Oleh: Miqdad Husein
Sepuluh hari mengelilingi Pulau Jawa, untuk menghadiri beberapa acara pernikahan, ternyata masih saja menemukan kebiasaan kurang baik tentang perlakuan pada makanan.
Kebiasaan membuang makanan masih terjadi bahkan cenderung tidak mengalami perubahan. Sebuah ironi, yang masih berlanjut hingga terkesan terjadi pembiaran.
Tiga acara pernikahan dalam penyuguhan makanan menggunakan cara seperti nasi rames. Makanan disajikan lengkap diletakkan pada satu piring. Undangan langsung menikmati di tempat duduk tanpa perlu mengambil sendiri.
Cara ini praktis bagi sohibul hajat disamping relatif lebih hemat. Namun, jika salah ukuran porsi, berakibat tidak enak dipandang mata. Makanan tersisa dalam jumlah sangat banyak.
Begitulah yang terjadi pada tiga tempat acara. Makanan tersisa terutama di kalangan kaum perempuan. Jika empat sampai lima piring yang tersisa dikumpulkan sudah dapat menjadi satu porsi.
Bisa dibayangkan jika ada undangan 1000 orang. Paling tidak sekitar 150 sampai 200 porsi makanan ‘sisa’ terbuang sia-sia.
Jumlah itu bisa membengkak lebih banyak lagi jika resepsi menggunakan prinsip yang populer disebut Usdek (unjukan, sop, dahar, dessert dan kundur atau pulang).
Itu berarti ada beberapa makanan tersaji yang harus dinikmati para undangan yaitu kue dan minuman yang diterima saat memasuki ruangan, lalu sop sebagai makanan pembuka, makanan utama, lalu dessert alias makanan penutup. Sudah hampir pasti sisa berserakan terutama dari makanan utama.
Cara makan bergaya Usdek dan rames ini, jika terjadi tumpukan makanan sisa melimpah sepenuhnya kesalahan penyaji.
Tamu undangan seperti tak berdaya menerima makanan yang sudah tersaji di depan mata. Mau tak mau ketika kenyang dan makanan masih banyak ya ditinggalkan. Jadi tersisa.
Berbeda dengan bentuk prasmanan. Para undangan mengambil makanan memutuskan sendiri berapa banyak yang akan dinikmati. Di sini lagi-lagi terlihat kebiasaan mirif penyaji yang salah hitung.
Mengambil makanan terlalu banyak karena mengikuti selera mata dan bukan kebutuhan. Akibatnya, makanan sisa tak kalah jumlahnya dengan methode penyajian rames dan Usdek.
Dua methode penyajian ini sempat di Kabupaten Sumenep dirobah. Makanan disajikan mirif berbentuk berkat dalam bentuk nasi kotak. Undangan dapat membawa pulang atau kalau memang sedang ‘kelaparan’ dapat menikmati di gedung tempat acara.
Tingkat ketersisahan praktis bisa nol, terutama jika undangan kaum perempuan. Karena biasanya hampir seratus persen dibawa pulang. Para kaum hawa itu, biasanya dalam sistem Usdek, cukup menikmati makanan kecil dan makanan pembuka, serta penutup.
Prasmanan yang tersisa memang agak sulit diatasi karena lebih merupakan kebiasaan. Sangat tergantung kesadaran pribadi masing-masing. Jika tuan rumah memiliki keberanian, biasanya mengingatkan para undangan agar jangan sampai ada makanan tersisa.
Peringatan ini harus menggunakan bahasa sangat arif, agar tak ‘dicurigai’ tuan rumah terkesan pelit atau persediaan kurang cukup. Bikin malu, katanya.
“Silahkan para undangan menikmati hidangan yang tersedia, dengan harapan jangan ada yang tersisa di piring-piring,” begitu biasanya, kalimat yang biasa digunakan. Sayangnya, sepanjang penulis hadir dalam puluhan undangan, baru sekali himbauan itu terdengar.
Jadilah, membuang makanan masih selalu terjadi (bukan sering lagi) pada setiap acara, baik melalui penyajian rames, Usdek maupun prasmanan. Ini jelas sebuah malapetaka yang makin menguatkan masyarakat negeri ini sebagai pembuang makanan terbanyak urutan kedua, di dunia. Sebuah prestasi menyedihkan dan bahkan super ironis.
Menyedihkan karena jelas merupakan kemubaziran luar biasa, di tengah berbagai problem keterbatasan makanan. Ironis, karena di tengah makanan tersisa, masih banyak masyarakat lain yang kekurangan makanan. Jangan lupa, makanan yang tersisa rata-rata berkualitas baik dan bergizi tinggi.
Problem ini perlu mendapat perhatian serius terutama kalangan pemerintah melalui himbauan atau kampanye massal. Keikutsertaan pemerintah untuk menghindari kesan dan ewuh pakewuh sohibul hajat, yang khawatir dituduh pelit dan persediaan makanan terbatas.
Para tokoh agama juga jangan jemu terus mengingatkan para jamaahnya, agar ingat bahwa membuang makanan itu mubazir. Dan perbuatan mubazir temannya setan.
Soal makanan ini memang terkesan ecek-ecek. Tapi kalau dicermati luar biasa dampaknya jika benar-benar terjadi pada sebagian besar masyarakat negeri ini. Artinya, jika terjadi pada satu dua orang memang kecil, namun jika terjadi pada masyarakat yang berjumlah jutaan, bisa dibayangkan betapa besar jumlahnya. Belum lagi, akibat lain yaitu sampah menumpuk.
Jadi ini, bukan lagi soal ecek-ecek. Super serius. Siapapun harus terpanggil untuk menyelesaikan.