Oleh: MH. Said Abdullah (*)
Setiap melaksanakan ibadah haji, selayaknya membuka wawasan pemikiran tentang bagaimana keterikatan keagamaan demikian penuh warna, dalam hal-hal furu’ (ranting).
Berbagai keragaman tata cara salat akan mudah ditemui di Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi serta tempat lainnya.
Bukan hal aneh, misalnya, ada jemaah haji yang usai takbiratul ikhram tangan bersendekap di sekitar dada.
Lainnya lagi bersendekap agak ke kanan di atas ulu hati. Yang agak ke bawahpun terlihat pula. Yang agak mencolok usai takbiratul ikhram tangan tetap terjulur ke bawah, tidak bersendekap. Demikian penuh warna warni.
Cobalah simak dalam berdoa. Ada yang demikian khusyuk penuh ketenangan, tanpa suara sedikitpun. Lainnya, bersuara lirih hanya terdengar yang berdoa sendiri. Yang berdoa bersuara nyaringpun, ikut mewarnai.
Demikianlah warna-warni yang mudah ditemui dalam pelaksanaan ibadah haji. Jangan lupa, yang mudah terlihat itu ibadah paling penting: salat.
Tak terbayang, jika dalam salat saja, terlihat berbagai perbedaan, apalagi ibadah lainnya. Latar belakang budaya, persepsi pemikiran, penafsiran, pijakan dalil, sudah pasti mempengaruhi aktivitas peribadatan umat Islam.
Sudah pasti akan muncul perbedaan dalam praktek walau hanya sebatas furu atau meminjam istilah almarhum KH. Hasyim Muzadi, hanya pada tataran ibnul furu’, anak ranting.
Jelas akan menjadi aneh jika kemudian ada kelompok masyarakat yang memaksakan semuanya harus sama. Mengatasnamakan ‘sesuai sunnah Rasulullah.’ Atas atas dasar solefussaleh.
Salat misalnya, kaki harus merenggang bersentuhan antar kaki, dengan takbir khas tangan diangkat ditarik mendekati dada.
Ngak masalah sebagai pilihan prinsip. Menjadi masalah ketika yang tidak sejalan dianggap sesat atau bid’ah. Belum lagi, melarang aktivitas lainnya, seperti usai salat tidak boleh berjabat tangan, tidak boleh baca qunut, melarang tahlil dan lainnya.
Lebih aneh lagi, jika kegiatan keagamaan keseluruhan dilepaskan dari konteks budaya. Seakan-akan agama Islam turun lepas dari budaya setempat, hadir dalam ruang kosong budaya.
Di sinilah ibadah haji selayaknya memberikan pelajaran berharga kepada para jemaah haji yang datang dari berbagai penjuru dunia.
Bahwa selalu ada warna-warni, pernik-pernik indah dalam peribadatan sejalan latar belakang budaya, penafsiran, pijakan dalil dan lainnya. Kesadaran saat haji seperti itu penting dan bahkan ditegaskan eksplisit dalam al Qur’an.
Cobalah simak, setelah perintah melaksanakan ibadah haji dalam surat Al Hajj ayat 28. Ada kata sangat luar biasa yaitu liyashadu mana fi’a lahum yang artinya supaya menyaksikan atau melihat manfaat dari keseluruhan ibadah haji.
Ya. Allah secara tegas mengingatkan umat Islam yang melaksanakan ibadah haji, agar mendapat sebanyak-banyaknya manfaat dari berbagai interaksi sosial umat manusia yang datang dari seluruh penjuru dunia.
Dalam peribadatan haji Allah seakan mendorong jemaah haji membuka lanskap pemikiran agar memahami realitas perbedaan hal-hal bersifat furu’ alias anak ranting dan berbagai fenomena lainnya.
Tentu tidak hanya diharapkan mendapat manfaat memahami dan memaknai peribadatan saja. Haji, bukan hanya sekedar zikir semata.
Dari pelaksanaan ibadah haji seharusnya setiap umat Islam yang datang dari berbagai pelosok itu bisa saling belajar tentang kemajuan saudaranya dari negara lainnya.
Belajar apa saja, tentang kehidupan kesehariaan. Ya keselarasan sosial, informasi ilmu pengetahuan, kemajuan aktivitas kehidupan dan lainnya.
Di masa penjajahan, sudah menjadi rahasia umum, pelaksanaan ibadah haji menjadi inspirasi perlawanan menghadapi penjajah. Usai melaksanakan ibadah haji, banyak umat Islam menyadari hakekat kemerdekaan dan persatuan.
Haji, benar-benar menjadi inspirasi perlawanan menghadapi penjajah untuk memperjuangkan kemerdekaan.
Jika membuka sejarah kehidupan Nabi Muhammad, sebenarnya ibadah haji sungguh sangat luar biasa. Haji bukan sekedar peribadatan atau ubudiyah saja.
Haji, bukan sekedar zikir. Saat menyampaikan khotbah haji wada’ pada pertemuan akbar terakhir, Nabi Muhammad justru bicara persoalan sosial seperti perlindungan kehidupan yang di era modern ini dikenal sebagai HAM, larangan eksploitasi ekonomi, kesetaraan sosial sampai pada penataan kehidupan berkeluarga.
Ini menegaskan tentang betapa ibadah haji sesungguhnya seperti ditegaskan Al Quran surat Al Hajj ayat 28 merupakan lautan ilmu pengetahuan yang diharapkan seluruh jemaah haji dapat mereguknya dan kemudian dijadikan inspirasi saat kembali ke tanah airnya.
Sungguh sangat dahsyat jika seluruh jemaah haji mampu menangkap pelajaran yang seperti ditegaskan Al Qur’an.
Persatuan, kesetaraan, kesadaran keragaman budaya, ilmu pengetahuan dan masih banyak lagi, insya Allah akan dapat menjadi energi untuk memajukan negara jemaah haji tempat berasal.
Semoga. (*)
*Ketua Banggar DPR RI, saat ini sedang menunaikan ibadah haji.