Oleh: Miqdad Husein | Kolumnis, tinggal di Jakarta.
Timbunan makanan membusuk yang ditemukan di Sukmajaya, Depok, kembali memperlihatkan betapa pola pikir sebagian masyarakat masih saja seenaknya terhadap makanan. Kebutuhan primer enteng saja dibuang -ditimbun- hingga membusuk. Padahal masih banyak di negeri ini masyarakat berada dibawah garis kemiskinan, yang sangat membutuhkan bahan makanan.
Temuan bahan makanan, yang disebut-sebut merupakan bantuan sosial Presiden itu, sampai saat ini belum jelas apakah ditimbun setelah membusuk atau sengaja disembunyikan sehingga membusuk. Namun, apapun kondisinya, bantuan sosial membusuk menegaskan masyarakat amburadul dalam mengelola makanan. Bisa saja distribusi kacau sehingga tidak sampai pada tujuan, sehingga akhirnya membusuk.
Atau, mungkin saja sejak awal penanganan data kacau sehingga alamat penerima tidak jelas. Ditambah tak ada inisiatif mencari upaya memanfaatkan bahan makanan agar sampai kepada masyarakat kurang mampu, sehingga akhirnya membusuk.
Birokrasi di sini mungkin menjadi faktor utama sehingga bantuan sosial membusuk dan terbuang mubazir. Sebuah kondisi, yang masih menjadi pekerjaan besar siapapun yang memimpin negeri ini. Bayangkan, di Depok, yang merupakan daerah pinggiran Jakarta saja ada ketersendatan dan kesemrawutan penyaluran. Masih berada di wilayah perkotaan. Apalagi jika sampai ke daerah-daerah pelosok, yang kendala transportasi tak terbayangkan.
Di luar birokrasi, hal-hal terkait makanan di masyarakat negeri ini memang masih sangat menyedihkan. Rektor IPB Arif Satria dalam kesempatan kajian akhir tahun 2019 pernah memaparkan tentang kebiasaan masyarakat negeri ini, yang suka membuang makanan. ‘Prestasi’ buruk itu ternyata sangat mencengangkan. Masyarakat negeri ini, ternyata hanya kalah dari Arab Saudi dalam persoalan membuang-buang makanan.
Ironis mungkin, perilaku jauh dari terpuji itu terjadi di tengah masyarakat yang masih dengan mudah ditemukan orang-orang kekurangan kebutuhan makanan. Sekalipun tetap salah, jika terjadi di Arab Saudi, masih ada dasar rasionalnya sebagai salah satu negara kaya. Lha, masih banyak orang kekurangan makanan, kok kebiasaan membuang makanan masih sangat tinggi; urutan kedua di dunia.
Cara pandang terhadap makanan ini sangat mungkin menjadi salah satu faktor kasus-kasus makanan membusuk masih saja selalu terjadi. Beras membusuk di gudang, bantuan sosial kadaluwarsa, sampah makanan bertumpuk adalah buah riil ketika memandang seenaknya terhadap makanan.
Secara riil, kasus makanan ditimbun sehingga membusuk atau karena sudah busuk akhirnya ditimbun seperti terjadi di Depok, merupakan persoalan sangat serius menyangkut mental, pemikiran, persepsi, perspektif, birokrasi yang jika tidak ditangani dapat menjadi kemubaziran luar biasa. Jika menghitung jumlah penduduk negeri ini, yang sekitar 270 juta, benar-benar dasyat. Terbentang kemubaziran yang nilainya pasti mencengangkan. Menjadi ironi super tragis, ketika diketahui pada sisi lain, masih banyak masyarakat, yang kekurangan makanan.
Sayang sekali, soal yang sebenarnya sangat serius ini, masih belum mendapat perhatian para dai, pendakwah, ustadz, ustadza, pekerja sosial. Padahal ajaran agama yang dipeluk mayoritas penduduk negeri ini -Islam- sangat jelas mengatur bagaimana memperlakukan makanan termasuk larangan keras membuang-buang makanan.
Mungkin, karena terkesan ecek-ecek, urusan kebiasaan membuang makanan ini terasa kurang seksi. Terlihat sepele, memang jika hanya dilakukan satu dua orang. Namun, jika perilaku buruk itu menjadi kebiasaan mayoritas masyarakat berjumlah sekitar 270 juta, silahkan menghitung sendiri dampak dan kerugian nilai ekonominya.