Tidak sampai seperempatnya.
Berbagai istilah bernuansa bohong tak ketinggalan diucapkan Gibran seperti istilah hilirisasi digital.
Sebuah keberanian luar biasa untuk membohongi pemirsa hanya demi mendapat lebih banyak dukungan.
Dari berbagai perdebatan itu tampak sekali Gibran tanpa rasa bersalah menyampaikan berbagai kebohongan publik.
Dengan meyakinkan Gibran terus berbohong mengelabui masyarakat seakan dirinya hebat. Beruntung, berbagai kebohongannya terbongkar.
Sungguh memprihatinkan jika demi meraih kekuasaan Gibran berbohong secara sistematis.
Apa jadinya, negeri ini jika calon pemimpin, belum jadi pemimpin saja sengaja membohongi dan membodohi rakyat.
Seperti kata pepatah, awal proses menjadi Cawapres saja bermasalah, melanggar etika, maka berikutnya akan terus diikuti berbagai kesalahan.
Kebohongan pertama selalu diikuti kebohongan berikutnya.
Sungguh, rentetan kebohongan yang mengabaikan etika, moral dan terutama ajaran agama.