SUMENEP, koranmadura.com – Berada di balik jeruji besi bukan berarti seseorang tidak bisa produktif. Buktinya, sejumlah warga binaan Rutan Klas II B Sumenep, Madura, Jawa timur, mampu memproduksi batik dan bisa mendapat penghasilan dari kegiatan tersebut.
Kegiatan yang difasilitasi pihak rutan tersebut merupakan salah satu upaya pembekalan skill bagi warga binaan sambil menunggu masa tahanan mereka berakhir.
Desain corak batik yang diusung merupakan perpaduan batik modern dengan pakem Madura. Seperti pada umumnya, prosesnya dimulai dari membuat corak, mengguratkan malan, pewarnaan, hingga pencucian untuk mengunci warna.
Salah seorang warga binaan Rutan Sumenep Sutan Khairul Mahendra mengaku belajar mendesain batik sekitar satu tahunan. “Desain batik sata belajar di dalam (penjara),” katanya.
Dia mengaku, saat sudah keluar dari penjara, dirinya bersama kawan-kawannya tetap ingin kerja sama dengan rutan dalam pembuatan batik. “Semoga ada modal nanti,” tambahnya.
Di bawah bimbingan perajin batik, sejumlah warga binaan Rutan Klas II B Sumenep berhasil menciptakan batik modern yang berkualitas.
Meski hanya dipasarkan lewat sosial media oleh pihak Rutan, ternyata karya batik warga binaan Rutan Sumenep laku keras di pasaran dengan harga mulai dari Rp300 ribu hingga 1,5 juta rupiah.
Hasil dari penjualan batik dibagiakan kepada para narapida yang terlibat dalam pembuatannya, yang oleh mereka sebagaian uangnya juga dikirim kepada kelarganya di rumah.
Kepala Sub Seksi Pelayanan Tahanan Rutan Klas II B Sumenep Teguh Doni Efendi menuturkan, selain warga biasa sejumlah pesanan batik karya warga binaan Rutan Rumenep juga datang dari pejabat.
“Bahkan pernah menjadi pilihan bahan untuk dijadikan baju di ajang internasional pada tahun 2021,” ujarnya.
Melihat angka penjualan yang terus naik, pihak Rutan sudah mengajukan hak paten batik modern mereka dengan nama Catra. FATHOL ALIF/ROS/VEM