JAKARTA, Koranmadura.com – Pengamat politik Eep Saefulloh Fatah menilai, saat ini Indonesia sedang mengalami krisis elektoral.
Krisis ini harus segera dihentikan dengan cara, pertama, mengalahkan pasangan calon presiden (Capres) dan calon wakil presiden (Cawapres) yang didukung Jokowi pada Pilpres 2024. Kedua, memakzulkan Jokowi dari kekuasaannya.
Hal itu disampaikan Eep Saefulloh Fatah dalam acara Pasamoan Masyarakat Sipil Jawa Barat yang bertajuk “Menyoal Rungkadnya Demokrasi dan Mundurnya Reformasi ke Titik Nol” Manifesto Bandung” beberapa hari lalu.
Video pidato Eep dalam acara tersebut diunggah di channel youtube Obrolan Meja Bundar pada 12 Desember 2023 dan dilihat untuk kepentingan berita ini pada Kamis 14 Desember 2023.
Menurut Eep, krisis elektoral adalah salah satu dari empat krisis yang sedang dialami Indonesia saat ini. Tiga krisis lainnya adalah krisis moral, krisis dukungan politik, dan krisis kebijakan.
Lebih jauh tentang krisis elektoral, menurut Eep, demokrasi Indonesia sedang berada di ujung jurang. Pasalnya, Jokowi menghidupkan kembali Orde Baru di Tanah Air.
Di bawah kepemimpinan Jokowi, ternyata tidak dibutuhkan waktu selama 32 tahun untuk bertindak semena-mena. Jokowi hanya butuh waktu sembilan tahun dan satu bulan untuk semane-mena di Indonesia.
Praktik kekuasaan seperti ini harus segera dihentikan agar demokrasi yang sudah dibangun dengan susah payah tidak mengalami putar balik ke titik nol.
Salah satu caranya adalah dengan mengalahkan pasangan yang didukung Jokowi pada Pemilu 2024 yaitu Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
Menurut Eep, pasangan Prabowo-Gibran sangat bisa dikalahkan. Sebab menurut survei di 32 provinsi yang dilakukan lembaganya, elektabilitas Prabowo-Gibran tidak setinggi hasil survei nasional oleh lembaga-lembaga survei yang akhir-akhir ini.
Menurut survei yang dilakukan lembaga milik Eep, Polmark Indonesia, elektabilitas Prabowo-Gibran tidak mencapai 40 persen. Sementara elektabilitas Ganjar Pranowo-Mahfud MD dan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar berada di atas 20 persen.
Berdasarkan data tersebut, Eep sangat yakin Pilpres 2024 akan berlangsung dalam dua putaran. Dan, Eep sangat yakin pula bahwa pasangan dukungan Jokowi ini bisa dikalahkan baik di putaran pertama maupun putaran kedua.
Adapun survei itu dilakukan di 32 provinsi dengan total responden setiap provinsi sebanyak 1.200 orang. Jadi total responden pada survei ini mencapai 38.400. Enam provinsi yang tidak disurvei adalah provinsi-provinsi yang ada di Tanah Papua.
Yang terpenting, kata dia, adalah hilangkan kata pesimisme dari kamus hidup rakyat Indonesia.
Cara lain untuk mengoreksi Jokowi adalah dengan cara memakzulkannya. Namun saat ini upaya itu tidak dilakukan karena akan mengganggu pemilu.
Sebab bila terjadi gangguan pada pemilu, Jokowi akan memutuskan menunda pemilu dan ini sejalan dengan keinginan lamanya memperpanjang masa jabatan.
Namun begitu, Eep yakin, partai-partai politik di DPR akan mulai melakukan upaya pemakzulan ini setelah Pilpres putaran kedua sebelum dia resmi lengser pada Oktober 2023. Upaya ini dilakukan sebagai pembelajaran kepada Jokowi.
Apalagi komposisi DPR saat ini 55 persen sudah berada di luar koalisi pendukung Jokowi yaitu PDI Perjuangan, PPP, Nasdem, PKB, dan PKS. Koalisi pendukung Jokowi di DPR hanya tersisa 45 persen yaitu Partai Gerindra, Golkar, Partai Demokrat, dan PAN.
Padahal, sebelum penetapan pasangan Capres-Cawapres untuk Pilpres 2024, 81 persen dari total kursi di DPR adalah pendukung Jokowi. Sekarang hanya tersisa 45 persen. (Gema)