SUMENEP, koranmadura.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep, Madura, Jawa Timur, menyebut dua desa terdampak kekeringan telah keluar dari status kering kritis.
Diketahui, sebelumnya di kabupaten paling timur Pulau Madura ini terdapat sembilan desa terdampak kekeringan berstatus kering kritis. Namun, saat ini, sudah tersisa tujuh desa.
Dua desa yang sudah keluar dari status kering kritis, dan menjadi kering langka, ialah Desa Totosan dan Nyabakan Timur di Kecamatan Batang-Batang.
“Faktornya karena di dua desa tersebut sudah ada beberapa sumber air baru. Sehingga keluar dari status kering kritis, menjadi kering langka,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sumenep, Kusmuni.
Kekeringan kritis terjadi karena pemenuhan air di dusun mencapai 10 liter lebih per orang per hari, dan jarak yang ditempuh masyarakat untuk mendapatkan air bersih sejauh tiga kilometer bahkan lebih.
Sementara yang dimaksud dengan kering langka, kebutuhan air di dusun itu di bawah 10 liter saja per orang per hari. Jarak tempuh dari rumah warga ke sumber mata air terdekat sekitar 0,5 kilometer hingga tiga kilometer.
Sementara itu, berdasarkan data BPBD Sumenep, saat ini, jumlah desa terdampak kekeringan bertambah, dari sebelumnya 51 menjadi 59 desa yang tersebar di 19 kecamatan. (FATHOL ALIF/DIK)