SAMPANG, koranmadura.com – Salah satu ruang belajar di SDN Madulang 2, Kecamatan Omben, Sampang, ambruk diduga lantaran tidak pernah dirawat pasca terjadi sengketa lahan dengan masyarakat setempat. Adanya polemik itu, pihak sekolah mengharapkan Dinas Pendidikan (Disdik) setempat segera menindaklanjutinya.
Kabid Pembinaan Sekolah Dasar (SD), Dinas Pendidikan Kabupaten Sampang, Muhammad Imran mengaku sudah menerima laporan dari pihak SDN Madulang 2, baik kondisi salah satu ruang kelas roboh maupun adanya polemik di bawah terkait adanya warga yang mengklaim kepemilikan lahan di sebagian lahan sekolah.
“Ambruknya itu karena tidak dirawat, ya, karena sengketa itu. Dan yang disengketakan hanya ruang kelas itu saja, karena ruang kelas yang lain masih ditempati untuk KBM,” ujarnya, Rabu, 12 Oktober 2022.
Selain itu, pihaknya mengaku sudah berkoordinasi dengan pihak aset yaitu Badan Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BP2KAD) setempat. Pihaknya mengaku masih terus berkoordinasi dengan bagian aset guna menindaklanjuti di SDN Madulang 2 tersebut.
“Penyelesainnya tidak segampang itu, karena semua ada prosedurnya. Makanya, kami juga mau konsultasi ke bagian aset. Sejauh ini belum ada yang menggugat ke pengadilan, dan selama ini hanya di bawah saja yang hanya sebatas mengklaim,” pungkasnya.
Sementara Kabid Pengelolaan Aset, Badan Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BP2KAD) Kabupaten Sampang, Bambang Indra Basuki menyatakan bahwa pihaknya sudah mendapat informasi dan koordinasi dengan pihak Disdik Sampang.
Pihaknya menyatakan sejauh ini masih terjadi klaim sepihak oleh warga setempat atas kepemilikan lahan satu ruang kelas di SDN Madulang 2, Omben.
“Yang diklaim warga itu hanya sebagian saja, kalau luasnya belum tahu. Tapi yang jelas satu ruang kelas yang roboh itu,” katanya.
Sedangkan pihaknya dalam menginventaris aset-aset daerah yaitu didapatkan dari data-data yang diajukan oleh sejumlah dinas ke pihak aset daerah. Pihaknya mengaku, sebelumnya sudah melakukan langkah-langkah dan upaya untuk menginventarisir aset daerah dengan proses sertifikasi.
“Klaim itu sudah lama, bahkan kami sudah melakukan langkah-langkah bersama UPTD di wilayah itu untuk proses penyelesaian dan sertifikasi. Akan tetapi kondisi di bawah tidak memungkinkan sehingga upaya sertifikasi lahan di SDN Madulang 2 belum terlaksana hingga saat ini,” paparnya.
Sebelumnya Kepala Sekolah SDN Madulang 2, M Fadiliddin Thohir mengatakan ambruknya gedung kelas itu terjadi pada Jumat, 7 Oktober 2022 lalu, sekitar pukul 05.30 wib, pagi hari.
Menurut dia bahwa ambruknya gedung itu bukan disebabkan oleh bencana alam, karena kala itu tidak sedang hujan ataupun angin kencang.
“Bangunan RKB itu dibangun pada 2012 lalu, dan ambruknya bukan karena akibat bencana alam tapi memang tidak terawat pasca lahannya menjadi sengketa dengan warga yang mengklaim lahan itu,” katanya, Selasa, 11 Oktober 2022. (MUHLIS/DIK)