JAKARTA, Koaranmadura.com – Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memetik nilai positif dari intrik politik yang dilakukan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh bersama Calon Presiden (Capres) Anies Baswedan.
SBY mengaku bersyukur karena mereka ditikung dan dikhianati tidak menjelang penutupan pendaftaran pasangan Capres dan calon wakil presiden (Cawapres) ke Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Partai Demokrat dikhianati 49 hari menjelang batas akhir pendaftaran pasangan Capres-Cawapres ke KPU. Artinya, Partai Demokrat masih memiliki waktu yang lebih dari cukup untuk bergabung dengan koalisi yang ada atau membentuk poros baru.
SBY mengungkapkan hal itu dalam jumpa pers virtual di Jakarta, Jumat 1 September 2023.
“Memang kita ditikung, ditinggalkan, seperti ini, sekarang. Sekarang. Bayangkan, kalau ditikungnya kita ini, ditinggalkannya kita ini satu-dua hari sebelum batas pendaftaran ke KPU. Bayangkan seperti apa,” kata SBY.
Karena itu, SBY menilai, partai yang didirikannya itu masih ditolong oleh Allah dan diselamatkan oleh sejarah. Karena itu dia dan para kader Partai Demokrat patut bersyukur.
“Syukur yang kedua, saya renungkan baik-baik tadi malam dalam kontemplasi saya, justru kita diselamatkan oleh Tuhan, oleh Allah. Apa yang saya maksudkan? Kita tidak diizinkan oleh Allah untuk mendukung seseorang dan untuk bermitra dengan orang yang lain, yang kalau kita teladani akhlak pemimpin-pemimpin besar, bagi yang beragama Islam, akhlak Rasulullah ya, yang kita rasakan sekarang ini mereka tidak sidiq, tidak jujur, tidak amanah. Berarti tidak bisa dipercaya dan mengingkari hal-hal yang telah disepakati,” papar SBY.
Dia meneruskan, “Saya kira, kalau kita renungkan ini, kita ambil hikmahnya, kita dibebaskan dari dosa yang mungkin akan kita pikul kalau kita masih berada bersama-sama mereka itu dan mengusung seseorang untuk menjadi pemimpin bangsa Indonesia.”
Dengan ditikung, lanjut SBY, Partai Demokrat tidak diizinkan berkoalisi dengan seseorang yang tidak jujur karena mengingkari kesepakatan yang sudah tertulis.
“Bayangkan kalau di masa depan kita punya mitra koalisi yang tidak tunduk, tidak patuh pada kesepakatan yang kita buat bersama. Apalagi kalau mendikte, mengatur yang lain, termasuk Capres memaksakan kehendak dan tidak menganggap yang lain. Saya kira bukan itu koalisi yang hendak kita bangun,” tegas SBY yang juga Presiden Keenam RI itu.
Selama 10 tahun memerintah yang didukung koalisi, SBY mengaku menjunjung tinggi prinsip dan nilai-nilai yang baik, terutama kesetaraan dan keadilan.
“Sekali lagi, kalau saya, kita patut bersyukur, karenanya mari kita hadapi semua ujian dan cobaan ini dengan tegar, sambil berikhtiar kita menjalin jalan keluarnya,” pungkas SBY yang pernah juga menjadi ketua umum Partai Demokrat. (Sander)