Oleh: Miqdad Husein
Terpilihnya Erick Thohir sebagai Ketua Umum PSSI seperti angin segar di tengah kegersangan dunia sepakbola nasional.
Mencuat harapan besar terhadap kemajuan dunia sepakbola Indonesia. Menteri yang cukup sukses membenahi BUMN itu diharapkan menerapkan tangan dinginnya membenahi PSSI.
Harapan yang tidak mudah memang. Dunia sepakbola negeri ini terlalu kompleks, penuh carut marut dari tingkatan paling atas sampai paling bawah pada hampir seluruh aspek.
Apalagi, sepakbola, olahraga paling populer itu bersentuhan dengan halayak luas; ya penonton, media, sponsor, penjudi dan serenceng pihak, yang berkaitan langsung maupun tak langsung. Jelas berbeda dengan BUMN, yang memiliki mekanisme, ritme yang baku dan mudah terlihat.
Namun optimisme layak diarahkan pada Erick Thohir. Bukan hanya atas dasar tangan dinginnya mengelola BUMN.
Erick cukup lama bergelut di dunia bola. Ia bahkan melanglang buana ke salah satu negara bola, Italy.
Di sana Erick pernah menjadi bagian atau pemilik klub elite Inter Milan. Siapa yang tak kenal sepakbola Italy dengan konsep Catenaccio dan Tim Inter Milan.
Berada di salah satu klub elite dunia, di negara bola macam Italy tentu memberikan lanskap pemikiran luar biasa yang diharapkan dapat diterapkan di negeri ini. Profesionalisme keseluruhan pengelolaan bola di Italy tentu telah dihafal di luar kepala.
Apalagi Erick tak hanya sekedar memiliki saham tapi juga menjadi bagian aktif dari menejemen Inter Milan.
Dengan latar belakang pengusaha profesional, ditambah jam terbang dalam dunia sepakbola manca negara seperti Italy, yang telah menjadikan pengelolaan sepakbola seperti industri, menggantungkan harapan pada Erick memiliki dasar kuat.
Tantangan berat terbentang. Pertama dan utama Erick perlu membenahi jajaran kepengurusan dari tingkat pusat sampai tingkat paling bawah agar tidak sekedar hanya menjadi kumpulan nama-nama. Pengelolaan bola saat ini tidak bisa sambil lalu.
Keseluruhan pengurus PSSI harus bergerak selayaknya perusahaan profesional. Bukan seperti organisasi kebanyakan, yang jumlah pengurus berjubel tapi yang aktif hanya segelintir orang. Tertib organisasi harus ditegakkan.
Seluruh jajaran pengurus bergerak aktif sesuai bidang. Disiplin organisasi ditegakkan. Mereka yang hanya ‘nampang nama doang’ dipersilahkan angkat kaki.
Seluruh jajaran pengurus bertindak dan bekerja profesional. Bolehlah diterapkan disiplin militer seperti di Korea Selatan.
Mengapa mutlak Erick Thohir perlu membenahi keseluruhan menejemen PSSI? Tidak perlu cerdas memahaminya.
Sepakbola merupakan olahraga rakyat, melibatkan rakyat dalam jumlah besar, yang bila sedikit salah saja, kejadian seperti tragedi Kanjuruhan, atau paling tidak tawuran antar pemaian, antar penonton akan menjadi atraksi sehari-hari.
Bagaimana mungkin menertibkan pertandingan sepakbola, yang melibatkan masyarakat dalam jumlah massal jika para pengurus kerja asal-asalan.
Pengurus profesional saja, karena sepakbola melibatkan masyarakat dalam jumlah besar, masih saja saja selalu ada ancaman kerusuhan, apalagi jika di internal pengurus amburadul.
Jangan mimpi dapat mendisiplinkan para pemain dan penonton jika komisi disiplin ‘tidak disiplin.’ Wasit akan mudah tergoda bermain mata jika komisi disiplin wasit, suka lirik sana sini.
Tak akan ada keberanian mendisiplinkan pemain, wasit, pengelola klub, penonton jika jajaran pengurus amburadul.
Setelah mendisiplinkan diri penguruslah, baru PSSI ‘wajib’ bertindak tegas dan kalau perlu ‘keras’ kepada siapa saja, yang melanggar aturan. Pemain terlibat perkelahian apalagi sampai memukul wasit bukan hanya kartu merah, tapi juga hukuman berat. Kalau perlu seperti penjaga gawang Chile Roberto Rojas, dihukum seumur hidup tidak boleh main.
Masyarakat tentu mengetahui di negara yang sepakbolanya maju, disiplin dan ketaatan pemain terhadap keputusan wasit tak bisa ditawar. Jangan coba-coba pemain protes sampai mendorong, memukul wasit.
Menyentuh saja ketika protes akan dapat hadiah kartu merah.
Bahkan, terhadap keputusan wasit yang salah sekalipun, pemain tidak boleh berlebihan memprotes. Mengomel boleh, itupun secukupnya.
Paling aktual ketika Arsenal dirugikan dalam keputusan VAR dalam pertandingan melawan Brentford (11/2), dua pekan lalu. Termasuk yang terjadi Sabtu (25/2) ketika berhadapan dengan Leicester City. Pada kasus kedua, tak terlalu heboh karena Arsenal menang.
Namun pada kasus pertama, Arsenal yang dirugikanpun hanya bisa “mengomel.” Komisi Wasit Premier League, sempat menyampaikan pernyataan maaf.
Keputusan wasit kontroversial pernah terjadi dalam Piala Dunia 2010 ketika tendangan Frank Lampard ke gawang Jerman yang dalam tayangan ulang jelas-jelas masuk, tidak disahkan wasit dari Uruguay Jorge Larrionda. Saat itu teknologi VAR belum diberlakukan.
Tapi pemain Inggris setelah protes sekadarnya menerima keputusan.
Deretan kasus keputusan salah wasit dan ketaatan pemain menjadi contoh tentang bagaimana seluruh pihak yang menjadi bagian pertandingan menjaga ketertiban dengan kesungguhan mematuhi keputusan apapun.
Resikonya sangat berbahaya jika pemain dan official memaksakan penolakan hingga dapat menyulutkan emosi pendukung tim yang dirugikan.
Keselamatan manusia menjadi pertimbangan utama, dan sepakbola tetap sebagai sebuah permainan.
Tentu saja semua kasus kesalahan keputusan wasit bukan merupakan pembenaran sehingga wasit dapat sewenang-wenang.
Perlindungan pada keputusan wasit jelas didahului sikap profesional dan jaminan integritas wasit.
Jika wasit terbukti bermain mata, ia bukan hanya seumur hidup tak boleh bermain, sanksi pidana bisa mengancamnya. Begitulah seharusnya PSSI mendisiplinkan wasit dan pemain.
Bagaimana dengan penonton dan official? Hal yang sama juga diberlakukan kepada keduanya. Penonton masuk lapangan ketika pertandingan berlangsung, membuat rusuh, seumur hidup tidak boleh hadir ke lapangan.
Official ngeyel, juga dikenakan sanksi berat. Penonton yang kedapatan membawa dan mulut beraroma alkohol, dilarang masuk lapangan.
Mabok adalah pintu utama kerusuhan. Piala Dunia 2022 tertib antara lain karena ada larangan membawa minuman beralkohol ke arena pertandingan.
Erick Thohir yang pernah mengelola Tim Inter Milan, Italy, tentu mengetahui bahwa selalu ada gangguan dalam pengelolaan dan pertandingan sepakbola. Namun, ketika ada ‘gangguan’ hukum ditegakkan, hukum tegas sehingga event sepakbola keseluruhan terselamatkan.
Juventus tergradasi, AC Milan dikurangi point, Paulo Rossi kena hukuman adalah contoh ketegasan penindakan hukum tanpa pandang bulu sekalipun kepada tim dan pemain elit.
Jika Erick Thohir ingin memenuhi dahaga prestasi sepakbola, ilmu dan praktek pengalaman Italia ‘wajib’ diterapkan dalam pengelolaan sepakbola nasional tentu saat di lapangan tak lupa bersama-sama kepolisian.
Potensi anak bangsa memadai, hanya tangan-tangan pengelola terampil yang selama ini belum ada.
Selamat berjuang Pak Erick Thohir.