui rakyat yang telah menunggu. Namun, negara mengirim sebentuk juru pesan untuk rakyat, agar terus menunggu dan menanti.
Situasi menunggu ini, terus-menerus berulang dan berputar-putar. Rakyat bisa saja merdeka, tetapi Didi dan Gogo bisa saja memisahkan diri dan pergi dari marka itu. Mereka bisa terus menerus mengutuk Godot, mengumpat dan marah kepadanya. Tapi, sebagaimana rakyat, mereka hanya bisa terus menunggu. Sebab hanya kepada Godot-lah, mereka menumbuhkan harapan untuk tetap terus hidup. Semangat membara untuk menunggu sesuatu yang (nyaris) tidak pernah datang, seperti negara. (*)