JAKARTA, Koranmadura.com – Keputusan Presiden Jokowi yang merestui putra sulunganya Gibran Rakabuming Raka menjadi calon wakil presiden (Cawapres) Prabowo Subianto menuai kritik dari cendikiawan muslim Komaruddin Hidayat.
Dalam akun media sosial X (dulu twitter) yang viral di berbagai grup whatts app pada Senin 23 Oktober 2023, Komaruddin Hidayat menulis singkat, “Ujung capaian dari Revolusi Mental”.
Cuitan ini terkait erat dengan restu Presiden Jokowi kepada Gibran Rakabuming Raka menjadi calon wakil presiden (Cawapres) Prabowo Subianto untuk bertarung pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2024.
Dukungan ini dilakukan setelah Mahkamah Konstitusi (MK) yang dipimpin oleh ipar Presiden Jokowi dan paman dari Gibran Rakabuming Raka, Anwar Usman membentang karpet merah bagi Gibran untuk mengikuti kontestasi Pilpres 2024.
Meski secara usia, Gibran belum memenuhi syarat aturan UU No 7 Tahun 2017, tetapi MK menambahkan aturan baru bahwa meski usia belum mencapai 40 tahun asal sudah memiliki pengalaman terpilih secara langsung dalam pemilihan kepala daerah, maka bisa bertarung pada Pilpres 2024.
Dukungan dari MK dan Presiden Jokowi ini mencuatkan kembali politik KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) yang ditolak mentah-mentah pada Reformasi 1998.
Berbagai kalangan, terutama kelompok masyarakat sipil, menyuarakan masalah nepotisme dalam kemasan “dinasti politik” yang dibangun Presiden Jokowi.
Salah satunya adalah cindikiawan muslim, Komaruddin Hidayat sebagaimana dikutip di atas.
Adapun Presiden Jokowi mengusung gagasan Revolusi Mental ketika terpilih sebagai presiden pada Pilpres 2014 ketika dia mengalahkan Prabowo Subianto. (Sander)