JAKARTA, Koranmadura.com – Ketua Komisi VIII DPR RI Ashabul Kahfi mengecam keras pernyataan peneliti BRIN Andi Pangeran Hasanuddin yang mengandung ujaran kebencian terhadap Muhammadiyah terkait perbedaan penetapan hari raya Idulfitri dengan pemerintah.
“Saya sangat mengutuk atas setiap sikap dan tindakan atas nama intelektualitas yang mendegradasi satu kebenaran lain sebagai produk dari sebuah metode ilmu yang diakui dengan ujaran kebencian yang dapat merusak tatanan sosial keagamaan dan kemasyarakatan,” ujarnya dalam pernyataan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa 25 April 2023.
Dia meneruskan, “Saya meminta yang bersangkutan untuk menyampaikan permohonan maaf secara terbuka dan berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan yang sama dengan meningkatkan kapasitas intelektualitasnya dengan akhlak kearifan dan kebijaksanaan.”
Lebih lanjut dia menjelaskan, dalam suasana tahun politik, Ashabul Kahfi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga ketenangan dan ketenteraman sosial masyarakat dengan menghindari ucapan-ucapan kebencian khususnya dalam isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan).
Pada bagian lain Ashabul Kahfi berharap, kepakaran seseorang dalam sebuah bidang ilmu, termasuk ilmu astronomi, harus diaplikasikan dalam koridor kearifan dan kebijaksanaan.
“Puncak intelektualitas bukan pada kemampuan untuk mencaci dan menyerang mereka yang berbeda dengan kita, namun bagaimana menerima perbedaan dari sebuah proses ijtihad dalam koridor keilmuan yang ilmiah berdasarkan dalil-dalil yang teruji kebenarannya,” jelasnya.
Menurut dia, penentuan awal Ramadhan dan bulan Syawal dapat dilakukan dengan dua metode yakni hisab dan rukyat. Kedua metode tersebut telah mendapatkan legitimasi yang kuat dalam agama.
“Sebagai metode yang diakui, maka apapun produk dan hasil dari kedua metode tersebut merupakan kebenaran dalam tataran ijtihadi. Implementasinya akan kembali pada keyakinan yang masing-masing tanpa mendegradasi atau menihilkan pendapat yang lain,” pungkasnya. (Sander)