Oleh MH. Said Abdullah
Ibadah puasa, yang akan dijalankan umat mulai pekan ini, merupakan ibadah sangat menarik dari perspektif spiritual dan sosial. Dari perspektif spiritual atau keimanan, puasa merupakan ibadah yang langsung berhubungan dengan Allah subhanahu wata’ala. “Semua peribadatan untuk manusia sendiri, puasa itu untukKu,” firman Allah dalam salah satu hadist qudsi.
Melalui ibadah puasa, manusia langsung berkomunikasi dengan Sang Pencipta. Apapun yang dilakukan selama menjalankan ibadah puasa, hanya Allah yang mengetahui. Tidak ada persepsi dan penilaian bersifat kemanusiaan dan sosial. Hanya yang berpuasa sendiri dapat menilai kualitas peribadatannya. Tidak makan dan minum, hanya yang berpuasa sendiri yang mengetahui. Berbeda dengan ibadah lain seperti sholat, yang orang lain dapat melihat, menilainya. Yang melaksanakan sholatpun dapat memperlihatkan kesan kekhusuan kepada orang-orang sekelilingnya.
Di sinilah nilai luar biasa dari pelaksanaan ibadah puasa. Seseorang langsung berhubungan dengan Sang Maha Kuasa sekaligus dapat mengetahui apakah dirinya memang sungguh-sungguh berpuasa atau sekedar pura-pura puasa dihadapan orang lain. Lapar dan haus orang yang berpuasa, hanya Allah dan dirinya yang mengetahui.
Kedua, ibadah puasa sesungguhnya merupakan stimulus Allah kepada manusia agar memiliki kepedulian kepada sesama. Sebuah dorongan luar biasa melalui aplikasi langsung, yang dirasakan oleh mereka yang melaksanakan puasa. Melalui ibadah puasa, Allah seakan mengingatkan manusia agar merasakan derita orang lain, yang sedang kelaparan, hidup kekurangan dan nestapa lainnya.
Melalui ibadah puasa, seakan Allah menegaskan “Rasakan lapar orang-orang kurang mampu. Resapi derita mereka, yang kelaparan.” Sebuah peringatan keras setelah dalam berbagai firman Allah lainnya, yang memerintahkan peduli, memperhatikan orang miskin, anak yatim, manusia bisa jadi masih kurang tergerak untuk berbuat atau melaksanakan.
Alangkah dasyat sesungguhnya ibadah yang dilaksanakan dalam sebulan ini. Umat Islam dilatih dan bahkan memerankan kehidupan orang-orang papa, agar semakin segar naluri kepeduliannya; agar semakin peka dan tajam empatinya kepada orang-orang yang kurang beruntung.
PDI Perjuangan, menyambut kegiatan ramadhan, sebagai bagian dari kebersamaan dengan rakyat dari jajaran Pusat sampai ke pengurusan tingkat bawah, dalam menyambut ramadhan melaksanakan berbagai kegiatan kongkrit seperti pembagian ta’jil untuk berbuka, santunan sosial kepada orang-orang kurang mampu, kegiatan bazar murah dan lainnya. Semua, bertujuan agar seluruh kader, samakin meningkat kepeduliannya kepada orang-orang kurang mampu, sebagai wujud kegotong royongan, sebagai identitas indah rakyat Indonesia.
Marhaban Ramadan, selamat datang ramadan. Ayo segarkan dan bangkitkan kepedulian kepada sesama untuk Indonesia bangkit.