JAKARTA, Koranmadura.com – Setelah 2 tahun virtual, Gapki 18th Indonesian Palm Oil Conference and 2023 Price Outlook akan diselenggarakan secara tatap muka pada 2-4 November 2022 di Bali International Convention Center, Westin Resort, Nusadua Bali.
“Mengusung tema ‘New Landsacpe in World Vegetable Oil: Opportunities and Challenges for Palm Oil Industries’ IPOC 2022 akan membahas situasi geopolitik dan ekonomi global terkini. IPOC juga secara khusus memberikan informasi perkembangan industri sawit Indonesia dan global terkini juga menganalisis tren harga minyak sawit ke depan,” ujar Ketua Panitia Indonesian Palm Oil Conference (IPOC), Mona Surya dalam jumpa pers secara virtual Rabu (12/10/2022).
Hadir pula dalam jumpa pers ini, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono, Sekjen Gapki Eddy Martono, dan Ketua Bidang Komunikasi Gapki Tofan Mahdi.

Mona Surya mengatakan bahwa minyak sawit telah menjadi salah satu minyak nabati yang paling penting, yang menyediakan lebih dari 30% dari pasokan minyak nabati dunia. Permintaan minyak sawit untuk pangan dunia dan untuk biofuel terus meningkat setiap tahun.
“Indonesia sebagai penghasil kelapa sawit terbesar memainkan peranan yang sangat signifikan di pasar global. Pada tahun 2021, Indonesia mensuplai lebih dari 29,7 juta ton minyak sawit ke pasar global setara dengan 55% dari total permintaan minyak sawit dunia yang sebesar 53,5 juta ton,” tutur Mona.
Sementara Ketua Umum Gapki Joko Supriyono mengungkapkan, dengan situasi geopolitik dunia yang dinamis sebagai dampak perang Rusia dan Ukraina, pasokan minyak nabati dan minyak dunia menjadi terganggu terutama karena kedua negara tersebut merupakan penghasil minyak bunga matahari (sun flower) dunia terbesar yang mensuplai lebih dari 60% pasokan minyak bunga matahari di pasar global.
“Terganggunya pasokan minyak bunga matahari di pasar global, menjadikan minyak sawit memiliki peluang yang besar untuk mengisinya. Demikian juga pasokan minyak bumi dari Rusia yang berkurang, memberikan peluang besar untuk biodiesel dari minyak sawit mengisi kekurangan di pasar global,” katanya.
Lebih jauh Joko mengharapkan ekspor minyak sawit Indonesia ke depannya dapat berjalan lancar, dan tidak ada larangan-larangan lagi. “Karena stok sawit kita selalu surplus dan karena itu perlu diekspor. Dengan ekspor kita juga memperoleh benefit devisa yang sangat besar,” tutur Joko. (Kunjana)