JAKARTA, Koranmadura.com – Hiruk-pikuk persiapan Pemilu 2024, baik Pemilu Legislatif maupun Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres), ternyata tidak mengganggu kondisi perekonomian nasional. Bahkan gonjang ganjing ekonomi global seolah tidak berdampak pada perekonomian Tanah Air.
Terbukti, perekonomian Indonesia terus mengalami ekspansi. Itu terjadi karena para pelaku ekonomi tidak perlu bersikap wait and see atau menunggu hingga Pemilu 2024 usai. Ekspansi itu juga tercermin dari sejumlah indikator.
“Pelaku ekonomi makin melek atas situasi politik nasional. Dan melihat arti penting bahwa perekonomian harus terus bergerak tanpa harus dibayangi kekhawatiran, khususnya atas dinamika politik yang berimplikasi pada ketidakpastian kebijakan,” kata Ketua Banggar Said Abdullah di Jakarta, Senin 10 Juli 2023.
Kondisi ekonomi Indonesia yang semakin bagus itu terlihat dari sejumlah indikator. Pertama, keyakinan konsumen atas makin optimisnya perekonomian nasional. Ini tercermin dari hasil survei yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) pada Juni 2023.
“Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) per Mei 2023 mencapai 128,3, lebih tinggi dibanding April 2023 sebesar 126,1. Pergerakan perekonomian nasional juga terpantau dari tingkat konsumsi listrik pada sektor bisnis dan industri yang meningkat,” kata Said Abdullah.
Indikator kedua, adalah konsumsi listrik pada sektor bisnis pada Mei 2023 yang meningkat sebesar 16,4 persen dan sektor industri meningkat sebesar 14,2 persen (yoy). Konsumsi semen nasional, kata Said Abdullah, juga melonjak. Pada Mei 2023 naik sebesar 25,3 persen (yoy).
“Indeks Penjualan Riil (IPR) sebagaimana di rilis oleh BI per Mei 2023 juga tumbuh tipis 0,02 persen atau 234,2. Pertumbuhan ini di topang oleh ekspansifnya sektor makanan, minuman, tembakau dan sandang,” imbuhnya.
Indikator ketiga, lanjut politisi senior PDI Perjuangan itu, adalah Purchasing Manufacture Index (PMI) Indonesia yang juga terjaga dengan baik. Indeks PMI pada Mei 2023 di posisi 50,3 menjadi 52,7 pada Juni 2023. Posisi ini menjelaskan bahwa PMI Indonesia dalam lintasan yang cukup baik.
“Kepercayaan konsumen atas membaiknya perekonomian nasional mendongkrak kinerja sektor kredit. Perbankan menyalurkan kredit pada Mei 2023 sebesar Rp. 6.561,2 triliun atau tumbuh 9,4 persen (yoy),” ucap politisi senior PDI Perjuangan tersebut.
Dia meneruskan, “Pertumbuhan ini lebih tinggi dibanding April 2023, yang sama sama tumbuh namun dilevel 8,1 persen (yoy). Harapan atas perekonomian domestik yang membaik gayung bersambut dengan kalangan investor luar negeri.”
Indikator keempat, kepercayaan investor global terhadap kinerja perekonomian nasional juga terjaga dengan baik. Hal itu tercermin dalam pergerakan arus modal global ke emerging market meningkat.
“Capital Inflow ke pasar obligasi Indonesia hingga 21 Juni mencapai Rp. 80,79 triliun secara year to date (ytd), sedangkan di pasar saham terakumulasi sebesar Rp. 16,87 triliun (ytd),” jelas Said Abdullah.
Sentimen ini, lanjut Said, berimbas pada penguatan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Sejak akhir Maret hingga Juni 2023 kurs rupiah di level Rp 14000-an, lebih kuat dibanding periode Januari -Maret 2023 yang bertengger di level Rp 15.000-an. Penguatan rupiah sebesar 5,17 persen hingga Juni 2023 terhadap Dolar Amerika Serikat didorong kecemasan investor atas ancaman gagal bayar utang Pemerintahan Joe Biden.
Meskipun kini Pemerintahan Biden telah menangguhkan hingga 1 Januari 2025 atas plafon utang negara. Kita harapkan Bank Indonesia terus melakukan perluasan local currency transaction ke negara negara mitra dagang strategis.
“Keyakinan konsumen dan kepercayaan investor atas prospek perekonomian nasional ini harus dikelola baik oleh pemerintah. Momentum itu harus terus dijaga agar daya ekspansi perekonomian nasional memberikan dampak ke berbagai sektor, seperti pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas, penguatan industri nasional, penyerapan lapangan kerja, dan pengentaskan kemiskinan,” papar Said Abdullah lagi.
Dia melanjutkan, “Kita harapkan pertumbuhan perekonomian pada semester 2 2023 jauh lebih baik dari kuartal I 2023 sebesar 5,03 persen (yoy). Walaupun pencapaian ini masih lebih baik dari sejumlah negara maju dan kawasan.”
“Pada kuartal I 2023 pertumbuhan ekonomi Tiongkok 4,5 persen, Jepang hanya 1,3 persen, Amerika Serikat 1,6 persen, India 4,1 persen, dan Uni Eropa hanya 1,3 persen,” pungkas Said Abdullah. (Sander)