Oleh: MH. Said Abdullah | Ketua Banggar DPR RI.
Solus Populli Suprema Lex Esto, Keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Istilah yang disampaikana filsuf Romawi Marcus Tullius Cicero, yang sudah menjadi prinsip universal kehidupan pemerintahan itu agaknya perlu disegarkan kembali. Bayangkan, dalam suasana duka peristiwa kerusuhan di Kanjuruhan, Kabupaten Malang, masih saja ada aktivitas beroroma kekuasaan. Seakan tak ada waktu lain, misalnya, ketika suasana duka relatif telah menurun dan kehidupan yang terkait kerusuhan telah pulih kembali.
Tentu aktivitas keseharian tidak boleh berhenti karena peristiwa yang menelan korban nyawa meninggal 131 orang itu. Namun, kearifan dan kepedulian perlu dikedepankan agar hanya aktivitas -jika memang tak bisa ditunda- paling tidak yang memang masih menyangkut kepentingan masyarakat. Artinya, aktivitas yang bernuansa konstestasi, yang bernuansa kompetisi kekuasaan misalnya, perlu mempertimbangkan waktu yang tepat sehingga tidak terkesan menari di atas penderitaan rakyat.
Pertimbangan rasionalnya bukan hanya karena suasana duka, yang sangat luar biasa dari peristiwa kerusuhan pertandingan Arema FC melawan Persebaya. Juga, terkait makna dari setiap konstestasi politik. Bukankah, semua konstestasi politik setelah tercapai bertujuan melunasi amanah rakyat; demi kepentingan rakyat.
Merupakan ironi bila saat sebagian rakyat sedang berduka karena tragedi memilukan ada even yang berteriak nyaring untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Sementara rakyat yang sedang berduka yang seharusnya perlu terlebih dahulu mendapat empati dan kepedulian semaksimal mungkin, justru terabaikan.
Wajar jika belakangan ini muncul gugatan mempertanyakan siapapun yang berteriak ingin memperjuangkan rakyat tetapi jauh dari kepedulian memperhatikan duka dan nestapa rakyat. Jangan lupa, tragedi Kanjuruhan, Kabupaten Malang sangat luar biasa hingga menempati urutan kedua terbesar di dunia dari jumlah korban meninggal. Sebuah penegasan betapa mengerikan peristiwa yang korbannya banyak anak-anak remaja, calon penerus bangsa itu.
Bagi warga Malang, terutama keluarga korban tragedi Kanjuruhan, hari hari ini adalah masa menanti asa keadilan, membutuhkan daya baru untuk membuang ingatan yang begitu mencekam dan traumatis. Mereka butuh dekapan tangan, topangan masa depan, terutama bagi yang masih usia dini. Mereka butuh santunan bagi yang kehilangan tulang punggung keluarga.
Negeri ini sudah lama memiliki semangat kegotong royongan yang tinggi. Demikian tinggi sikap gotong royong masyarakat, sampai-sampai dua kali berturut-turut watak indah itu, mendapat nilai tertinggi dari beberapa lembaga dunia, dalam kurun waktu dua tahun berturut-turut.
Kegotong royongan itu, dalam segala hal, terutama menyangkut kepentingan saling membantu mereka, yang sedang menghadapi masalah. Apalagi, menyangkut duka nestapa kematian, yang tak dapat dinilai dari apapun.
Semangat itu seharusnya mengemuka pada seluruh rakyat negeri ini tanpa kecuali. Seluruh aktivitas, apalagi yang bernuansa kepentingan kekuasaan paling tidak ditunda dulu waktunya. Seluruh energi dikerahkan pada upaya membantu rakyat yang sedang ditimpa musibah.
Yasin dan tahlil masih akan terus mengalir setidaknya selama tujuh hari kedepan, masih basah pusara para korban, luka masih menganga dan sebagian masih terkulai tanpa daya di rumah sakit. Solidaritas dunia telah terlihat jelas, sehingga sebelum pertandingan bola, seluruh pemain di berbagai negara di dunia, mengheningkan cipta, tanda duka, serta doa kepada mereka yang telah menghadap Yang Kuasa. FIFA sendiri, mengibarkan bendera setengah tiang seluruh negara anggotanya sebagai bentuk kepedulian serta empati kepada korban kerusuhan di Malang. Bahkan Paus Fransiskus berdoa khusus untuk para korban tragedi Kanjuruhan.
PDI Perjuangan secara berjenjang telah mengerahkan seluruh kekuatannya untuk membantu para korban dan keluarganya. Belajar dari kejadian tragis ini, PDI Perjuangan juga mendesak agar perlu investigasi menyeluruh, agar kejadian tragis itu tidak terulang kembali.
Ada banyak pekerjaan rumah yang harus dituntaskan. Membenahi tata kelola sepakbola, memberi asa dan daya kepada korban, memperbaiki protokol pengamanan, menyediakan infrastruktur memadai. Pekerjaan ini tidak cukup dikerjakan oleh pemerintah. Membutuhkan tumpuan banyak pihak. Hal itu akan mudah bila kita semua berperasaan sama, tukar beban bersama dalam kegotong royongan.
Semangat gotong royong, yang telah berurat akar pada seluruh rakyat negeri ini, tidak boleh terkikis kepentingan politik sesaat. Seperti kata Cicero, hukum pucaknya adalah keselamatan rakyat. Itu artinya, seluruh energi pemerintahan semata demi keselamatan dan kepentingan rakyat. Apalagi, ketika rakyat sedang berduka. Tidak ada alasan apapun yang dapat menjadi pembenar untuk melakukan aktivitas, yang sama sekali tidak berhubungan dengan kepentingan rakyat.
Ayo terus dijaga semangat kegotong royongan, agar tidak terkikis kepentingan instan segelintir orang. (*)