Oleh : Miqdad Husein
KORAN MADURA – Maroko ke final Piala Dunia bukan lagi ibarat Pungguk merindukan bulan. Kini sudah jadi harapan realistis. Tinggal selangkah lagi. Bukan mustahil.
Maroko kini bukan lagi Tim kejutan Piala Dunia. Tim berjulukan Singa Atlas itu telah menjelma menjadi salah satu tim elit sepakbola dunia, mewakili kawasan yang selama ini masih dianggap episetrum kejutan, Afrika.
Menempati salah satu dari Tim Semi Final perhelatan Piala Dunia 2022 cukup menjadi bukti riil.
Korea Selatan pada Piala Dunia 2002 memang sempat membuat kejutan, ketika juga mencapai prestasi serupa. Namun, kali ini capaian Maroko lebih spesial karena di Qatar sebagai Tim tamu sementara Korea Selatan saat itu merupakan salah satu tuan rumah bersama Jepang.
Namun tetap prestasi keduanya, mengharumkan Asia dan Afrika, yang masih dianggap kawasan tim sepakbola kelas dua, dibawah Amerika Latin dan Eropa.
Tapi kini, Amerika Latin dan Eropa tak bisa lagi memandang sebelah mata tim sepakbola dari dari dua kawasan itu.
Sepanjang Piala Dunia 2022 bukan hanya Maroko yang memperlihatkan prestasi spektakuler. Arab Saudi wakil Asia, menghancurkan Argentina, Jepang menjadi salah satu Tim yang ikut andil memulangkan Tim elit Eropa, Tim Panser Jerman. Jepang lolos sebagai juara group. Korea Selatan menggusur salah satu tim elit Amerika Selatan Uruguay. Jangan lupakan pula Australia.
Jejak Maroko di Semi Final kali ini jelas bukan lagi sebagai kejutan. Lolos penyisihan group saja sudah luar biasa. Apalagi pada 16 besar memulangkan Tim Matador Spanyol. Tidak berhenti. Maroko terus melaju dan pada delapan besar membuat Cristian Ronaldo sesegukan menangis di lorong ruang ganti karena Portugal harus gigit jari.
Dari sini saja terlihat jelas betapa dasyat sebenarnya kekuatan Maroko hingga membuat Prancis, lawan di semi final harus memutar otak, bagaimana menjinakkan Singa Atlas. Prancis layak berhati-hati, karena apa yang diperlihatkan Maroko bukan lagi sekedar kebetulan.
Maroko kini mewujud benar-benar menjadi Singa, yang membuat tim besar Spanyol dan Portugal tak lebih dari sekedar kucing lucu.
Pilar utama Portugal, Bernardo Silva sebenarnya secara tersirat sudah mengingatkan ketika merespon komentar jurnalis yang meliput Piala Dunia.
Seorang wartawan sebelum pertadingan mengatakan Portugal diunggulkan dari Maroko. Jawaban yang juga penggawa Manchester City itu penuh waspada, “Spanyol juga sebelumnya diunggulkan,” tutur Silva, memberikan isyarat bahwa Maroko tak bisa lagi dianggap pendatang imut-imut karena terbukti telah memulangkan Tim Matador. Dan pernyataan itu terbukti ketika Portugal harus menghapus impian menjuarai Piala Dunia.
Masyarakat duniapun kecewa, yang mengharap pertemuan Ronaldo vs Messi di Final.
Sebagai Tim, Maroko memang terkesan tampil hanya mengandalkan serangan balik yang kelabakan menghadapi serangan lawan. Namun, sesungguhnya permainan Maroko bukan sebagai ketakberdayaan. Apa yang dilakukan
Maroko saat menghadapi tim-tim besar sepenuhnya disadari dan dirancang seperti istilah dalam Pemilu negeri ini: sistematis massif dan tertruktur. Semua merupakan strategi jitu atas dasar pertimbangan kondisi lawan.
Semua lawan hebat dibiarkan asyik menyerang dan Maroko terkesan klimpungan bertahan. Perangkap jitu. Demikian bola berhasil direbut dan dikuasai Maroko menghentakkan lawan dengan permainan khasnya perpaduan bola pendek cepat, lalu melayang jauh ke areal lawan hingga membuat pertahanan lawan kocar kacir. Lihatlah ketika Maroko mengalahkan Portugal.
Dibiarkan seluruh pemain Portugal mengepung, lalu ketika bola direbut, berbalik menjadi serangan balik mematikan. Pertahanan Portugal terlambat dan harus dibayar mahal dengan gol dari lompatan bagai Singa dari Youssef En-Nesyri. Cristian Ronaldopun yang sudah diturunkan tak berdaya dan harus angkat koper lebih awal.
Mungkin menarik mengingat pernyataan pundit Gary Neville pada Piala Dunia 2018 saat diminta komentar Prancis menjadi juara. Padahal Prancis praktis hampir sepanjang Piala Dunia 2018 selalu kalah ball possession (penguasaan) bola dari lawannya. “Jangan terkecoh penguasaan bola Prancis,” katanya. Bahwa penguasaan bola Prancis sebenarnya tak lebih dari ‘akal-akalan.’
Dan terbukti sekalipun kalah penguasaan bola, demikian mendapat bola serangan Prancis lebih lebih efektif dan mematikan.
Maroko sekarang mungkin seperti apa yang dilakukan Italy pada tahun 1982, saat menghadapi Argentina dan Brasil pada putaran kedua. Ketiga Tim, pada putaran kedua, dengan sistem saat itu bertemu, harus saling berjibaku. Italy sadar menghadapi Brasil yang diperkuat jenius bola Zico dan juara bertahan Argentina juga bertabur bintang, merupakan tim underdog.
Siapapun saat itu, tidak ada yang menjagokan Italy.
Tapi apa yang kemudian terjadi. Brasil yang diperkuat Socrates, Zizo, Falcao, Corezo yang dianggap barisan gelandang terbaik dunia, harus tersungkur dengan strategi Catenaccio (gerendel) Italy. Pelatih Italy Enzo Bearzot dengan jitu menerapkan pertahanan gerendel yang hanya menempatkan Paolo Rossi sendirian di depan, seperti petugas siskamling menunggu pencuri.
Rossi saat itu baru saja bebas dari skandal perjudian Totonero. Bola hanya berputar pada sepertiga bahkan seperempat lapangan Italy. Namun demikian bola dikuasai, ‘petugas siskamling’ menusuk lawan tanpa ampun. Menangislah Brasil yang kuat dan indah serta sempat mempesona dunia, yang dilatih Tele Santana.
Dibanding Enzo Bearzot, pelatih Italy yang dilakukan pelatih Maroko Walid Regragui sangat berbeda. Italy bertahan total dengan membiarkan lawan mengepung.
Lalu, ketika bola dikuasai ditendang jauh ke depan kepada Rossi yang memposisikan diri secara cerdik, menghindari perangkap offside. Strategi Walid bertahan dan memainkan bola dengan cerdik perpaduan teknik tinggi, dari kaki ke kaki sangat cepat hingga membingungkan pertahahan lawan. Sebuah seni serangan balik menegangkan dan mematikan.
Dibutuhkan skill dan kerja sama tim serta kecepatan luar biasa dalam konsep Walid. Bertahan dan menyerang habis bersama. Dan saat serangan gagal, semua pemain kembali bertahan susah payah. Sebuah tontonan sepakbola tetap terlihat dan bahkan terasa menegangkan. Ada perpaduan ketegangan bertahan dan menyerang, yang mudah sekali memicu andrenalin penonton.
Walid menyadari meramu tim dengan strategi kekuatan skill, kecepatan dan kerja sama hebat, sangat tidak mudah. Skill pemain Maroko, yang bertaburan di liga-liga terkemuka Eropa tidak ada masalah.
Demikian pula kecepatan, yang telah menjadi karakter pemain Afrika. Namun, soal kerja sama tim, pekerjaan paling berat semua pelatih Tim Afrika. Karena itu Walid, didukung jajaran pengelola sepakbola Maroko menerapkan konsep seakan Tim keluarga.
Para pemain yang dibawa ke Qatar, termasuk dirinya, membawa keluarga; ya istri, ya ibu serta anak-anak. Bukan hal aneh jika markas Tim Maroko lebih mirif suasana family ghethering ketimbang markas Tim Sepakbola. Hiruk pikuk celoteh anak, ibu, lebih sering terdengar ketimbang komando suara pelatih. Begitulah.
Mereka juga dibiayai saat ikut menyaksikan pertandingan. Dan masyarakat duniapun menyaksikan keharuan luar biasa saat bek kanan Maroko Acraf Hakimi dan pelatih Walid, usai pertandingan bergegas menjumpai, memeluk dan mencium ibunya.
Sebuah pemandangan yang praktis tak pernah terjadi di Piala Dunia, yang biasanya selalu diwarnai soal klasik sekspakbola, istri dan pacar.
Maroko selain menari-nari di lapangan seperti melengkapi perhelatan Piala Dunia yang saat ini bebas dari alkohol dan lebih bersuasana kekeluargaan hingga relatif sepi kekhawatiran keributan.
Sepakbola benar-benar menjadi kegembiraan keluarga, anak-anak kecil bahkan bayi, istri, ibu dan bahkan cucu. Ini membuat sepakbola, diyakini akan jauh dari aroma kematian seperti di Kanjuruhan, Malang beberapa waktu lalu. Sebuah pembelajaran indah untuk sepakbola negeri ini. (*)