Oleh: Miqdad Husein
Anies Baswedan, Calon Presiden yang diusung Partai Nasional Demokrat (Nasdem) bersuara terbuka tentang sikap PKS dan Partai Demokrat; dua partai yang kemungkinan akan terus mendukungnya. Anies menyampaikan bahkan secara rinci tanpa aling-aling menyebut PKS dan Partai Demokrat sampai hari ini belum mengeluarkan uang.
“Sejak deklarasi Demokrat dan PKS belum keluar uang,” katanya, saat wawancara dengan Editor In Chief di IDNtimes, Uni Lubis. Anies secara rinci memaparkan bahwa safari ke 70 daerah di Indonesia, transportasi darat, laut, akomodasi hampir seluruhnya dibiayai Nasdem. Selebihnya dari para relawan.
Pemaparan yang sebenarnya membuka kondisi dapur koalisi itu, tidak jelas apakah sebagai keluhan kekecewaan atau semacam strategi untuk memancing simpati para pendukungnya. Siapa tahu akan ada semacam sekoci penyelamat dalam urusan fulus dari para pendukung atau entah dari siapa.
Bisa juga ini pernyataan bahwa kondisi internal koalisi sangat tidak pasti antara lain belum kompak urusan membiayai kampanye ke berbagai daerah. Semua masih belum jelas. Informasi ini mungkin penting diketahui para pendukung, agar tidak terlalu kecewa kalau ternyata Anies gagal menjadi Capres pada kontestasi Pilpres 2024.
Yang sudah hampir jelas, baik Demokrat maupun PKS tentu saja memiliki perhitungan sendiri tentang kondisi perkembangan pencalonan Anies yang dari berbagai survey masih saja berada di urutan buncit. Lebih menyedihkan lagi, bukan naik malah makin melorot.
Demokrat dan PKS sebagai partai mapan sudah tentu di lingkungan internalnya melakukan pengamatan bahkan bisa saja telah melakukan survey internal. Mungkin karena melihat perkembangan kurang menguntungkan ya terpaksa menahan diri dulu. Logikanya, tak akan ada investor mau menanam modal jika ternyata dagangan yang akan dijual belum menunjukkan tanda-tanda akan laku.
Demokrat sendiri sejauh ini terlihat sangat semangat menyodorkan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) untuk menjadi Cawapres Anies. Karena sampai sekarang belum ada kejelasan, Demokrat mungkin saja makin mengunci brankas untuk membantu proses pencalonan Anies.
Soal nasib AHY itu penting kejelasan bagi Demokrat. Katakanlah Demokrat telah mengetahui posisi Anies memang berat untuk menang namun dengan menjadi Cawapres akan ada efek elektoral positif pada pada peningkatan suara partai. Jadi, karena nasib belum pasti, berat pula Demokrat untuk ikut membiayai perjalanan Anies.
“Menang sangat berat, nasib AHY belum jelas. Tak mungkin awak keluar hepeng,” begitu mungkin kalau menggunakan bahasa pedagang Tanah Abang.
Sikap tak mau keluar uang dari PKS sudah lumrah saja. Bergabung di koalisi manapun PKS posisinya bukan mengeluarkan uang tapi menerima uang. Ini bukan soal politik uang. PKS pasti mempromosikan dan menunjukkan pada koalisi apapun sebagai partai yang memiliki jaringan kuat. Arus sosialisasi Capres dan Cawapres yang diusung koalisi, akan efektif bila melalui mesin PKS.
Ibaratnya, PKS telah memiliki generator yang sudah siap menyala ke berbagai daerah. Tentu tak elok, sudah punya mesin, harus membiayai sendiri kebutuhan BBM-nya.
Bahkan, seandainya Cawapres Anies dari PKS pun tetap partai kader itu bukan mengeluarkan tapi meminta masuk uang untuk sosialisasi atau kampanye. Itu tadi, PKS merasa memiliki jaringan. Jadi, biar efektif berbagai investasi politik ya sebagian harus lewat PKS. Masih masuk akal kan?
Pernyataan Anies Baswedan yang sangat terbuka itu sebenarnya memberi penegasan kepada masyarakat bahwa di internal koalisi sendiri memang semua belum jelas. Untuk urusan biaya sosialisasi saja, masih saling menunggu.
Nah, terbukti kan bahwa selama ini tudingan kepada pemerintah dan tokoh pemerintah rajin menjegal dan membegal Anies ternyata isapan jempol. Ternyata internal partai koalisi sendiri masih rebutan posisi dan hitung-hitungan. Jadi, tak usah terkejut jika ternyata koalisi itu, keguguran sebelum lahir. ***