PAMEKASAN, koranmadura.com – Menyusuk adanya wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan, Pasar Keppo, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur nyaris tidak ada transaksi jual-beli sapi.
Berdasarkan informasi yang dihimpun koranmadura.com, hal tersebut berlangsung sejak 26 Mei hingga Juni tahun ini. Sepinya pasar sapi tersebut tentunya berdampak pada pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Pamekasan.
Menurut Kepala Bidang Pasar Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pamekasan, Agus Wijaya mengatakan biasanya PAD dari pasar tersebut berkisar Rp 6,5 hingga Rp 7 juta setiap kali pasaran. Namun akhir-akhir ini hanya dapat menyumbang Rp 500 ribu.
“Pada tanggal 26 Mei, PAD itu menurun 40 persen. Kemudian pada 30 Mei 2022, turun 50 persen, dan 9 Juni turun 90 persen,” tuturnya, Rabu, 8 Juni 2022.
Pihaknya mengaku telah melakukan pemantauan ke pasar tersebut. Namun, ternyata hanya kedapatan ada satu dua sapi yang laku.
“Jadi orang takut untuk membeli. Orang jual Rp 10 juta di tawar Rp 6 juta,” terang Agus.
Menurutnya, penurunan PAD dari pasar tidak hanya terjadi di Pasar Keppo. Namun juga terjadi di pasar lain, seperti Pasar Waru, Pakong, dan Pasar Batu Bintang.
“Otomatis kalau di pasar hewan PAD-nya turun, kecuali yang lainnya (bukan pasar hewan),” jelasnya.
Di tengah merebaknya wabah PMK ini, mantan Kepala Bidang Pengawasan dan Kemitrologian tersebut mengaku belum bisa berbuat apa-apa untuk meningkatkan PAD tersebut.
“Nunggu udah dari pemerintah. Mungkin ada jalan keluarnya. Besok kami akan menggelar rapat tentang PMK. Mungkin di situ, ada jalan keluarnya,” ujarnya. (SUDUR/DIK)