JAKARTA, Koranmadura.com – Hasil survei terbaru Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) memperlihatkan bahwa mayoritas rakyat Indonesia menginginkan sistem pemilu proporsional terbuka.
Hal itu disampaikan Direktur Riset SMRC Deni Irvani di kanal Youtube SMRC TV Senin 12 Juni 2023 dalam pembahasan bertajuk “Sikap Publik Terhadap Gugatan Sistem Pemilu”.
Berdasarkan survei SMRC ini, sebanyak 76 persen publik Indonesia lebih menginginkan sistem pemilu proporsional terbuka, yaitu rakyat memilih partai atau calon. Dan, calon anggota DPR yang mewakili partai tersebut ditentukan oleh pemilih atau rakyat secara langsung, bukan oleh pimpinan partai.
Hanya 15 persen warga yang menginginkan sistem proporsional tertutup di mana yang dipilih hanya partai, dan calon anggota DPR yang mewakili partai tersebut ditentukan oleh pimpinan partai. Masih ada 9 persen yang tidak punya sikap.
Lebih jauh Deni Deni menjelaskan, sikap mayoritas warga yang menginginkan sistem pemilu proporsional terbuka ini konsisten dalam empat kali survei yaitu mulai Januari 2023, Februari 2023, 2-5 Mei 2023, hingga survei terbaru 30-31 Mei 2023 ini.
“Yang menginginkan sistem proporsional terbuka sekitar 71-76 persen, jauh lebih banyak dibanding yang menginginkan proporsional tertutup, 15-19 persen,” katanya.
Sistem pemilu proporsional terbuka, kata dia, merupakan aspirasi mayoritas di setiap massa pemilih partai, termasuk pada massa pemilih PDI Perjuangan (69 persen).
Ada 66 persen pemilih PKB yang lebih menginginkan sistem proporsional terbuka, Gerindra 83 persen, Golkar 71 persen, Nasdem 74 persen, PKS 80 persen, PPP 80 persen, PAN 89 persen, Demokrat 94 persen, dan partai-partai lain 85 persen.
“Usulan sistem pemilu proporsional tertutup bertentangan dengan aspirasi mayoritas pemilih yang lebih menginginkan sistem proporsional terbuka,” jelas Deni.
Pada bagian lain Deni menjelaskan, “pemilih kritis” adalah pemilih yang punya akses ke sumber-sumber informasi sosial-politik secara lebih baik karena mereka memiliki telepon atau cellphone sehingga bisa mengakses internet untuk mengetahui dan bersikap terhadap berita-berita sosial-politik.
Mereka umumnya adalah pemilih kelas menengah bawah ke kelas atas, lebih berpendidikan, dan cenderung tinggal di perkotaan. Mereka juga cenderung lebih bisa memengaruhi opini kelompok pemilih di bawahnya. Total pemilih kritis ini secara nasional diperkirakan 80%.
Adapun survei SMRC ini dilakukan pada pada 30-31 Mei 2023 melalui telepon melibatkan 909 responden.
Pemilihan sampel dalam survei ini dilakukan melalui metode random digit dialing (RDD). RDD adalah teknik memilih sampel melalui proses pembangkitan nomor telepon secara acak.
Margin of error survei diperkirakan ±3.3% pada tingkat kepercayaan 95%, asumsi simple random sampling. Wawancara dengan responden dilakukan lewat telepon oleh pewawancara yang dilatih. (Sander)