SAMPANG, koranmadura.com – Insiden pemukulan seorang Tenaga Kesehatan (Nakes) dr Beny Irawan saat beraudiensi dengan sejumlah pegiat Aliansi Pemuda Reformasi Robatal yang berujung ricuh di kantor Dinkes KB Sampang, Madura, Jawa Timur, ternyata bergulir ke meja pelaporan kepolisian Polres setempat.
Kasi Humas Polres Sampang, Ipda Sujianto saat dikonfirmasi membenarkan insiden pemukulan saat adanya audiensi telah dilaporkan ke Mapolres Sampang. Pelaporan korban ke Mapolres dilakukan pasca insiden terjadi pada Selasa, 11 Juli 2023 lalu.
“Iya benar, sudah diadukan ke Polres dan saat ini dalam proses penyidikan. Korban mengadukan usai insiden,” ujarnya, Kamis, 13 Juli 2023.
Sementara Kepala Puskesmas (Kapus) Robatal Beny Irawan saat dikonfirmasi soal pelaporan ke polisi juga membenarkannya. Dirinya melakukan pelaporan ke Polres Sampang, pasca peristiwa pemukulan terhadap dirinya. Dalam insiden tersebut dirinya mengaku mendapat pukulan sebanyak satu kali oleh oknum atau peserta audiensi di bagian belakang kepalanya.
“Sebelum mendapat perawatan medis di RSUD Mohammad Zyn, saya masih sempatkan laporan ke Polres Sampang,” ungkapnya.
Sebelumnya, Kapus Robatal ini menceritakan, menceritakan, insiden itu bermula ketika dirinya setelah menangani pasien perempuan berusia 19 tahun saat di Fasilitas Kesehatan (Faskes) Puskesmas Robatal. Saat itu pasien tersebut mengeluhkan kondisi pusing dan mengalami pingsan. Pihaknya mengakui tidak memberikan rujukan karena dinilainya lumrah terjadi di usianya saat ini.
Menurutnya, kondisi pasien saat itu hanya mengalami pusing dan pingsan bukan mengalami pusing hingga muntah. Sehingga dengan kondisi pasien tersebut dinilainya masih bisa ditangani di tingkat Faskes Puskesmas.
“Dan saya bilang ke keluarga pasien, nanti kalau sudah menikah, keluhan seperti itu tidak akan kambuh lagi. Ya saya bilang biasanya setelah menikah. Bukan berarti nyuruh cepat-cepat nikah. Dan itu artinya berbeda,” akunya.
Pasca itu, sejumlah pemuda menggelar audiensi pada Selasa 11 Juli 2023 kemarin, dirinya kemudian mengklarifikasinya kepada peserta audiensi. Namun setelah diberikan klarifikasi kemudian peserta audiensi tidak menerimanya sehingga berujung cekcok hingga dirinya mendapat pukulan dari sisi belakang kepalanya.
“Sempat adu arguementasi, dan peserta audiensi ini meminta saya untuk berhenti menjadi kepala Puskesmas gara-gara bahasa yang disampaikan kepada pasien waktu itu. Padahal saya tidak merasa berbahasa melecehkan,” katanya.
Sementara peristiwa dugaan penganiayaan terhadap dokter itu juga mendapat respon dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kabuaten Sampang. Ketua IDI Sampang dr Zacky dengan tegas menyatakan akan membantu melakukan pengawalan manakala salah satu anggotanya menempuh jalur hukum.
“Saya msh di madinah mas. Tapi yang pasti, kami dari IDI akan membantu dan melakukan pendampingan kepada anggota kami bila nantinya harus melalui jalur hukum. Karena apapun alasannya, tindakan pemukulan tetap tidak dibenarkan,” terangnya. (MUHLIS/ROS)