Oleh: Halimatus Sa’ida (*)
KORANMADURA.com – Setiap orang pasti akan dihadapkan dengan sebuah pilihan untuk pengambilan keputusan. Keputusan merupakan hal yang mengarahkan jalan hidup seseorang, dalam mengambil keputusan seseorang harus sangat berhati hati, emosi yang menyertai dalam pengambilan keputusan juga harus diperhatikan agar tidak menyesal di kemudian hari.
Saat mengambil sebuah keputusan, kondisi emosi harus stabil agar dapat berfikir dengan jernih. Sehingga keputusan yang diambil tidak berdasarkan emosi, namun hasil pemikiran yang matang, agar menghindarkan seseorang dari penyesalan ke depannya.
Keputusan penting itu sendiri meliputi Pendidikan, karir, pernikahan dan lain-lain yang harus dipikirkan secara matang dan dalam jangka waktu yang panjang. Keputusan yang didasarkan pada emosi yang diambil secara singkat akan menyebabkan suatu penyesalan yang panjang karena tidak disertai komitmen yang ada.
Salah satu contohnya, pada zaman sekarang banyak perempuan yang hamil di luar nikah. Mereka melakukan hal tersebut tanpa berfikir panjang, padahal masih ada orang tua, keluarga dan masa depan yang harus mereka pikirkan.
Bahkan, berita di sosial media saat ini sangat marak ditemukan informasi bayi yang dibuang orang tua di pinggir jalan. Bahkan, tidak sedikit dari mereka menggugurkan kandungannya hanya demi menutupi aib yang mereka lakukan sendiri. Kebanyakan anak muda zaman sekarang hanya berani melakukan hal tersebut tanpa mau bertanggung jawab atas perilaku asusila yang mereka perbuat.
Banyak perempuan yang memberikan tubuhnya untuk laki-laki yang mereka cintai, cinta buta seperti ini yang membuat banyak anak remaja yang kehilangan masa depannya karena harus menikah muda untuk menutupi aibnya dan tidak sedikit pula perempuan yang trauma akibat perbuatannya, saat laki-laki tersebut tidak mau bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuat, sedangkan ibu dari anak itu tidak mau menggugurkannya, otomatis ibu dari anak itu membesarkan anaknya tanpa seorang ayah.
Hal seperti ini tidak hanya berdampak buruk terhadap psikis ibu tetapi jika anak itu kelak ketika sudah besar. Mereka juga akan bertanya-tanya mengapa dia tidak pernah bertemu ayahnya atau mengapa keluarganya tidak lengkap seperti keluarga teman-teman sebayanya. Belum lagi jika dia mendapat olok-olok yang buruk dari lingkungan sekitarnya. Hal seperti ini yang tidak pernah dipikirkan oleh remaja zaman sekarang, mereka hanya memikirkan apa yang membuat mereka senang tanpa berfikir panjang.
Dari contoh kasus tersebut seseorang yang mengambil keputusan dalam keadaan emosi yang bersifat negatif cenderung mengambil keputusan yang gegabah dan tidak berfikir panjang. Emosi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang dalam mengambil keputusan. Oleh sebab itu, kita harus mengetahui dan dapat mengontrol emosi kita sendiri agar kita senantiasa dapat mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
Teori emosi menurut James-Lange, pengalaman emosi dihasilkan dari adanya stimulus yang menimbulkan respon fisiologis sehingga adanya emosi tertentu. Namun menurut Cannon-Bard, pengalaman emosi dihasilkan dari adanya stimulus yang menimbulkan respon fisiologis disertai emosi yang terjadi secara bersamaan.
Kita tidak boleh menghakimi orang lain jika melakukan kesalahan karena setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan masing-masing, tetapi kita jangan pernah berhenti menjadi orang yang selalu mengingatkan sesama jika yang dilakukannya salah karena cobaan yang diberikan tuhan berbeda, tapi setidaknya dengan kita mencoba mengontrol emosi negative yang ada dan tidak mengikuti bisikan setan insyallah kita akan selalu dijaga oleh tuhan. (*)
*Halimatus Sa’ida, mahasiswi Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang.