JAKARTA, Koranmadura.com – Pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie menilai, Indonesia sedang tidak baik-baik saja.
Itu terjadi setelah Mahkamah Konstitusi (MK) memuluskan langkah putra sulung Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, maju menjadi calon wakil presiden (Cawapres) pendamping Prabowo Subianto pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2024.
Hal itu diungkapkannya dalam cuplikan video wawancaranya dengan wartawan yang kemudian beredar luas di media sosial TikTok, sebagaimana dilihat pada Senin 30 Oktober 2023.
Secara sinis dan sindir Connie menilai, putusan MK itu terlalu tanggung. Seharusnya, MK sekalian membuka jalan bagi cucu Jokowi yang merupakan putra Gibran Rakabuming Raka, Jan Ethes, untuk menjadi Cawapres pada usia 10 atau 15 tahun.
“Saya malah sambil bercanda bilang, ngapain nanggung MK ini. Bilang aja, besok-besok cucu presiden bisa jadi Wapres umur 10 tahun atau 15 tahun,” ujarnya.
Sindiran dan sinisme ini diakuinya dilontarkan karena sudah muak dengan praktik politik yang dilakukan keluarga Jokowi dalam beberapa pekan terakhir.
“Saya lihat drama ini, aduh. Saya ini tidak terlalu ingin ikut campur di politik, tetapi kali ini saya musti bersuara karena saya melihat gerakannya udah mulai nggak benar. Sekali lagi, ini masalahnya adalah masalah moral ya,” tegsnya.
Praktik politik nepotisme Jokowi ini juga menjadi pertanyaan pihak asing. Paling jelas kata dia, Duta Besar Inggris yang baru menyerangkan Credential Letter kepada Presiden Jokowi justru institusi yang dikunjungi pertamanya adalah PDI Perjuangan.
Menurut Connie, ini adalah sinyal jelek untuk Presiden Jokowi. Dan, pihak Istana harus bisa membaca ini.
Dubes Inggris datang ke PDI Perjuangan setelah pulang dari Yogyakarta dan melihat baliho-baliho di sana yang semuanya berisi tentang putra presiden.
“Dia datang (ke PDI Perjuangan) karena pertama dia ke Jogja kaget lihat kata-kata, balihonya sudah putra presiden. Nanya aja, buat dia, kok bisa gitu. dan ini kan jadi pertanyaan,” ujarnya lagi. (Sander)