SUMENEP, koranmadura.com – Kebutuhan akan tenaga pendidik di tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, masih sangat tinggi, yaitu sebanyak 1.412 guru.
Kekurangan ini tersebar dalam berbagai bidang, yaiti 778 guru kelas, 331 guru Pendidikan Agama Islam, dan 303 guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK).
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, Agus Dwi Saputra, melalui Kabid Ketenagaan, Achmad Fairusi, mengungkapkan kekurangan guru ini ini terjadi akibat banyaknya guru dengan status Aparatur Sipil Negara (ASN) yang telah memasuki masa pensiun.
Fairusi menjelaskan, “ASN guru yang pensiun sudah banyak, sehingga berdampak pada jumlah tenaga pendidik berkurang. Kekurangan guru tidak hanya terjadi di Kabupaten Sumenep, melainkan juga di daerah-daerah lain, kebutuhan guru masih belum tercukupi.”
Sementara itu, tambahnya, pengangkatan tenaga pendidik baru yang merupakan kebijakan Pemerintah Pusat, cukup terbatas dalam setiap tahunnya.
“Pemerintah daerah tidak memiliki otoritas melakukan pengangkatan PNS dan PPPK untuk memenuhi kebutuhan guru, sehingga kekurangannya mencapai di atas angka seribu orang,” tambahnya.
Meskipun demikian, Fairusi memastikan bahwa pelayanan pendidikan, terutama dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), tetap berjalan sesuai ketentuan. Hal ini berkat bantuan Guru Tidak Tetap (GTT) atau guru honorer yang masih aktif.
Dia juga menegaskan upaya terus dilakukan untuk mengajukan permohonan pengadaan guru ASN maupun PPPK ke Pemerintah Pusat, agar kebutuhan guru di Kabupaten Sumenep dapat terpenuhi. (FATHOL ALIF/DIK)