Oleh Gabriel Mahal
Praktisi Hukum di Jakarta
Dalam “Kesaksian Panda Nababan tentang Perubahan Sifat dan Sikap Joko Widodo” di Podcast Keadilan TV 2 November 2023, Opung Panda, begitu politisi senior PDI Perjuangan ini akrab disapa, mengungkapkan kesedihannya.
“Saya terus terang masih bergumul. Saya gak bisa bayangkan suasana kebatinan Ibu Mega. Artinya, saya sedihlah… Gak bisa aku apakan deh… sampai setega itu dia diperlakukan. Air susu dibalas dengan air tuba…” kata Opung Panda dengan suara serak menahan kesedihannya.
Opung Panda sedih karena setega itu seorang perempuan, seorang ibu yang kebetulan jadi ketua umum PDI Perjuangan diperlakukan. Air susu dibalas dengan air tuba. Begitu dilukiskan Opung Panda. Tidak berlebihan.
Partai Politik (Parpol) bisa diibaratkan sebagai rumah. Suatu keluarga. Tempat seseorang dilahirkan dan dibesarkan sebagai politisi.
Parpol itu seperti rumah tempat para kader dipersiapkan dan didukung jadi pemimpin politik, baik di tingkat daerah, propinsi, maupun nasional.
Dalam sistem politik Indonesia, tanpa dukungan Parpol itu, seseorang tidak mungkin dicalonkan dan menjadi pemimpin, baik itu Bupati, Gubernur, dan Presiden.
Demikian juga untuk anggota DPR (legislatif), mulai dari tingkat kabupaten, propinsi, dan pusat.
Sehebat apa pun seseorang, sebesar apa pun relawan pendukung, dan sebesar apa pun dukungan rakyat, jika orang itu tidak didukung oleh Parpol, tidak akan mungkin jadi calon yang dapat dipilih rakyat.
PDI Perjuangan adalah rumah politik bagi para kader PDI Perjuangan. Suatu keluarga besar. Ketua Umumnya adalah seorang perempuan. Seorang Ibu. Megawati Soekarnoputri. Bagi seluruh kader PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri adalah ibu dalam rumah politik, keluarga besar PDI Perjuangan.
Jokowi sebagai politisi lahir dari rahim PDI Perjuangan. Kader PDI Perjuangan. Anggota keluarga PDI Perjuangan. Mendiami rumah politik PDI Perjuangan dengan Megawati Soekarnoputri sebagai ibu.
Seluruh perjalanan karier politik Jokowi dapat dukungan sepenuhnya dari keluarga PDI Perjuangan. Mendapat restu sang Ibu. Mulai dari Wali Kota Solo, Gubernur DKI Jakarta, sampai jadi Presiden RI selama dua periode.
Tidak hanya Presiden Jokowi, tetapi juga putranya Gibran Rakabuming Raka. Sebagai politisi, Gibran lahir dari rahim PDI Perjuangan. Jadi kader PDI Perjuangan. Didukung dan diusung PDI Perjuangan dengan restu Megawati Soekarnoputri menjadi wali kota Surakarta.
Demikian juga menantu Presiden Jokowi, Bobby Nasution, yang berkat dukungan PDI Perjuangan atas restu Megawati Soekarnoputri diusung dan terpilih jadi wali kota Medan.
Seandainya saja tidak didukung dan diusung PDI Perjuangan dan tidak direstui oleh Megawati Soekarnoputri, Jokowi tidak akan jadi Wali Kota Solo, Gubernur DKI Jakarta, dan jadi Presiden RI. Begitu juga dengan Gibran Rakabuming Raka dan menantu Presiden Jokowi, Bobby Nasution.
Karena peran Ketum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri penting dan menentukan dalam narasi perjalanan karier politik Presiden Jokowi, Gibran, dan Bobby Nasution, maka dapat dikatakan “there is no history without herstory”.
Tidak akan ada narasi Jokowi sebagai wali kota Surakarta, gubernur DKI Jakarta, presiden RI, tanpa ada narasinya Megawati Soekarnoputri.
Tidak akan ada narasinya Gibran sebagai wali kota Surakarta dan Bobby Nasution sebagai wali kota Medan, tanpa ada narasinya Megawati Soekarnoputri.
Perkembangan yang terjadi belakang ini menunjukkan bahwa “herstory” – narasi Megawati Soekarnoputri – itulah yang diabaikan, dianggap tidak, dan dihilangkan. Ini sama seperti kisah Malin Kundang, cerita rakyat di Sumatra Barat.
Opung Panda melukiskan perkembangan yang terjadi belakang ini sebagai “air susu dibalas air tuba”.
Kebaikan dibalas dengan kejahatan. Begitu makna ungkapan itu. Eep Saefulloh Fatah, konsultan politik, pendiri dan CEO Polmark Indonesia, mengatakan kalau Pak Jokowi mau berterimakasih, terima kasih atas dua hal: terimakasih atas pengusungan oleh Megawati dan PDI Perjuangan, terimakasih atas contoh dan teladan baik yang sudah diberikan Megawati.
Keteladan itu yang paling mendalam. Dua hal itu diingkari Presiden Jokowi. “Pak Jokowi berkhianat sama bu Mega dan PDI Perjuangan,” ungkap Eep Saefulloh dalam Channel Youtube Abraham Samad “Speak Up”.
Ungkapan “air susu dibalas air tuba”, kisah “Malin Kundang” selalu memberi kita pesan moral dan etika untuk menghormati, menghargai, dan tahu berterima kasih kepada orang-orang yang sudah berbaik, berjasa dalam kehidupan kita. Pesan moral dan etika yang seharusnya jadi narasi revolusi mental.***