Oleh: Miqdad Husein (*)
Coba lihat istagram, facebook, twitter, reels. Ada yang mengeliat terkait informasi dan komunikasi. Tampak masyarakat kini makin menguasai hingga makin sedikit dan sempit, yang menjadi bagian dari kekuatan khusus atas nama profesionalisme. Semua seakan dikuasai mentah-mentah oleh arus dasyat bernama kesertaan masyarakat. Siapapun, kini dapat menguasai. Demikian, jagad informasi dan komunikasi era digital.
Lima sampai sepuluh tahun lalu, masyarakat masih mencari berita, membuka lembaran koran di pinggir-pinggir jalan. Juga, duduk manis di depan telivisi, menunggu presenter menyampaikan berbagai informasi. Tapi, kini masyarakat menjadi bagian dari pergerakan berita. Siapapun merasa berhak membuat dan menyampaikan berita.
Televisi pun pelan mulai ditinggalkan. Anak-anak muda tak lagi duduk manis di depan layar kaca besar. Mereka, asyik menyendiri menikmati kotak kecil bernama ponsel. Bisa memilih seenaknya, tanpa perlu tempat khusus. Di kereta, angkot, bus dan bahkan di toilet.
Jangan lupa, masyarakatpun dapat membuat informasi melalui kanal-kanal youtube, tanpa perlu seperangkat izin Kementrian Penerangan (Kementrian Kominfo), seperti di masa lalu. Siapapun bisa dengan segala macam perangkat dari yang sangat sederhana sampai paling canggih. Semua seakan menjadi sumber informasi.
Bukan hal luar biasa ketika awak media, sekarang ini mulai terpojok. Tidak lagi ditoleh dan bahkan mulai kurang dipercaya. Masyarakat telah larut saling menikmati dan mempercayai informasi yang dibuatnya sendiri. Saling berbagi dan saling menerima.
Belakangan, makin marak pula video-video berupa sinetron pendek, yang dibuat masyarakat. Melalui perangkat Tiktok, Hello dan lainnya, masyarakat membuat ‘sinetron’ sendiri tak kalah dengan buatan profesional. Yang membedakan hanya durasi. Juga, saling berbagi antar masyarakat.
Oh ya, dunia dakwah, tak ketinggalan, telah menjadi milik masyarakat. Yang berpikir positif, menganggap ini bagian dari kewenangan siapapun untuk berdakwah walau bermodal satu ayat dan satu hadist. Pelan, peran para pendakwah, mulai berkurang.
Apakah perubahan ini yang diramalkan futurolog Alvin Toffler? Era gelombang ketiga. Atau Toffler justru tidak menyangka apa yang terjadi sekarang.
Dunia informasi dan komunikasi kini menjadi belantara, yang saling mengalahkan. Pertarungan menjadi yang paling viralpun, tak terelakan. Di dalamnya menyimpan perebutan uang, melalui iklan. Para produsen kebutuhan masyarakatpun, mulai menggunakan standar baru. Iklan ditebar dengan konsep yang jauh berbeda.
Tak ada lagi, yang bisa mencegah, mengatur, menyeleksi. Kementerian Kominfo hanya bisa memblokir. Satu diblokir ribuan dan bahkan jutaan, bermunculan. Demikian pula, aparat kepolisian makin sulit menindak penyebar hoax, pelanggar UU ITE. Satu diproses, ribuan lainnya, bermunculan. Benar-benar sebuah belantara, saling memakan, saling menghabisi, saling mengumbar apa yang dapat menghasilkan pundi-pundi uang.
Bukan hal mengejutkan jika tayangan Youtube makin liar dan vulgar. Apalagi, kalau bukan untuk mendapat subscribe -ujung tombak peroleh iklan, yang menjadi jaminan pemasukan hepeng. Begitulah.
Kita kini seakan dipaksa kembali ke diri sendiri. Membuat sendiri, memilih sendiri, menentukan sikap sendiri. Pilihan demikian bebas. Ingin jadi apa, mau bagaimana, tergantung diri sendiri, tanpa ada lagi batasan. Sebuah kondisi, yang memerlukan kesiapan sangat luar biasa yang harus dilakukan oleh siapapun, terutama para orangtua. Penting, kesadaran kondisional dan situasional terhadap dunia, yang menjadi belantara ‘hutan rimba.’ (*)
*Kolumnis, tinggal di Jakarta.