Oleh: MH. Said Abdullah (*)
Kegaduhan politik di Sri Lanka ternyata sempat membangkitkan andrenalin politik beberapa politisi petualang. Mereka kemudian meneriakkan dan berharap yang terjadi di Sri Lanka juga terjadi di Indonesia. Intinya, mereka ingin memanfaatkan kisruh politik di sana untuk menjatuhkan Presiden Jokowi.
Jelas, perilaku itu bukan hanya menggambarkan mentalitas politik oportunis, berjiwa petualang, tidak peduli kepentingan rakyat serta hanya sekedar mengumbar syahwat politik. Mereka juga mengabaikan fakta riil kondisi Sri Lanka yang berbeda jauh bahkan bertolak belakang kondisi riil dalam segala hal dengan negeri ini.
Perbandingan kondisi ekonomi, yang menjadi pemicu kisruh politik, pada kedua negara perbedaannya amat sangat jauh. Jika di sana terjadi krisis politik wajar saja karena kegagalan mengendalikan perekonomian. Artinya, kondisi ekonomi Sri Lanka memang morat marit. Sementara, kondisi ekonomi di negeri ini sangat baik dengan indikasi ekonomi cukup menjanjikan. Jika pandemi berakhir, seperti diprediksikan bank dunia, Indonesia akan menjadi negara ketiga, setelah Cina dan India, yang akan bangkit mengesankan. Bank Dunia memprediksi perekonomian Indonesia akan tumbuh 5,1 persen pada tahun 2022 dan meningkat mencapai 5,3 persen pada tahun 2023.
Sekedar perbandingan selintas antara dua negara tentang angka inflasi riil. Inflasi di Sri Lanka mencapai angka sangat tinggi yaitu 129 persen. Sementara, inflasi di negeri ini hanya dalam kisaran 4,35 persen.
Data lainnya, tentang rasio utang kedua negara. Rasio utang Sri Lanka mencapai angka 104 persen. Sementara rasio utang Indonesia, yang sering dijadikan sasaran tembak menuding kegagalan pemerintah, sekitar 32,8 persen dari PDB. Masih sesuai ketentuan perundang-undangan.
Produk Domistik Bruto (PDB) perbedaan kedua negara juga sangat joblang, berbeda jauh. PDB Srilangka 80,71 USD sedang Indonesia, mencapai angka 1475 milyar USD. PDB Sri Lanka tidak sampai sepuluh persen PDB Indonesia.
Data selintas itu cukup menggambarkan betapa jauh perbedaan kondisi keseluruhan antara Sri Lanka dengan Indonesia. Maka, terasa aneh jika kemudian muncul berbagai syahwat politik, untuk memciptakan kondisi sama di negeri ini dengan apa yang terjadi di Sri Lanka. Pemikiran itu menggambarkan betapa sempit, picik dan penuh ambisius serta menghalalkan segala cara untuk merebut dan berkuasa di negeri ini.
Terlihat sekali mereka sama sekali tidak berpikir kepentingan rakyat keseluruhan. Bagaimanapun kekisruhan politik seperti terjadi di Sri Lanka adalah malapetaka luar biasa, yang makin menjerumuskan rakyat ke dalam penderitaan setelah sekitar dua tahun menderita akibat pandemi Covid-19. Siapapun manusia yang berpikir waras di dunia ini, tidak ingin kejadian di Sri Lanka terjadi di negaranya.
Terlihat ketaksiapan menerima proses demokrasi pada sementara kalangan politisi di negeri ini. Mereka juga kurang sabar mentaati siklus demokrasi yang telah ditentukan oleh Undang-undang lima tahun sekali. Yang lebih dikedepankan syahwat politik untuk berkuasa menggunakan segala cara, tidak peduli dampak mengerikan yang dapat menyebabkan derita kematian dan kepedihan rakyat.
Pilihan demokrasi melalui Pemilu lima tahunan terlepas masih ada kekurangan di sana sini, dengan terus diupayakan diperbaiki merupakan pilihan paling rasional yang memberikan kesempatan kepada siapapun untuk mendapat kepercayaan rakyat, memimpin dan mengelola negeri ini. Rakyat pemilih dan siapapun yang berada di luar kekuasaan diberi kesempatan untuk mengawal pemimpin yang mendapat kepercayaan.
Demikianlah seharusnya konsistensi sikap ketika demokrasi telah disepakati menjadi pilihan dalam mengelola negeri ini. Jalan apapun, apalagi yang menabrak sistem harus dicegah. Apalagi yang menggunakan cara-cara kekerasan sehingga menimbulkan konflik berdarah, perang saudara.
Banyak negara terjerumus konflik berkepanjangan akibat para politisinya tidak mampu mengendalikan diri untuk mentaati proses demokrasi, suksesi jalan damai. Rakyat akhirnya yang menjadi korban baik nyawa dan nestapa penuh derai air mata. Suriah, Irak, Afghanistan, Lybia, Yaman, adalah fakta-fakta riil ketika sistem demokrasi tidak ditaati dan segelintir politisi menggunakan segala cara untuk berkuasa, termasuk melalui jalan kekerasan.
Ayo terus perbaiki demokrasi negeri ini. Berkompetisilah secara sehat melalui even Pemilu berlandaskan kesadaran untuk berjiwa besar; tidak hanya siap menang, tapi juga siap kalah. Kawal pemerintahan terplih dengan sikap kritis. Demikianlah. (*)
*Ketua Banggar DPR RI.