SAMPANG, koranmadura.com – Upaya peningkatan kapasitas dalam memberikan pertolongan kepada korban bencana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, melakukan pelatihan khusus kepada puluhan Tim Reaksi Cepat (TRC) dan Tim Relawan BPBD.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Sampang, Fajar Arif menyampaikan kegiatan pelatihan yang diberikan kepada tim TRC BPBD Sampang merupakan pelatihan Vertical Rescue dalam ruang gerak sempit. Peristiwa yang biasa terjadi yaitu penyelamatan yang terjadi di dalam sumur. Materi dan praktik latihan Vertical Rescue diperoleh langsung dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Sumenep.
“Dalam latihan praktik, disimulasikan ada orang tercebur ke dasar sumur yang berukuran sangat sempit dan tim BPBD berusaha menolong korban dengan menggunakan tali untuk mengevakuasi korban dari dalam sumur. Kami praktik langsung di salah satu sumur di Desa Pandiyan, Kecamatan Sampang, dengan kedalaman sumur kurang lebih 24 meter,” katanya, Kamis, 30 November 2023.
Pihaknya tidak memungkiri, peralatan yang digunakan oleh tim penyelamatan di BPBD Sampang masih minim karena masih menggunakan alat semi tradisional.
“Memang kami akui, alat-alat yang digunakan tim penyelamat kami masih minim dan masih menggunakan semi tradisional. Bahkan saat latihan bersama Basarnas, alat-alat masih dibantu oleh Basarnar,” terangnya.
Ditambahkan Kasi Kedaruratan dan Logistik (KL) BPBD setempat, Moh. Imam mengatakan dalam bidang Kedaruratan setiap tahunnya dilakukan peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) terhadap tim TRC dan relawan BPBD dengan sebelumnya telah dilakukan pelatihan peningkatan kapasitas di bidang Water Rescue.
Sedangkan saat ini dilakukan peningkatan kapasitas dalam Vertical Rescue khususnya penyelamatan di ruang terbatas (Confined Space Rescue). Materi-materi yang diberikan berupa tata cara simpul tali, pengukuran gas, serta tata cara penyelamatan.
“Puluhan tim kami melakukan pelatihan selama dua hari lamanya. Materi-materi yang diberikan Basarnas sampai 90 lembar dan kemudian kami praktik langsung,” katanya.
Sedangkan untuk peralatan, pihaknya juga tidak memungkiri minimnya alat-alat penyelamatan yang dimilikinya.
“Dan memang dalam kegiatan kebencanaan, salah satunya satu hal yang penting yaitu safety. Dan memang soal peralatan, memang harus dilakukan pengadaan pada 2024 mendatang. Alat-alat yang dibutuhkan kami seperti privot, pengukur gas beracun merupakan alat pendukung yang memang harus dimiliki. Di penyelamatan Water Rescue, kami juga membutuhkan alat kompresor, karena alat ini untuk mengisi tabung oksigen. Sebab selama ini kami mengisi tabung oksigen harus ke luar daerah,” ungkapnya.
Berdasarkan data yang dimilikinya, Imam menyatakan dalam setahun ini pihaknya melakukan penyelamatan di ruang terbatas atau di dalam sumur kurang lebih sebanyak 4-5 kasus.
“Kalau penyelamatan yang di sungai, ya, itu lain lagi,” pungkasnya. (MUHLIS/DIK)