Oleh : MH. Said Abdullah
Perjuangan kesetaraan gender di negeri ini masih menghadapi jelaga dan kendala berat. Budaya patriaki masih sangat kental hidup dalam keseharian masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung. Baik terang-terangan maupun diam-diam. Kaum perempuan masih -paling tidak- diposisikan seakan warga negara kelas dua.
Pemahaman keagamaan kadang ditafsirkan atas dasar kepentingan superioritas kaum laki-laki. Mayoritas ummat Islam Indonesia masih memahami Al Quran ayat 34 surat An Nisa bahwa laki-laki adalah pemimpin perempuan secara sempit. Padahal, sebagaimana ditegaskan tokoh perjuangan kesetaraan gender KH. Husin Muhammad, ayat itu sangat kontekstual menjelaskan situasi budaya patriaki abad ketujuh dan tidak bersifat universal.
Ayat Al Quran lainnya, masih menurut KH. Husin Muhammad justru jauh lebih banyak memposisikan kaum perempuan setara dengan kaum laki-laki dalam aktivitas berhikmah kepada masyarakat. Surat At Taubah ayat 71 sangat jelas mengungkapkan bahwa orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan saling membantu menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah yang munkar.
Terlihat jelas betapa berat sesungguhnya perjuangan kesetaraan gender. Disamping terbelenggu budaya yang telah turun temurun ditambah lagi pijakan pemahaman keagamaan sempit, yang masih berurat akar.
Ikhtiar perlu terus dilakukan agar perempuan Indonesia bangkit berperan dan dapat berhikmat optimal di tengah masyarakat tanpa lagi ada perlakuan tidak adil. Perlu terus diperjuangkan baik melalui upaya normatif mau bukti-bukti prestasi dalam seluruh sektor kehidupan, terutama di wilayah publik.
Kiprah di wilayah publik ini penting sebagai proses kampanye dan bukti riil kemampuan perempuan sehingga dapat memberi efek sosial lebih kuat meningkatkan perjuangan kebangkitan peran perempuan. Masyarakat yang sebelumnya merasa ragu, gamang, tidak percaya diharapkan merobah persepsi dan konsepsi pemikiran serta perilakunya terhadap peran perempuan.
Secara kontekstual di era modern seperti sekarang ini sebenarnya telah muncul simbol kebangkitan perempuan Indonesia. Adalah Puan Maharani, yang telah memperjuangkan kebangkitan perempuan. Mbak PM, panggilan akrab Puan Maharani bahkan telah membuktikan melalui prestasi luar biasa sebagai Ketua DPR RI pertama dari kalangan perempuan.
Jangan lupa, keberhasilan Mbak PM menjadi Ketua DPR RI bukan tanpa kerja keras. Ia bekerja dan berjuang keras, mengeluarkan keringat untuk mencapai keberhasilan seperti sekarang. Bahkan, upaya membangkitkan kaum perempuan itu terus dilakukan melalui perjuangan untuk tampil sebagai puncuk pimpinan nasional sebagai Presiden Indonesia periode 2024-2029 pada konstestasi Pilpres 2024.
Menurut Direktur Eksekutif Indostragic Akhmad Khoirul Umam, Puan telah mampu menunjukkan kapasitasnya untuk masuk dalam politik patriaki dan menjadi representasi perempuan untuk maju di Pilpres 2024. Itu menegaskan bahwa aktivitas politik Mbak Puan sejatinya telah mewujud menjadi simbol perjuangan kebangkitan perempuan Indonesia. Ia memiliki kapasitas dan kapabilitas serta rekam jejak meyakinkan serta telah teruji menjalani jenjang kepemimpinan nasional.
Visi Puan saat menyampaikan pidato sebagai Ketua DPR RI memperlihatkan semangat perjuangan luar biasa mewujudkan kebangkitan perempuan Indonesia. Ia menganalogikan keseimbangan kepak sayap burung dan menegaskan bahwa penempatan perempuan dalam posisi jabatan publik adalah sebuah kelaziman dalam berdemokrasi.
Tentu, Puan Maharani tidak dapat berjuang sendirian di tengah belantara jelaga dan kendala berat. Kaum perempuan Indonesia, yang menyadari nilai strategis perjuangan kebangkitan perempuan perlu ikut serta bahu membahu. Perempuan Indonesia harus bangkit agar dapat memberikan kontribusi maksimal sehingga makin cepat terwujud Indonesia hebat.