PAMEKASAN, koranmadura.com – Pemerintah Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur menerima kunjungan rombongan dari Pemerintah Bondowoso. Kunjungan tersebut langsung diterima Wakil Bupati Pamekasan, Fattah Jasin di Peringgitan Dalam Mandhepah Agung Ronggosukowati, Senin, 6 Maret 2023.
Kedatangan mereka dalam rangka untuk belajar cara penanganan stunting. Sebab, informasinya Pemkab Pamekasan berhasil menurunkan angka stunting sampai 30 persen.
Rombongan pejabat itu dipimpin Wakil Bupati Bondowoso, Irwan Bachtiar Rachmat didampingi Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Kepala Dinas Kesehatan, dan sejumlah pejabat lain di lingkungan Pemkab Bondowoso.
“Kami masih sekitar 5 persen, padahal target Nasional 2024 ini minimal sudah harus 40 persen. Ini yang akan kami belajar secara bagaimana,” kata Wakil Bupati Bondowoso, Irwan Bachtiar Rachma.
Pihaknya memilih Pamekasan sebagai rujukan studi tiru karena penanganan angka stunting yang dinilai sangat sukses. Yakni dari 38 persen menjadi 8 persen.
“Kemudian langkah-langkah strategis, atau langkah kongkret, baik intervensi secara sensitif atau intervensi secara spesifik, kolaborasinya bagaimana, ini yang akan kami tiru nanti di Bondowoso, sekaligus bagaimana tim PKKnya,” ujarnya.
Orang nomor 2 di lingkungan Pemkab Bondowoso tersebut juga menginginkan cara khusus dari pemkab secara universal, baik adanya kolaborasi antara pemerintah dan desa terutama dalam bidang anggaran melalui dana desa dalam penanganan angka stunting tersebut.
Sehingga dengan adanya itu, kata dia tidak hanya menjadi tanggung jawab penuh pemerintah kabupaten.
“Kami juga menginginkan nanti ada skema pembiayaannya, bisa dianggarkan dari dana desa. Di Pamekasan ini bagaimana penggunaan dana desanya, ini yang perlu kami gali informasi, sehingga nanti kami terapkan di Kabupaten Bondowoso,” terangnya.
Sementara itu, Wabup Pamekasan, Fattah Jasin menyampaikan, pihaknya melibatkan beberapa pihak untuk menggenjot pengurangan angka stunting. Sekitar 12 organisasi perangkat daerah (OPD) yang terlibat, termasuk tim penggerak PKK yang aktif hingga ke desa-desa.
“Kita tidak pernah melewatkan teman-teman PKK atau dharma wanita, dari 38 persen menjadi 8 persen ini luar biasa (penurunannya, red),” terangnya.
Mantan Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur ini menambahkan, keterlibatan antar pihak untuk mengurangi angka stunting yang sebelumnya sangat tinggi hingga turun menjadi 8 persen harus mendapat apresiasi, termasuk Dinas Kesehatan yang memiliki program rembuk stunting.
“Dinas Kesehatan ini mempunyai program rembuk stunting, ini dianggarkan. Semua pihak diajak untuk memberikan gagasan, ada posyandu yang holistik dan terintegratif. Tidak hanya timbang pulang, tetapi di situ ada dinas sosialnya. Dinas Kesehatan, Dinas KB, dan beberapa dinas lain mengedukasi,” ungkapnya. (ADV/SUDUR/DIK)