Oleh: Miqdad Husein | Kolumnis, tinggal di Jakarta.
Jika membuka media sosial Facebook, Instagram dan lainnya, belakangan muncul sosok menarik Pesulap Merah. Berpenampilan mencolok, berpakaian serba merah, termasuk rambut dicat merah, sosok bernama asli Marcel Radhival ini menawarkan sesuatu yang mengejutkan: membongkar berbagai penipuan berkedok agama dan pengobatan beraroma mistis.
Dengan jeli dan sangat detail satu persatu trik penipuan para ‘dukun’ yang juga sering disebut pengobatan alternatif dibongkar. Ia, bersikap fair dan terbuka. Tidak di belakang sosok yang dipreteli.
Dengan gaya elegan ditemui para ‘dukun’ yang tampil seakan sakti mandraguna. Lalu masyarakat diajak memahami bagaimana dikibuli si dukun.
Aktivitas anak muda ini memang sangat menarik. Bukan hanya karena kemampuan teknis bagaimana membongkar praktek penipuan yang seakan-akan merupakan aktivitas gaib. Lebih penting lagi, apa yang dilakukan membuka mata masyarakat bahwa selama ini menjadi korban berbagai modus penipuan.
Beberapa tahun lalu, pernah di salah satu stasiun televisi ada tayangan menarik tentang pesulap bertopeng. Jika pesulap bertopeng membuka rahasia trik permainan sulap, yang sejak awal sudah diketahui merupakan permainan, si Pesulap Merah ini lebih menekankan dan fokus pada permainan para dukun, yang menipu para pasien. Yang pesulap bertopeng semata mengajak penonton terbuka pikirannya sehingga lebih memahami permainan sulap, si Pesulap Merah membongkar berbagai kedok penipuan. Itu bedanya.
Jelas di sini, manfaat besar dapat diperoleh dari sepak terjang si Pesulap Merah. Masyarakat bukan hanya dibuat mengerti dan mengetahui apa sebenarnya yang terjadi namun juga disadarkan bahwa selama ini ditipu oleh para dukun berkedok pengobatan. Masyarakat diselamatkan dari berbagai kerugian material, yang tidak kecil.
Trik-trik para dukun seperti telur berisi rambut atau jarum, pemindahan penyakit menggunakan buah kelapa, mengeluarkan telur dari tubuh, paku dari kepala dan entah apalagi, semua dibongkar oleh si Pesulap Merah. Masyarakat dibuat tersentak, terperangah dan baru menyadari bahwa selama ini ternyata telah ditipu mentah-mentah. Uangnya dikeruk, karena pengaruh berbagai manipulasi para dukun.
Dalam kehidupan keseharian sebenarnya praktek pengobatan bersifat gaib dalam bentuk penyelamatan dari berbagai ilmu hitam ada di tengah masyarakat. Sihir sendiri seperti disinggung alquran memang ada. Namun, praktek begini ini, mudah sekali disalahgunakan terutama memanfaatkan keluguan masyarakat melalui pendekatan pengobatan. Masyarakat yang sebenarnya sakit fisik, lalu berobat alternatif ke dukun. Nah, yang salah kaprah ini, sering jadi sasaran penipuan.
Bahwa ada hal-hal bersifat supranatural, memang mungkin saja. Banyak kiai atau ulama khos, yang memiliki kemampuan spiritual untuk membantu menyelamatkan seseorang, yang menjadi korban permainan sihir. Itu contoh. Namun, karena supranatural, mudah sekali disalahgunakan untuk menipu mereka yang sedang kebingungan sakit fisik. Jika para kiai atau ulama memang benar mengobati, biasanya dengan doa -bukan permainan trik. Yang penipuan menggunakan berbagai cara untuk mengelabui para pasien, yang sebenarnya terkena penyakit fisik, yang pengobatannya cukup ke dokter. Uang, lagi-lagi dikeruk dari pasien.
Para penipu ini, sebenarnya tidak mengerti berbagai ilmu supranatural tapi berlagak paham lalu menggunakan berbagai trik untuk mengelabui masyarakat, yang sedang kebingungan karena sakit. Masyarakat sendiri, yang sebenarnya sedang sakit fisik, karena ingin sembuh cepat atau murah datang ke tempat salah ini. Sembuh tidak, tertipu iya.
Apa yang dilakukan si Pesulap Merah dan belakangan juga ternyata diikuti sosok lain, yang membongkar berbagai praktek penipuan menyadarkan masyarakat bahwa selama ini, menjadi korban penipuan. Masyarakat diajak berpikir rasional. Jika sakit fisik, ya ke dokter dan harus sabar. Praktek-praktek berbagai pengobatan, jika jauh tidak masuk akal, ya pasti penipuan.
Apakah pengobatan alternatif ada? Ada seperti melalui berbagai ramuan tumbuh-tumbuhan misalnya. Dunia kedokteranpun mengakui. Bahkan belakangan, pengobatan yang disebut herbal, makin menjamur sebagai pilihan menghindari obat-obat kimia. Itu masih wajar saja.
Apa yang dilakukan si Pesulap Merah dan sosok lainnya, penting pula diikuti langkah hukum, jika memang terbukti ada unsur penipuan dan merugikan. Seperti beberapa tayangan media sosial, ketika seseorang dipaksa membayar sampai lima juta, untuk berobat, yang ternyata penipuan seharusnya diikuti proses hukum. Menipu ya merupakan tindak pidana.
Sakit memang membuat panik sehingga seseorang sering kehilangan pertimbangan rasional. Di sinilah penting, masyarakat perlu diajak berpikir jernih, diingatkan dan ditunjukkan mana yang benar-benar pengobatan, mana yang ternyata menipu.