Oleh : MH. Said Abdullah
Sebuah acara penting bernilai strategis Forum Agama G20 atau dikenal dengan R20 belum lama ini berlangsung di Hotel Grand Hyatt Nusa Dua, Bali pada Rabu (02/11/2022). Dibuka tanpa seremoni gempita dan hanya dengan penabuhan rebana tamborin di atas panggung oleh beberapa tokoh dunia yang hadir, acara Forum Agama R20 seakan menjadi pengantar spiritual acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20, yang akan berlangsung pertengahan November.
Forum agama terbesar di dunia itu, diprakarsai Pengurus Besar Nahdatul Ulama (NU) dan Liga Muslim Dunia atau Muslim World League (MWL). Acara dihadiri tak kurang dari 400 para pemimpin agama, sekte, dan aliran kepercayaan dari berbagai negara dengan jutaan pengikut dari dalam dan luar negeri.
Setidaknya dua pembahasan utama yang didiskusikan oleh tokoh-tokoh agama yang hadir dalam Forum R20. Pertama, potensi konflik yang muncul akibat pemahaman ekstrem yang dipahami oleh penganut agama-agama. Permasalahan kedua yang dibahas dalam forum tokoh agama dunia adalah tawaran nilai luhur dari agama sebagai bagian dari ekonomi dan politik global.
Dua topik utama bahasan sangat jelas menyangkut persoalan dunia kekinian, termasuk di Indonesia. Topik pertama, tentang pemahaman keagamaan ekstrim belakangan makin menggejala mempengaruhi sebagian masyarakat di berbagai penjuru dunia. Pengerasan kelompok bermunculan, yang bila dibawa ke arena politik sangat mudah memicu tindak kekerasan.
Kajian-kajian akademis dan fakta-fakta sosial di berbagai negara, terutama di Timur Tengah, membuktikan bahwa pemahaman keagamaan ekstrim menjadi faktor pemicu berbagai tindak kekerasan dan perang saudara berlatarbelakang agama. Agama suci pembawa pesan perdamaian karena kesalahan pemahaman berubah wujud menjadi tergambar tindak kekerasan.
Topik bahasan pertama ini makin memberikan pembenaran dan legitimasi kepada pemerintah yang secara tegas telah melarang berbagai organisasi terindikasi pemahaman ekstrim seperti HTI yang terus menerus memaksakan konsepsi khilafah dan menolak mentah-mentah sistem lain. Demikian pula pelarangan berbagai LSM yang cenderung melakukan tindakan kekerasan seperti FPI dan organisasi lainnya.
Dalam beberapa pekan belakangan ini Densus 88 makin sering menemukan dan menangkap tokoh-tokoh yang diduga terindikasi teroris, yang menegaskan betapa pemahaman keagamaan ekstrim demikian menyelusuf ke berbagai sektor kehidupan di tengah masyarakat.
Topik kedua tentang tawaran nilai luhur dari agama sebagai bagian dari ekonomi dan politik global, tak kalah menarik terutama jika menelusuri salah satu akar permasalahan berbagai tindak kekerasan akibat pemahaman keagamaan ekstrim yaitu persoalan keterbelakangan ekonomi, yang mudah dieksploitasi untuk kepentingan politik kekerasan. Melalui pembahasan topik kedua ini Forum R20 menyampaikan pesan penting tawaran nilai luhur agama perlu mendapat tempat dalam pengembangan ekonomi dengan kesungguhan setiap pemerintah di dunia untuk berusaha mewujudkan keadilan dan kesejahteraan. Selalu ada persambungan ekstriminitas dan radikalisme dengan keterbelakangan ekonomi dan ketakadilan.
Pelaksanaan Forum R20 di Bali, menjelang pertemuan KTT G20, di Bali menyampaikan pesan strategis kepada dunia tentang urgensi kerukunan kehidupan ummat beragama, yang telah terwujud menjadi kehidupan keseharian masyarakat Indonesia.
Melalui Forum R20 itu, juga menegaskan bahwa moderasi beragama, yang menjadi identitas keterikatan keagamaan masyarakat Indonesia terbukti menjadi tali perekat kesatuan dalam keanekaragaman keterikatan keagamaan. Sebuah kondisi interaksi keagamaan indah, yang perlu terus dijaga seluruh rakyat Indonesia. (*)
*Ketua Banggar DPR RI.