Oleh: Miqdad Husein
Perbincangan puasa ternyata masih sekitar berbuka dan sahur. Urusanpun berputar-putar terkait menu makanan.
Lihatlah perbincangan tentang larangan buka bersama kalangan Pejabat dan ASN, heboh tiada terkira.
Dua pucuk pimpinan Ormas Islam terbesar negeri ini Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah, sama-sama memberikan komentar.
Sebuah pertanda soal buka bersama masih dianggap memiliki daya tarik penting. Lagi-lagi menggambarkan betapa elementer perbincangan soal puasa.
Kedua pucuk pimpinan Ormas terbesar itu memang tidak secara khusus menanggapi melalui keterangan pers misalnya. Keduanya, hanya diminta komentar oleh awak media, yang mungkin menganggap penting.
Keduanya pun mau tak mau harus ‘bersikap ramah’ menjawab pertanyaan soal buka bersama.
Alasan tersurat pelarangan Pejabat dan ASN menyelenggarakan buka bersama karena pertimbangan terkait pandemi Covid-19, yang mulai bergeser menjadi endemi.
Pemerintah berpikir masih perlu kehati-hatian perubahan dari pandemi ke endemi, agar tidak merebak lagi Covid-19.
Alasan yang masuk akal. Namun sayangnya, ada inkonsistensi. Larangan itu seharusnya tidak hanya buka bersama.
Konser dan berbagai acara pernikahanpun yang dilaksanakan besar-besaran juga perlu dilarang.
Wajar seperti dikhawatirkan Yusril Ihza Mahendra, larangan itu bisa menimbulkan dugaan bahwa seolah-olah pemerintah kurang bersikap ramah pada kegiatan umat Islam. Sebuah kekhawatiran yang masuk akal. Dan ternyata memang sempat timbul berbagai dugaan liar itu.
Tentu saja, kekhawatiran Yusril yang ternyata terbukti walau hanya dari sebagian kecil masyarakat, lebih sebagai pemanfaatan sebagai gorengan politik. Larangan buka puasa dijadikan senjata bahwa pemerintah kurang bersikap ramah kepada umat Islam.
Sebuah wacana yang merupakan sisa imbas dari politisasi agama pada Pilkada Jakarta 2017 dan Pilpres 2019. Polarisasi yang masih saja tersisa sampai saat ini.
Soal inkonsistensi pemerintah okelah, itu memang sangat terasa dan perlu dikritisi.
Namun, menuding larangan buka bersama sebagai sikap pemerintah kurang ramah kepada umat Islam, berbagai aktivitas keislaman, jelas sangat mengada-ada. Apalagi, yang dilarang buka bersama yang dilaksanakan Pejabat dan ASN.
Masyarakat luas, seperti di masjid-masjid masih boleh melaksanakan. Masjid Istiqlal, masjid nasional, mulai tahun ini kembali melaksanakan kegiatan buka bersama, yang sempat terhenti akibat pandemi.
Lalu, apa sesungguhnya pesan penting dari larangan pejabat ASN menyelenggarakan buka bersama? Presiden Jokowi, yang terkenal sangat hati-hati dalam pengelolaan anggaran agaknya mencium aktivitas buka bersama yang dilaksanakan Pejabat dan ASN, dapat menggerus keuangan negara.
Ada kekhawatiran terjadi penyalahgunaan anggaran negara.
Belakangan mulai terkuak kekhawatiran Presiden Jokowi, ketika beberapa daerah ternyata menganggarkan acara buka bersama sampai 1,2 milyar.
Soal pemborosan anggaran, kritik inkonsistensi pemerintah mungkin lebih layak jadi menu wacana dibanding berbagai tudingan liar bernuansa ideologis oleh segelintir politisi petualang bahwa pemerintah tidak ramah kepada umat Islam.
Ini akan menghindari masyarakat dari perdebatan emosional tanpa dasar.
Pemerintah perlu terus dikontrol, dikritisi berbagai kebijakannya agar senantiasa berada di rel yang benar.
Termasuk mengkritisi perilaku Pejabat dan ASN, yang belakangan marak menjadi perbincangan karena demikian terbuka memamerkan kehidupan super wah.
Di luar dua hal itu rasanya juga penting mendiskusikan bagaimana agar aktivitas bulan puasa lebih mendorong pemahaman keislaman lebih dinamis, termasuk penerapannya dalam kehidupan keseharian.
Bagaimanapun, jika dicermati ternyata aktivitas keislaman masyarakat negeri ini, belakangan justru mengalami kemunduran ketika marak kembali persoalan perbedaan fiqih dan pengerasan kelompok.
Perbincangan keterikatan keagamaan seperti mundur kembali melingkar-lingkar pada persoalan furu’ bahkan ibnul furu (anak ranting) seperti boleh tidak pakai beduk, salaman sesudah sholat dan hal elementer lainnya.
Masyarakat perlu terus didorong berpikir rasional, jauh dari emosional, serta mengarah pada hal-hal yang substantif. Tidak sibuk pada lingkaran soal permukaan apalagi yang ecek-ecek.