Oleh Mixil Mina Munir
Ketua DPP Banteng Muda Indonesia
Pada 23 Januari 2023, Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR) dibentuk. Setelah itu baliho, banner dan billboard gambar Prabowo-Cak Imin sebagai pasangan capres-cawapres bertebaran di mana-mana. Alat-alat peraga itu kebanyakan dipasang oleh caleg dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Para caleg biasanya memuat foto dirinya setengah bidang, setengahnya lagi untuk gambar Prabowo-Cak Imin.
Saya belum melihat satu pun alat peraga pasangan Prabowo-Cak Imin dipasang oleh kader Gerindra. Mungkin belum ada instruksi dari partai, tapi semua kader Gerindra wajib memasang gambar Prabowo, tanpa Cak Imin.
Prabowo tidak protes foto dirinya disandingkan dengan cak Imin. Demikian juga Cak Imin, tidak protes. Justru menikmati karena berharap menjadi pasangan Prabowo dalam pilpres 2024.
Calon presiden dari Koalisi Perubahan dan Perbaikan (KPP) Anies Baswedan, janjinya akan mengumumkan calon wakil presidennya setelah pulang haji. Tidak mau kehilangan momentum, di Bandara Soekarno Hatta Ketua Umum Partai Demokrat AHY rela menunggu dan menjemput calon pasangannya pada dini hari 12 Juli 2023, saat Anies Baswedan pulang dari ibadah haji.
Besoknya, gambar pasangan capres-cawapres, Anies-AHY dalam bingkai billboard ukuran 5 x 10 meter bertebaran di jalan-jalan protokol ibu kota. Baliho dipasang dengan wajah dua calon presiden dan wakil presiden. Selain itu, spanduk-spanduk caleg juga bertebaran, dengan gambar utama caleg serta background gambar Anies-AHY.
Meskipun KPP diusung Nasdem, Demokrat dan PKS, faktanya hanya Demokrat yang memajang gambar Anies-AHY. Tidak ada satu pun caleg Partai Nasdem yang memasang gambar Anies-AHY. Apalagi PKS.
Saat fotonya dipajang disamping AHY, Anies tidak protes. Entah karena memang menjaga agar AHY tidak lari, yang jelas Anies nyaman dengan AHY. Demikian juga AHY yang berharap menjadi wakil presiden.
Setali tiga uang nasib PKB dan Demokrat, nasib Cak Imin dan AHY. Ngotot dan pantang mundur, berharap jadi wakil presiden, tapi Prabowo dan Anies belum memutuskan. Oleh Prabowo dan Anies mereka berdua hanya diberi angin surga. Padahal di surga tidak ada angin.
Akhir bulan Agustus 2023, seminggu setelah 5 partai deklarasi Prabowo sebagai calon presiden, muncul baliho gambar pasangan capres-cawapres Prabowo-Gibran di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Prabowo tidak protes. Mungkin setuju atas baliho tersebut dan berharap Gibran bisa jadi wakil presidennya.
Berbeda dengan Prabowo. Gibran langsung protes keras saat tahu kalau gambar dirinya dipasangkan dengan Prabowo. Ia mengaku bahwa tidak ada izin dirinya dan akan menindaklanjuti upaya pencatutan fotonya. Beberapa kali Gibran menegaskan bahwa Ia adalah kader PDI Perjuangan, tegak lurus pada ketua umum partai.
Gibran secara terbuka sudah kampanye untuk Ganjar Pranowo. Di Solo, ia sudah door to door. Mengkonsolidasikan kekuatan partai. Hadir pada rapat akbar pemenangan Ganjar Pranowo di Stadion Jatidiri Semarang. Tegas dan lugas. Itulah sikap Gibran. Tanpa keraguan sedikit pun, ia menolak jadi wakil presidennya Prabowo. Ia tidak mau diculik secara politik oleh Prabowo.
Selain kepada Gibran, operasi penculikan juga dilakukan kepada Presiden Jokowi. Gambarnya dipasang di semua kota di seluruh Indonesia di samping Prabowo. Ia coba diculik atas nama Presiden Republik Indonesia dan Prabowo sebagai Menteri Pertahanan. Prabowo memaksa Jokowi meng-amin-i skenarionya, karena ia tahu Jokowi tidak mungkin bisa menolak karena memang ia atasannya.
Tujuh kali Prabowo datang ke Solo pada Januari sampai Agustus 2023. Bertemu Jokowi atau Gibran. Baik dengan alasan silaturahmi, kunjungan atau basa-basi sebagai menteri pertahanan. Jika publik melihat sebagai lumrah dan kebetulan, namun dalam kacamata politik ini adalah operasi penculikan.
Rayuan terus dilakukan agar Jokowi simpati dan iba padanya. Dengarkan bagaimana Prabowo terus memuji Jokowi dalam setiap kesempatan pidatonya. Perhatikan saat ia mengaku-aku sebagai penerus Jokowi. Ia terus memuja Jokowi sebagai presiden yang berhasil, mampu mengendalikan ekonomi, politik, dan semua bidang.
Namun Jokowi tahu ini adalah upaya penculikan politik, memisahkan ia dengan partainya, menjauhkan Jokowi dengan pendukung loyalnya. Sebab saat Rocky Gerung memaki dirinya dengan kata-kata “Bajingan dan Tolol”, Prabowo dan para pendukungnya justru lari. Diam seribu basa dan tidak berbuat apa-apa.***