SAMPANG, koranmadura.com – Dirasa sangat memberikan dampak positif di saat terjadi bencana alam, keberadaan Santri Tangguh Bencana (Sanggub) di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, diharapkan menjamur di seluruh Pondok Pesantren (Ponpes).
Pernyataan itu terlontar dari salah satu pelopor dari Sanggub, Ponpes Assirojiyyah, Kajuk yang juga menjadi ketua Sanggub Sampang Muh. Amin saat menghadiri acara podcast yang digelar oleh Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) setempat beberapa waktu lalu.
Ketua Sanggub Ponpes Assirojiyyah Sampang, Muh Amin mengatakan, keberadaan Sanggub sangat penting untuk dibentuk di pondok pesantren guna mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) dari kalangan santri manakala terjadi bencana serta meminimalisir terjadi korban di lingkungan pondok.
“Dibentuknya Sanggub dampak sangat luar biasa, santri selain mempelajari ilmu agama, juga dapat ilmu untuk kesiapsiagaan di kala ada bencana. Santri tidak lagi bingung karena sudah mendapat bekal ilmu tentang kebencanaan,” katanya.
Untuk itu, Muh Amin berharap keberadaan Sanggub bisa menjamur di pondok-pondok pesantren yang ada di Sampang. “Semoga ponpes yang lainnya juga membentuk Sanggub,” harapnya.
Sementara Sekjen Forum PRB Jatim Sudarmanto membenarkan pelopor pembentukan Sanggub di Jawa Timur yaitu pertama kali dilakukan di Ponpes Assirojiyyah Sampang, Madura. Sedangkan untuk materi-materi yang diberikan kepada Sanggub yaitu indikatornya sama dengan materi-materi kebencanaan yang ada di desa atau Desa Tangguh Bencana (Destana). Namun begitu lebih difokuskan dan disesuaikan untuk kalangan pondok pesantren.
“Indikatornya yang diberikan kepada Sanggub seperti kajian risiko, pengenalan managemen bencana, penyusunan rencana kontijensi (renkon) serta berkenaan dengan jalur evakuasi dan rencana evakuasi. Nah indikator-indikator itu sama dengan yang ada di dalam Destana,” paparnya. Selasa, 28 Februari 2023.
Mbah Darmo sapaan akrab Sudarmanto menyatakan, materi-materi yang harus diberikan kepada Sanggub juga tidak lepas dengan materi kelokalan yang disesuaikan dengan kondisi pondok pesantren yang ada.
“Misal doa-doa berkenaan dengan kebencanaan. Nah kelokalan ini mungkin berbeda di setiap pondok. Akan tetapi secara umum materi harus diberikan kepada Sanggub, itu sama dengan yang diberikan kepada Destana. Hanya untuk kegiatanya disesuaikan dengan locus pondok,” terangnya.
Sekjen Forum PRB Jatim ini berharap ke depannya Sanggub terus dilakukan secara masif di masing-masing Ponpes di Jatim yang utamanya memiliki ancaman bencana. Pihaknya mengaku, peristiwa yang terjadi di Kabupaten Pamekasan, Madura, beberapa waktu lalu tidak terulang kembali.
“Peristiwa di Pamekasan dulu, ketika ada pondok dan ada potensi bencananya, di saat terjadi ternyata belum memahami, sehingga kemudian menimbulkan korban. Nah adanya Sanggub ini, sebenarnya sejak dini mengenalkan tentang potensi ancaman dan risiko bencana dan ketika terjadi bencana, itu ada upaya-upaya penyelamatan,” harapnya. (MUHLIS/ROS/VEM)