SUMENEP, koranmadura.com – Kota Keris yang melekat di Kabupaten Sumenep dinilai bisa mati suri apabila tidak dilengkapi kreativitas anak bangsa. Alasannya, derap inovasi dan inisiasi anak bangsa mandek dan berkembang biak dalam asbak. Ini disebabkan oleh terbatasnya ruang ekspresi bagi kaum muda untuk menuangkan ide dan gagasan dalam pentas. Akibatnya, Kota Keris berjalan apa adanya, bukan berlalu seperti yang diinginkan terjadi.
Hal itu mengemuka dalam diskusi terbatas yang dihelat secara bersama-sama antara Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Dewan Kesenian Sumenep (DKS), Dewan Pendidikan (DP), dan LSAI (Lembaga Studi Arus Informasi) di café Kanca Kona, Jumat, 17 Juni 2022.
Menurut Sekretaris LSAI, Hosnan dan Ketua DP, Mulyadi, Sumenep sebagai kota seni (keris) nyaris tidak terdengar khazanah kreativitasnya. Menurut perspektif mantan aktivis pergerakan, Mulyadi mengatakan publik memerlukan ruang berekspresi. Dia beralasan, kota lain yang berdimensi budaya seperti Bali dan Yogjakarta, gairah berkreativitas terlihat publik. Di Malioboro (Jogjakarta) misalnya, Mulyadi mengakui terjadi derap kreativitas baik dalam bentuk reportoar mapun pementasan kolosal.
Sementara di Sumenep sebagai satu-satunya kota seni di Madura, dia sadari derap berkesenian nyaris tidak terdengar. Hal sama disampaikan Ketua KNPI, Syaiful Harir dan Ketua DKS Turmudzi Jaka. Para seniman dan kreator seni di Sumenep seperti tim sepak bola yang selalu diminta latihan. Tetapi, sepanjang latihan tidak pernah diikutkan dalam pertandingan. Bila kondisi ini dibiarkan, Turmudzi khawatir nasib dan kreativitas berkesenian akan merasakan sepinya keadaan. “Kita butuh panggung yang secara periodik bisa berkelanjutan,” ujarnya. (DIK)