JAKARTA, Koranmadura.com – Peneliti Utama Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Siti Zuhro merespons positif munculnya nama Puan Maharani sebagai salah satu calon presiden (capres) potensial pada Pemilu 2024 mendatang.
Dalam diskusi Politik Indonesia Point bertajuk “Saatnya Presiden Perempuan Lagi” di Jakarta, Sabtu 29 Oktober 2022 lalu, Siti Zuhro mengungkapkan, Puan Maharani sudah mempunyai pengalaman cukup panjang an terbilang matang dalam bidang politik. Pilpres 2024, kata dia, adalah saat yang tepat untuk Puan Maharani “naik kelas” menjadi Presiden.
Lebih dari itu kehadiran Puan Maharani adalah kerinduan banyak perempuan di Indonesia yang menginginkan kepemimpinan nasional dikendalikan perempuan. Dengan jumlah mayoritas penduduk adalah perempuan maka sangat wajar jika perempuan harus turun gunung untuk mengambil alih kepemimpinan nasional.
“Momentum Ibu Puan Maharani adalah saat ini. Ibarat buah, beliau sudah matang pohon, jadi sudah saatnya. Beliau toh bukan ujug-ujug muncul. Awal sekali menjadi anggota partai dulu, maju sebagai anggota DPR RI, Ketua Fraksi, Menteri dan saat ini Ketua DPR RI perempuan pertama, maka waktunya untuk jadi Presiden,” kata Siti Zuhro.
Dia meneruskan, “Saya dukung beliau maju apalagi sebagai sesama perempuan, saya dukung perempuan jadi presiden. Itu sikap saya.”
Masyarakat, khususnya perempuan, harus memiliki preferensi politik untuk memilih calon presiden sesama perempuan. Sebab sudah sekian lama perempuan belum mendapat tempat yang betul terbuka luas di masyarakat untuk menjadi pemimpin.
“Karena sesungguhnya kemampuan perempuan itu tidak kalah bahkan bisa jauh melampaui laki-laki. Saya selalu senang jika ada perempuan yang maju jadi Calon Presiden seperti Ibu Puan. Maka seharusnya perempuan Indonesia mendukung dengan semangat perempuan dukung sesama perempuan,” ucapnya.
Lebih dari itu pemimpin perempuan memiliki keunggulan tersendiri antara lain memiliki kepekaan emosional, empati dan simpati yang baik, sangat detail, dan kehalusan Budi bahasanya membuat banyak persoalan bisa teratasi dengan baik.
“Banyak persoalan selama ini terkait perempuan seperti kekerasan, ketimpangan, kematian ibu dan anak, stunting atau gizi buruk, atau perlakuan diskriminatif itu akan lebih mudah diatasi oleh sesama perempuan karena dia paham dengan baik kondisi dan persoalannya. Apa yang jadi persoalan perempuan itu butuh sentuhan perempuan,” kata Siti Zuhro.
Siti Zuhro mencontohkan keberpihakan Puan Maharani pada isu kekerasan seksual, stunting dan kesempatan kerja untuk perempuan yang pada saat Puan menjadi Menko PMK dan Ketua DPR RI saat ini keberpihakannya sangat jelas.
“Saya membayangkan soal-soal seperti ini akan sulit diatasi jika bukan oleh perempuan itu sendiri. Jadi sangat wajar dan sudah saatnya kita memang harus punya presiden perempuan termasuk Ibu Puan tentunya,” ucap Siti. (Sander)