SAMPANG, koranmadura.com – Upaya pemenuhan Indeks Ketahanan Daerah (IKD) dalam mengukur kapasitas penanggulangan bencana di wilayah Kabupaten/Kota, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jatim, kembali bentuk Desa Tangguh Bencana (Destana) di wilayah Kabupaten Sampang, Madura.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sampang, Asroni menyampaikan pembentukan Destana di wilayahnya dilakukan sejak 2019 lalu. Pembentukan Destana di Sampang sebanyak delapan Desa atau Kelurahan untuk pemenuhan IKD di Sampang hingga 2024 mendatang,.
“Sampai awal 2023 ini, Destana di Sampang sudah terbentuk sebanyak lima desa atau Kelurahan. Untuk titiknya yaitu di antaranya di Kelurahan Dalpenang, Gunung Sekar, Rong Tengah, dan Desa Jrengik. Saat ini Destana mulai dibentuk di Kelurahan Karang Dalem. Sampai 2024 mendatang harus terbentuk delapan desa atau kelurahan,” katanya, Kamis, 9 Februari 2023.
Menurut Asroni, pembentukan Destana yang sudah terbentuk di lima titik desa/kelurahan tersebut dibantu oleh BPBD Provinsi Jatim.
“Dibentuknya desa atau kelurahan tangguh bencana, harapannya secara mandiri sudah bisa dan siap menghadapi bencana ketika bencana tiba. Kalau misal bencana terjadi, minimal pribadi, keluarga, dan masyarakat bisa mandiri,” ujarnya.
Pihaknya tidak mengelak, urusan penanggulangan bencana tidak hanya dilakukan pemerintah, melainkan semua pihak harus dilibatkan.
“Unsur Pentahelix harus dilibatkan dalam urusan penanggulangan bencana. Artinya semua pihak harus bersinergi,” terangnya.
Sementara Fasilitator Destana, Alfin Zayn menyatakan keberadaan Destana yaitu Desa yang diharapkan mempunyai kemampuan mandiri untuk beradaptasi dan menghadapi potensi ancaman bencana serta memulihkan diri dengan segera dari dampak-dampak bencana yang merugikan. Hal tersebut juga tertuang dalam Perka BNPB Nomor 01 Tahun 2012, yaitu untuk mendorong terwujudnya ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana yang lebih terarah, terencana, terpadu, dan terkoordinasi.
“Selain itu juga mendorong sinergi dan integrasi seluruh program yang ada di desa/kelurahan. Dan yang terpenting yaitu agar desa dan masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bahaya dari dampak-dampak merugikan dari bencana mempunyai kemandirian. Selain itu juga upaya-upaya pengurangan bencana saat melakukan rencana pembangunan desa,” katanya.
Alfin Zayn yang juga pengurus Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Jatim ini juga menyatakan terbentuknya Destana juga diharapkan nantinya desa dan warganya memiliki kesiapan dan ketahanan menghadapi bencana serta kekuatan untuk membangun kembali kehidupannya setelah terkena dampak bencana.
“Fasilitasi Destana ini dilakukan selama seminggu dengan melibatkan 30 peserta dari berbagai unsur seperti keterwakilan pihak desa/kelurahan, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh perempuan, kader posyandu, serta dari pihak BPBD setempat,” paparnya.
Pihaknya juga menyampaikan, dalam fasilitasi Destana tersebut pihaknya memberikan materi kebencanaan seperti Penyusunan Kajian Risiko Bencana (KRB), Rencana Penanggulangan Bencana (RPB), Rencana Aksi Komunitas (RAK), SOP Peringatan Dini, SOP Evakuasi, Pembuatan peta jalur evakuasi.
“Selanjutkan peserta Destana juga diberikan materi penyusunan Rencana Kontinjensi Desa/Kelurahan, Pelatihan PPGD, serta untuk mendorong pembentukan Forum PRB tingkat Desa/Kelurahan,” paparnya. (MUHLIS/DIK)