SURABAYA, koranmadura.com – Melanjutkan kegiatannya di Surabaya Sabtu, 21 Oktober 2023 malam hari, Puan Maharani selaku Ketua DPR RI bertemu dengan ratusan kiai muda atau Gus dan bu nyai muda atau ning se-Surabaya, Gresik, Mojokerto, Jombang hingga Kediri.
Pertemuan Puan dengan Gus dan Ning milenial ini di bertempat di Convention Hall, Grand City Mall, Surabaya. Silaturahmi Puan dimoderatori langsung oleh Eri Cahyadi, sebagai tokoh muda NU Surabaya, sekaligus Walikota Surabaya.
Mengawali udara rasa dengan para Gus dan Ning, Puan mengajak para Gus dan Ning selalu merawat silaturahmi, kapanpun, saat akan ada pemilu maupun tidak ada pemilu. Puan menceritakan kakeknya, Bung Karno dan berlanjut ke Ibunya, Hj Megawati Soekarnoputeri, Ketua Umum PDI Perjuangan selalu memperkuat silaturahmi dengan tokoh tokoh NU. Tradisi baik itulah yang menggerakkannya malam itu untuk terus memperkuat hubungannya dengan tokoh tokoh NU, baik yang muda maupun yang sepuh.
Ia juga mengajak para ulama milenial yang hadir malam itu untuk terlibat penting dalam ikut menentukan arah perjalanan bangsa.
“Saya ingin tekankan, kita semua jangan salah memilih pemimpin. Sebab dampaknya bukan terasa kepada kita saja, tetapi anak cucu kita semua”, tegas Menteri PMK periode 2014-2019.
Dialog yang dipandu Walikota Surabaya itu memberi kesempatan para Gus dan Ning untuk menyampaikan pandangan dan aspirasinya. Ning Dila, dari Pesantren Mambaul Ulum, Mojokerto menyampaikan kekagumannya, bisa melihat langsung Puan, yang biasanya hanya bisa ia saksikan dari balik layar kaca. “Ternyata aslinya lebih cantik”, ungkap Dila sambil sedikit malu.
Dila yang juga pengajar di Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA) berharap pemerintah lebih perhatian pesantren pesantren yang jumlah santrinya masih kecil. Tidak hanya pesantren besar yang memang telah mapan.
“Justru pesantren kecil inilah tekad mereka merintis, dan mendidik santri santri yatim piatu yang harus diberdayakan,” ucapnya.
Sementara Gus Milenial dari Surabaya yang enggan disebutkan namanya juga menyatakan kekagumannya kecantikan pada sosok Puan, serta prestasi saat Puan menjadi Menteri PMK.
“Kiranya Mbak Puan bisa berbagi kisah, bagaimana menjadi Ketua DPR, sebab saya memimpikan, siapa tahu bisa mengikuti jejak Mbak Puan”, ujarnya.
Merespons pertanyaan beberapa ulama milenial ini, Puan menyatakan untuk menjadi Ketua DPR tentu saja tidak mudah.
“Saya digembleng masuk politik sejak 2006, dan kerja meyakinkan dukungan kepada rakyat pada pemilu 2009, dan alhamdulillah dipercayakan mendapatkan suara rakyat lebih dari 400 ribu,” bebernya.
Jalur panjang dalam kegiatan politik hingga mengantarkannya menjadi anggota DPR, menteri lalu Ketua DPR, menurutnya hal itu butuh proses yang panjang, tidak bisa instan, harus berproses dari bawah.
“Untuk kebijakan bantuan dan dana pesantren, saya minta Pak Said Abdullah, yang juga Ketua Banggar untuk menjelaskan sejelas jelasnya kepada para Gus dan Ning”, pinta Puan.
Merespons permintaan Mbak Puan, Said Abdullah menjelaskan bahwa hingga pertengahan tahun 2023 mencapai 134 triliun. Diluar alokasi dana abadi pendidikan, pemerintah juga mengalokasi belanja pendidikan baik pusat maupun daerah lebih dari Rp600 triliun karena bersifat mandatori.
“Alokasi dana pendidikan itulah yang selama ini digunakan untuk diantaranya untuk membantu pendidikan di pesantren, dan memang karena alasan alasan tertentu terkadang kita melupakan yang pesantren pesantren yang baru tumbuh. Biar kongkrit kiranya usulan para ning tadi disampaikan ke saya langsung,” pungkas pria asa Sumenep itu. (BETH/DIK)