JAKARTA, Koranmadura.com – Indonesia Traffic Watch (ITW) berharap semua pihak baik lembaga atau instansi pemerintah maupun swasta dan masyarakat pada umumnya untuk bersinergi mewujudkan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas (Kamseltibcaralantas) atau berlalu lintas secara nyaman.
Sebab tanpa ada upaya yang signifikan, lalu lintas dan angkutan jalan suatu saat akan menjadi permasalahan yang sulit terpecahkan.
Hal itu diungkapkan Ketua Presidium TIW Edison Siahaan dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Jumat 5 Mei 2023.
Edison menyebutkan, beberapa permasalahan lalu lintas dan angkutan jalan seperti kesemrawutan dan kemacetan serta kecelakaan sudah menjadi potret lalu lintas khususnya di kota-kota besar di Indonesia.
Kondisi seperti itu bukan hanya nyaris mematikan aktivitas dan produktivitas masyarakat, tetapi juga menimbulkan kerugian materi maupun jiwa.
“Seringkali terlihat perilaku berlalu lintas dari yang tertib hingga ugal-ugalan. Padahal pengguna jalan harus mentaati aturan, menghormati pengguna lalu lintas lainnya serta peka dan peduli akan keselamatan diri sendiri maupun orang lain. Ugal-ugalan di jalan raya selain membahayakan diri kita juga membahayakan bagi orang lain,” ucap Edison.
Dia meneruskan, “Kerap terlihat anak anak sekolah, mahasiswa, pekerja profesional, pengemudi angkutan umum berperilaku tidak terpuji saat di jalan raya. Mereka seolah tidak peduli bahwa jalan raya adalah sarana utama berlalu lintas sekaligus urat nadi kehidupan, tetapi dijadikan ajang permainan.”
Berlalu lintas secara ugalan-ugalan mencerminkan dan merefleksikan bahwa tingkat kesadaran berlalu lintas di Indonesia masih rendah. Hal itu melahirkan begitu banyak masalah lain seperti terjadinya perlambatan, kemacetan, kecelakaan atau masalah lalu lintas lainnya.
“Membangun kesadaran berlalu lintas memerlukan political will yang kuat dan gerakan moral yang masif.Semua itu dapat dilakukan melalui edukasi sejak dini,” ujar Edison lagi.
Karena itu, kata dia, mewujudkan Kamseltibcarlantas tidak cukup dengan membangun infrastruktur jalan maupun sarana prasarana transportasi angkutan umum, tetapi harus disertai dengan gerakan moral dengan membangun “wilayah tertib lalu lintas” serta literasi yang dapat merubah mindset berlalu lintas.
“Saatnya pemerintah dan pihak-pihak terkait mewujudkan Kamseltibcarlantas dengan upaya yang dapat menjadi solusi efektif. Untuk mengatasi permasalahan dari hulu hingga ke hilir,” ujarnya.
Khusus tentang kemacetan, Edison melihat penyebabnya adalah populasi atau jumlah pertumbuhan kendaraan bermotor yang tidak terkendali. Sayangnya, selama ini, masalah tersebut hanya diatasi dengan membatasi gerak kendaraan, bukan membatasi jumlah kendaraan agar ruas dan panjang jalan ideal sehingga mampu menampung kendaraan.
“Penegakan hukum terhadap pelanggaran lalu lintas juga harus tegas dan konsisten disertai upaya yang dapat membangun dan meningkatkan kesadaran tertib berlalu lintas masyarakat. Sebab penegakan hukum akan melelahkan dan tidak akan menjadi solusi efektif bila kesadaran tertib berlalu lintas masyarakat masih rendah,” pungkasnya. (Sander)